Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Sinopsis Jumong Episode 23

pada 14 Maret 2010


“Ayah kandung Pangeran bukanlah Raja Geum Wa, melainkan Jenderal Hae Mo Su.” kata Yeo Mi Eul pada Jumong.
Jumong sangat terkejut.
Yeo Mi Eul menceritakan saat dulu ia menyarankan pada Raja Bu Ru agar menjebak dan membunuh Hae Mo Su. Lalu ketika Hae Mo Su yang ia pikir sudah mati, kembali lagi ke BuYeo dan Yeo Mi Eul mengurungnya di dalam penjara gua.
Yeo Mi Eul berlutut di hadapan Jumong. “Semua itu adalah dosa yang telah kuperbuat pada Jenderal Hae Mo Su dan Pangeran.” katanya, menangis. “Jika Pangeran ingin membunuhku, aku akan menerima hukuman tersebut dari Pangeran.”
Jumong terlalu shock hingga tidak bisa berkata-kata. Ketika Yeo Mi Eul sudah pergi, ia berdiri sendirian di tepi tebing. Suara Hae Mo Su berkelibat di pikirannya.
“Apa kau tahu senjata apa yang paling kuat di dunia ini?” ia teringat Hae Mo Su pernah berkata. “Bukan senjata baja, melainkan keinginan untuk bertarung sampai mati.”
Jumong meneteskan air mata.
“Aku pernah berjanji pada seorang wanita bahwa aku akan menjaganya seumur hidupku.” Hae Mo Su pernah berkata. “Tapi aku gagal. Kau tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Jika kau tidak bisa melindungi seseorang yang ada disisimu, bagaimana kau bisa melindungi rakyatmu?”
Jumong menangis.
“Ayah… Ayah… Ayah…” Jumong seakan menemukan kembali dirinya dalam keterkejutannya, dan berteriak, “Ayah!!!”

Jumong kembali ke istana. Di sana, ia melihat kedua kakaknya dengan pandangan penuh kemarahan. Merekalah yang telah membunuh Hae Mo Su.

Jumong murung. Yoo Hwa cemas melihatnya.
“Wajahmu terlihat pucat.” kata Yoo Hwa. “Apa yang terjadi?”
“Bagaimana ibu bertemu dengan ayah?” tanya Jumong, tidak menjawab pertanyaan Yoo Hwa.
“Bukankah aku sudah pernah bilang? Saat klan HaBaek dihancurkan oleh Han, ayahmu menyelamatkan aku.”
“Kenapa klan HaBaek dihancurkan oleh Han?” tanya Jumong.
Yoo Hwa terdiam. “Aku akan menceritakan padamu nanti.”
“Sebelum ibu bertemu ayah, apa ada seseorang yang ibu sukai?” tanya Jumong.
Yoo Hwa tersenyum. “Kenapa tiba-tiba kau bertanya hal ini?”
“Tidak apa-apa.” kata Jumong, kecewa.

Jumong kemudian berkunjung ke kamar Geum Wa. Saat melihat ayahnya itu, ia teringat kata-kata Yeo Mi Eul.
“Jangan pernah percaya pada Raja Geum Wa.” kata Yeo Mi Eul. “Walaupun sekarang ia mendukungmu, ia bisa saja berbalik melawanmu karena kalian tidak memiliki ikatan darah.” “Jangan berkata seperti ini!” seru Jumong. “Pangeran, siapa yang telah membunuh Jenderal Hae Mo Su? Pangeran Dae So dan Young Po, bukan? Raja tahu tentang hal ini. Tapi tidak memberikan hukuman apapun pada putranya. Itu karena mereka adalah putra kandungnya.”
Geum Wa meminta Jumong agar jangan terlalu lama tinggal bersama para pedagang GyehRu karena ia adalah seorang Pangeran dan harus membantu urusan istana.
Setelah perbincangan singkat dengan Geum Wa tesebut, Jumong memohon diri untuk pergi.

Banyak sekali masalah yang harus diselesaikan oleh Jumong. Setelah pergi dari istana, Jumong dan ketiga kawannya mendatangi Do Chi dan meminta Do Chi mengembalikan Bu Young. Tentu saja Do Chi menolak.
Oyi menjadi hilang kendali dan menyerang Do Chi, namun Ma Ri dan Hyeopbo menahannya.
Mendadak Young Po masuk. Ia mengatakan pada Jumong, “Mundur dari kompetisi Putra Mahkota, maka aku akan melepaskan Bu Young.”
Jumong terdiam. Melihat Young Po benar-benar membuatnya marah. Ia mengepalkan tangannya dengan kencang.

Young Po memberi waktu bagi Jumong untuk berpikir. Ma Ri dan Hyeopbo berteriak-teriak marah mencaci Young Po. Mereka meminta Jumong agar tidak memikirkan hal ini dan jangan mundur dari kompetisi Putra Mahkota.
Jumong hanya diam. Oyi memandangnya dan berkata pelan, “Jika Pangeran mundur dari kompetisi ini, aku yakin Bu Young tidak akan setuju.”

Setelah mendengar rencana Young Po dari Do Chi, Bu Young berniat bunuh diri. Ia tidak ingin menjadi beban bagi Jumong. Namun tentu saja Do Chi menjaganya dengan baik sehingga Bu Young tidak bisa berbuat apa-apa.

“Apa kau sudah memikirkannya?” tanya Young Po pada Jumong saat mereka berada di istana.
“Aku akan melakukan yang kakak minta.” kata Jumong tenang. “Aku akan menghadap Yang Mulia. Jadi, kuharap kakak cepat membebaskan Bu Young.”
Young Po tertawa senang. “Jangan berani menceritakan hal ini pada Yang Mulia. Ingat, Bu Young masih ada di tanganku.”

Jumong menghadap Geum Wa untuk memberi tahu bahwa ia mundur dari kompetisi Putra Mahkota. Geum Wa, juga semua pejabat sangat terkejut.
“Apa alasanmu?” tanya Geum Wa.
“Sejak awal, seharusnya aku memang tidak mengikuti kompetisi ini. Aku tidak punya kemampuan apa-apajika dibandingkan dengan kedua kakakku. Sejak dulu, kedudukan Putra Mahkota selalu jatuh pada putra sulung. Jika aku melanjutkan kompetisi ini, aku takut akan terjadi kebimbangan pada semua orang. Yang Mulia, tolong penuhi keinginanku.”
“Sejak dimulainya kompetisi ini, kau sudah menunjukkan perkembangan yang sangat besar. Kenapa kau ingin menyerah begitu saja?” ujar Geum Wa. “Aku sangat kecewa padamu.”
“Maafkan aku.”

Yoo Hwa sangat marah dan kecewa atas keputusan yang dibuat oleh Jumong. Namun wajah Jumong tidak menunjukkan ekspresi apa-apa selain kemurungan dan kesedihan.
“Tolong beritahu aku sekarang, kenapa klan HaBaek dihancurkan?” tanya Jumong. “Tujuan apa yang ibu ingin aku capai? Tolong beritahu aku.”
“Jumong…”
“Jenderal Hae Mo Su adalah ayahku, apa itu benar?” tanya Jumong.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Yoo Hwa sedih.
“Kenapa ibu tidak katakan lebih awal padaku?!” seru Jumong, menangis. Hatinya dipenuhi rasa bersalah. “Ayahku dikurung di dalam penjara di penjara tanpa sinar matahari selama 20 tahun, sementara aku… sejak kecil yang aku lakukan hanyalah bermain-main dengan gadis-gadis istana. Aku menghabiskan hidupku dengan sia-sia bertahun-tahun!”
Jumong menangis, menatap ibunya. “Aku bahkan tidak sempat sekalipun memanggilnya Ayah… dan aku membiarkannya mati dengan tragis… Apa yang harus aku lakukan?! Mati pun tidak akan bisa menebus dosaku. Apa yang harus aku lakukan dengan penyesalan ini?!”
Yoo Hwa menangis.
Setelah menenangkan diri, Yoo Hwa menceritakan segalanya mengenai awal pertemuannya dengan Hae Mo Su, sampai akhir pertemuannya dengan Hae Mo Su.

Keputusan Jumong untuk mundur dari kompetisi membuat berbagai pihak merasa terkejut. So Seo No ingin mengkonfirmasi pada Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo alasan yang membuat Jumong memutuskan hal tersebut.
Hyeopbo bilang padanya bahwa semua ini dilakukan oleh Pangeran Jumong demi menyelamatkan Bu Young.
“Apakah gadis itu sangat penting untuk Pangeran?” tanya So Seo No.
“Kelihatannya Pangeran memang menyukai Bu Young.” jawab Ma Ri. “Tapi kami tidak tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya. Nona, lebih baik kau tanya langsung padanya.”
So Seo No hampir menangis.

Begitu dibebaskan, Bu Young segera berlari ke rumah GyehRu untuk bertemu dengan Jumong. Namun Jumong tidak ada disana.
“Ini semua karena aku.” kata Bu Young pada Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo, menangis. “Aku pantas mati.”
So Seo No melihat mereka dari jauh.

Dae So sama sekali tidak tahu bagaimana cara Young Po menekan Jumong untuk mundur dari kompetisi. Ia bertanya pada Young Po dan Young Po menjelaskan segalanya.
“Mundur dari kompetisi Putra Mahkota hanya demi seorang gadis?” gumam Dae So. Ia merasa curiga. Mungkin ada alasan Jumong yang lain yang tidak ia ketahui.

Merasa menang atas Jumong, Young Po mulai menunjukkan ancamannya pada Mo Pal Mo. Ia memaksa Mo Pal Mo memberitahu rahasia metode pembuatan senjata baja, namun Mo Pal Mo tidak menjawab, karena memang ia belum menemukan rahasia metode tersebut.

Geum Wa bertanya pada Yoo Hwa, apa alasan sebenarnya Jumong mundur dari kompetisi Putra Mahkota. “Aku tidak percaya pada alasan yang ia kemukakan.” kata Geum Wa.
“Dia juga tidak memberi tahu aku alasan yang lain.” kata Yoo Hwa, berbohong.

Setelah menghilang selama beberapa saat, akhirnya Jumong kembali ke rumah GyehRu.
“Pangeran, aku merasa sangat bersalah. Aku merasa ingin mati.” kata Bu Young paa Jumong.
Jumong menenangkannya. “Alasan aku mundur dari kompetisi ini bukan karena kau.” kata Jumong. “Tapi karena aku tidak memiliki alasan lagi untuk bersaing. Jadi, jangan cemaskan aku.”

Setelah bicara dengan Jumong, Oyi menemui Bu Young.
“Bu Young, menikahlah denganku.” kata Oyi.
Bu Young terkejut.
“Aku tidak ingin melihatmu menderita lagi. Aku akan melindungimmu. Aku juga akan menjaga adik-adikmu.” kata Oyi.
Bu Young tersenyum.

Ma Ri dan Hyeopbo mendengar pembicaraan mereka dan datang untuk mendukung Oyi.

Malam itu, So Seo No berdiri depan kamar Jumong. Tidak seperti biasanya, malam ini Jumong hanya duduk diam dan menunduk. So Seo No sedih melihatnya. Ia tahu pasti ada hal yang membuat Jumong sangat tertekan. Namun ia tidak ingin mengganggu Jumong dengan pertanyaan-pertanyaan. Oleh karena itu, ia berbalik pergi.

Ketika Jumong dan kawan-kawannya sedang berkumpul, Gye Pil masuk ke ruangan Jumong dan mengantarkan sebuah surat dari Bu Young.
Jumong membuka dan membaca surat tersebut. “Pangeran, aku membawa adik-adikku dan pergi dari BuYeo. Aku merasa salah karena orang rendah seperti aku berani menyimpan Pangeran di dalam hatiku. Aku tidak sanggup melihatmu untuk terakhir kalinya. Tolong maafkan aku. Aku juga ingin meminta maaf pada Oyi, Ma Ri dan Hyeopbo karena tidak bisa menerima kebaikan mereka. Sampai mati, aku akan selalu berdoa untuk Pangeran.”
Mendengar kepergian Bu Young, Oyi segera berlari untuk mencarinya.
“Bu Young! Bu Young!” teriak Oyi, menangis. “Bu Young!!!”

So Seo No sangat sedih melihat Jumong sedih. Ia berbaring karena lelah berpikir. Tiba-tiba terdengar suara, “Nona, ini Jumong.”
So Seo No bangkit dari tidurnya dan buru-buru melihat cermin untuk merapikan dandanannya. Setelah itu, ia mencoba tenang dan mempersilahkan Jumong masuk.
“Ada apa?” tanya So Seo No.
“Nona, aku ingin bicara suatu hal padamu.” kata Jumong.
“Kalau kau ingin bilang bahwa kau mundur dari kompetisi Putra Mahkota karena seorang gadis bernama Bu Young, kau tidak perlu mengatakan apa-apa.” kata So Seo No. “Kau sudah menyelamatkan sebuah nyawa.”
Jumong hampir tersenyum. “Nona, aku ingin meninggalkan BuYeo.”
So Seo No terkejut. “Kenapa? Apa ada masalah?”
“Saat ini, aku tidak bisa berkata apapun.” jawab Jumong. Ia mengeluarkan sebuah cincin yang dikalungkan dengan tali di lehernya, kemudian menyerahkan cincin tersebut pada So Seo No.
So Seo No menatap Jumong dengan bingung.
“Walaupun aku hanya pergi untuk sementara, tapi di hatiku, aku ingin memberikan cincin ini kepada Nona sebelum aku pergi.” kata Jumong.
So Seo No menerima cincin itu.

sumber:(terimah kasih dan kredit untuk

http://princess-chocolates.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: