Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Sinopsis Jumong Episode 26

pada 16 Maret 2010

Geum Wa mengadakan pertarungan percobaan antara pedang BuYeo dan pedang buatan pandai besi Han. Pedang buatan BuYeo dipakai oleh Na Ru sementara pedang buatan pandai besi Han dipakai oleh Dae So.
Dae So berhasil mematahkan pedang BuYeo yang dipakai Na Ru. Semua orang menatap kagum dan senang, kecuali Mo Pal Mo. Ia merasa sangat bersalah dan kecewa karena telah gagal menciptakan sebuah pedang seperti milik Han.
Young Po juga kesal. Ia merasa Dae So mengalahkannya lagi.

Para pandai besi mendapat perlakuan istimewa di bengkel BuYeo. Mo Pal Mo melihat mereka dari jauh.
“Apa gunanya harga diri?” gumam Mo Pal Mo pada dirinya sendiri. Ia menyimpan semua harga diri yang dimilikinya dan bertanya pada pandai besi Han, apa rahasianya bisa membuat pedang seperti itu begitu spesial.
“Jika kami memberi tahu rahasianya, maka tidak akan spesial lagi.” kata ketua pandai besi Han seraya tertawa mengejek bersama teman-temannya.
Mo Pal Mo berbalik dengan sedih dan kecewa. Ia merasa tidak ada gunanya dia menjadi ketua bengkel pandai besi.
Pengawal pribadi Geum Wa datang. Ia membawa sebuah arak dari Geum Wa untuk Mo Pal Mo. Ia berkata bahwa arak tersebut diberikan oleh Yang Mulia sebagai penghargaan atas kerja keras Mo Pal Mo selama ini.
Mo Pal Mo merasa sangat sedih dan menangis.

Permaisuri Wan Ho dan Dae So sangat senang, merasa bahwa mereka sudah menang dan berada di atas angin.
Dilain pihak, Young Po sangat kesal. Dia selalu kalah dari kakaknya. Semuanya sudah berakhir sekarang. Geum Wa pasti akan memilik kakaknya sebagai Putra Mahkota.
“Sebenarnya apa kelemahan kakak?” curhatnya pada Do Chi. “Tak peduli sekeras apa aku mencoba, aku tidak bisa menemukan kelemahannya.”
“Pikirkan baik-baik, Pangeran.” kata Do Chi. “Pangeran Dae So punya kelemahan. Dan kelemahannya adalah Pangeran Jumong.”
“Jumong?!” seru Young Po, berpikir. “Benar. Jumong. Karena Jumong sudah mundur dari kompetisi, maka aku bisa menggunakan Jumong untuk menghentikan kakak.”

Ketika So Seo No dan Yeon Ta Bal kembali ke BuYeo, mereka mendengar perbuatan yang dilakukan Young Po pada kediaman mereka.
“Raja pasti sudah melihat laporan yang tidak kita berikan padanya.” kata Sayong.
“Aku bisa memberi penjelasan pada Geum Wa, tapi aku tidak tahu apakah dia akan melepaskan kita begitu saja.” kata Yeon Ta Bal, berpikir.
“Aku yang akan menyelesaikan masalah ini.” kata So Seo No.

So Seo No pergi ke istana untuk menemui Dae So. Dae So terkejut mendengar kedatangan So Seo No. Ia kemudian mempersilahkan So Seo No duduk.
“Ada apa?” tanya Dae So.
“Ketika aku dan ayahku pergi ke Hyeon To, Pangeran Young Po datang ke kediaman kami dan mengambil semua dokumen-dokumen penting.” So Seo No melaporkan.
“Young Po?!”
“Pangeran Young Po mengatakan bahwa dia sedang mencari mata-mata dari Han. Aku tidak tahu kenapa dia menghina klan kami sementara kami selalu membantu BuYeo.”
“Benarkan Young Po melakukan itu?!” seru Dae So marah.
“Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya sendiri padanya.”
“Aku mengerti. Aku akan menyelesaikan masalah ini.” janji Dae So.

Dae So mencari Young Po.
“Kenapa kau melakukan itu?!” bentak Dae So pada Young Po. “Tidakkah kau tahu bahwa kelompok Yeon Ta Bal selalu membantuku?! Kudengar kau mencari mata-mata Han, jadi apa kau menemukannya?!”
Young Po menjelaskan pada kakaknya bahwa Yeon Ta Bal tidak memberi informasi pada Yang Mulia tentang kedatangan ahli persenjataan Han. Padahal seharusnya Yeon Ta Bal tahu bahwa informasi seperti itu sangat penting untuk BuYeo. “Jika dia menyerahkan informasi ini pada musuh, maka BuYeo akan berada dalam bahaya.” kata Young Po tidak mau kalah. “Dia tidak ada bedanya dengan mata-mata!”
Dae So membela Yeon Ta Bal. “Jika semua orang yang mengetahui situasi politik di BuYeo adalah mata-mata, maka kurasa semua pejabat di istana adalah mata-mata! Bagaimana kau bisa bersaing denganku untuk memperebutkan posisi Putra Mahkota dengan pemikiran yang sempit seperti itu?!” Dae So membentak Young Po.
“Kakak!”
“Karena kau sudah membuat masalah ini, kau harus menyelesaikannya sendiri!” seru Dae So. “Jika hal seperti ini terulang lagi, aku tidak akan memaafkanmu!”

Jumong dan ketiga kawannya telah sampai di BuYeo. Jumong langsung menuju istana sementara Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo langsung menuju rumah pedagang GyehRu.
Orang pertama yang ditemui Jumong adalah ibunya, Yoo Hwa. Ia bercerita bahwa ia melakukan perjalanan ke Hyeon To, Jinbun dan Imdun.
“Aku bertemu dengan para pengungsi.” kata Jumong. “Aku melihat sendiri, mereka sangat menderita dan harapan mereka lenyap, seiring dengan lenyapnya Pasukan Da Mul. Mulai sekarang, aku akan menjadi harapan mereka, sama seperti ayah.”
Yoo Hwa mengangguk.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo tiba di rumah GyehRu. Gye Pil senang sekali melihat mereka.
“Lihat, kalian masih hidup!” seru Gye Pil. “Melihat kalian pulang dengan selamat, sungguh keberuntungan!”
“Kami masih punya banyak pekerjaan, jadi kami tidak bisa mati walau ingin.” kata Oyi bercanda.
“Benar, benar!” seru Hyeopbo setuju.

So Seo No senang mendengar Jumong sudah kembali dengan selamat. Ia diam di kamarnya seorang diri. Sayong masuk.
“Nona, apa kau tahu kalau Pangeran Dae So membawa pandai besi dari Han?” tanya Sayong. “Walaupun tidak sebaik pedang Han, tapi masih lebih baik dari pedang BuYeo.”
“Apa?!” So Seo No terkejut. Ia berpikir sejenak. “Aku mengerti sekarang, alasan Pangeran Dae So pergi ke Hyeon To. Dia membuat kesepakatan dengan Yang Jung. Aku yakin Pangeran Dae So pasti memberi Yang Jung sesuatu sebagai gantinya. Sayong, kirim pesan pada pedagang kita di Hyeon To untuk mencari tahu.”

Jumong berkunjung ke ruangan Geum Wa. Di saat yang sama, Dae So juga hendak berkunjung, namun karena mengetahui bahwa Jumong sedang bersama Geum Wa, ia menunggu di luar.
Geum Wa menceritakan pengalamannya ketika bertarung bersama Hae Mo Su.
“Saat itu aku hanyalah orang yang tidak tahu apa-apa soal kerasnya hidup. Namun hidupku berubah sejak bertemu dengan Hae Mo Su. Ia membuatku menyadari hal apa yang harus aku lakukan dan bagaimana aku harus menjalani hidup. Jumong, aku tahu kau sangat bingung saat ini. Tapi satu hal pasti, walaupun aku dan Hae Mo Su tidak punya ikatan darah, tapi hubungan kami melebihi saudara dan kami selalu berbagi hidup bersama. Dan, walaupun kau adalah darah daging Hae Mo Su, tapi kau adalah anak yang kubesarkan dengan tanganku sendiri.”
“Aku tidak akan pernah bisa membalas semua kebaikan yang Yang Mulia berikan padaku dan ibu.” kata Jumong. “Tapi, jika aku berpikir bahwa ayahku pernah dikurung selama 20 tahun dan bagaimana ia dibunuh dengan kejam, aku benar-benar tidak bisa menerimanya.”
Geum Wa terpukul mendengarnya.
“Yang Mulia, katakan padaku.” Jumong melanjutkan. “Apakah ayah melakukan kejahatan yang begitu besar sehingga ia pantas dibunuh dengan brutal oleh kedua kakakku? Apakah kau pikir ayah benar-benar akan membahayakan masa depan BuYeo setelah apa yang dia lakukan untuk para pengungsi? Tolong jelaskan padaku.”
Geum Wa tidak bisa menjawab.
“Aku..” Jumong berkata dengan sorotan mata penuh kemarahan. “tidak bisa memaafkan Dae So dan Young Po. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka.”
Jumong memohon diri untuk pamit. Ketika ia keluar, ia berhadapan dengan Dae So.
Dae So mengatakan pada Jumong bahwa jika ia menjadi Putra Mahkota, ia akan membiarkan Jumong melakukan apapun yang disuka.
Dengan dingin Jumong menjawab bahwa dialah yang memilih jalannya sendiri, jadi Dae So tidak perlu ikut campur.

Keesokkan harinya, Jumong mengatakan pada Yeon Ta Bal dan So Seo No bahwa ia akan kembali ke istana. Ia berterima kasih dan berjanji akan membalas segala kebaikan hati Yeon Ta Bal dan klannya.
Setelah itu, Jumong menemui Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo. Ia mengatakan bahwa ia akan memanggil mereka bertiga ke istana secepatnya.
Ma Ri dan Hyeopbo sangat sedang, namun Oyi kelihatan cemas. Ia tidak suka tinggal di istana karena pasti akan banyak peraturan yang harus dipatuhi.
“Benar kata Oyi.” ujar Jumong. “Hidup di istana lebih sulit daripada hidup di jalan. Tapi aku butuh bantuan kalian. Tolong bersabar demi aku.”

Secara formal, Jumong menemui Geum Wa dan memutuskan untuk kembali.
Geum Wa sangat senang, namun tidak demikian halnya dengan para pejabat. Mereka berpandangan dengan cemas.
Geum Wa tersenyum. Ia mengatakan bahwa ia akan memberi Jumong sebuah tugas.
Geum Wa berpikir sejenak, lalu berkata, “Aku akan memberi Pangeran Jumong kewajiban untuk memimpin para pengawal.”
Semua orang terkejut. Posisi itu biasanya diberikan pada orang yang benar-benar mendapat kepercayaan dari Raja. Posisi itu sama halnya dengan menjadi tangan kanan Raja.
Geum Wa memiliki maksud tersembunyi kenapa ia memberi posisi tersebut pada Jumong. Dengan diam-diam, Geum Wa memberi tugas rahasia, yakni melaporkan hal-hal yang sedang terjadi di dalam dan luar istana.
Saat berbincang berdua dengan Jumong, Geum Wa mengatakan alasan kenapa dia tidak bisa menghukum Dae So adalah karena ia merasa dirinyalah yang bersalah karena tidak bisa melindungi Hae Mo Su.
“Orang yang telah membunuh Hae Mo Su bukanlah Dae So, melainkan aku.” katanya. “Jadi lampiaskan kemarahanmu padaku. Aku tidak ingin melihat kalian sebagai saudara, saling memendam kemarahan.”

Young Po mulai mendekati Jumong dengan tujuan untuk menjatuhkan Dae So. Ia mengatakan pada Jumong bahwa jika Jumong butuh bantuan dengan tugasnya, maka ia pasti akan membantu Jumong.

Jumong mengumpulkan semua pengawal istana di depan aula istana. Ia juga mengangkat Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo sebagai pengawal.
Para pengawal ragu akan kemampuan Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo. Oleh karena itu, ia meminta Oyi bertarung dengan salah satu pengawal untuk menunjukkan kemampuannya.
Oyi berhasil menang.
“Hal yang paling penting yang aku cari dari kalian adalah kemampuan bela diri.” kata Jumong menjelaskan. “Siapapun yang tidak memenuhi standar akan dikeluarkan. Mulai saat ini, kalian semua akan menjalani latihan keras dalam pertarungan pedang, memanah dan duel. Kalian adalah pelindung Raja, jadi kalian harus menjadi prajurit terbaik di BuYeo! Kalian mengerti?!”
“Ya!”

Jumong mulai melatih para pengawal. Mulai dari memanah, dan berpedang.

Jumong berkunjung ke bengkel pandai besi untuk mencari Mo Pal Mo, namun ia tidak ada di sana. Mo pal Mo sangat frustasi. Yang ia kerjakan sepanjang hari hanyalah bersedih dan mabuk-mabukkan.
“Mo Pal Mo.” panggil Jumong, membangunkan Mo Pal Mo yang tertidur.
“Pangeran!” seru Mo Pal Mo, ia menangis melihat Jumong. Ia berkata bahwa tidak ada gunanya lagi bekerja di bengkel pandai besi. Ia ingin keluar.
“Ketua, aku sangat membutuhkanmu.” kata Jumong menenangkan.
“Pangeran, aku tidak punya kemampuan untuk membantumu.” kata Mo Pal Mo sedih. “Para andai besi Pangeran Dae So sudah mengambil alih bengkel, dan mereka tidak mengajari kami teknik pembuatan pedang. Bagaimana aku bisa membantumu?” Mo Pal Mo berkata itu sambil menangis dan menutupi wajahnya.
“Pergilah ke bengkel pandai besi di GyehRu. Temukan rahasia pembuatan senjata di sana.” kata Jumong menyarankan.

So Seo No mengantarkan Mo Pal Mo ke bengkel GyehRu di Jolbon. Sesampainya di sana, ia menunjukkan bengkel pandai besi yang dimiliki GyehRu.
Mo Pal Mo berjanji akan menemukan metode rahasia sehingga bisa membantu Pangeran Jumong.
Sayong memberikan sampel pedang Han pada Mo Pal Mo. Siapa tahu bisa membantu.

Para pemimpin klan Jolbon berkumpul dan bicara dengan So Seo No. Mereka protes, apa yag dilakukan Yeon Ta Bal berlama-lama di BuYeo.
So Seo No meyakinkan mereka bahwa Yeon Ta Bal bukan hanya berdagang untuk mencari keuntungan semata. Ia juga berhasil membuat bengkel di GyehRu serta membawa ketua bengkel pandai besi BuYeo untuk memecahkan rahasia pembuatan senjata baja di sana. Semua ini dilakukan Yeon Ta Bal untuk melindungi Jolbon dari serangan musuh.

Jumong sangat bersemangat melatih para pengawal istana. Ia melatih mereka sampai malam tanpa beristirahat.

“Yang Mulia, bukankah sudah saatnya bagimu untuk memilih Putra Mahkota?” tanya Yoo Hwa pada Geum Wa. “Jangan sampai Yang Mulia salah mengambil tindakan. Berdasarkan pengelihatanku, Yang Mulia sedang berada dalam situasi berbahaya. Kau menurunkan Yeo Mi Eul untu melindungi kekuasaanmu, namun ketika kekuasaan Kuil Ramalan meredup, muncul kekuatan yang lain.”
“Siapa mereka?” tanya Geum Wa. “Katakan padaku.”
“Permaisuri dan saudara-saudaranya.” jawab Yoo Hwa. “Permaisuri, Menteri Gong Jong dan kepala klan Maga dari Sa Chul Do akan berusaha mengambil alih istana. Peramal Ma Oo Ryeong juga merupakan boneka permaisuri.”

Para pejabat membuat petisi pada Geum Wa agar segera menetapkan siapa yang akan menjadi Putra Mahkota. Namun Geum Wa meminta sedikit waktu lagi karena ia masih ingin memikirkan hal tersebut dengan baik.
Geum Wa, dengan didampini Jumong, keluar dari ruangan pertemuan. Dae So memanggilnya.
“Yang Mulia!” panggil Dae So.
“Ada apa?” tanya Geum Wa.
“Apa lagi yang kau ingin aku lakukan?” tanya Dae So dengan mata berkaca-kaca. “Apa lagi yang harus aku lakukan untuk mendapat pengakuanmu? Aku sudah melakukan semua yang aku bisa. Apa lagi yang harus aku lakukan untuk memenangkan kepercayaanmu?”
Dae So meneteskan air mata. “Tolong katakan padaku.”

sumber:(terimah kasih dan kredit untuk

http://princess-chocolates.blogspot.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: