Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Sinopsis Jumong Episode 29

pada 17 Maret 2010

“Beraninya mereka memenggal utusanku!” teriak Geum Wa marah. “Ini sama saja dengan mengarahkan pedang ke leherku! Sebelum menyerang Han, aku ingin mengambil kepala pemimpin SaChulDo! Jenderal, siapkan pasukan sekarang juga!”
“Tenanglah, Yang Mulia!” kata Perdana Menteri. “Jika terjadi konflik internal, maka hal ini akan membawa keruntuhan BuYeo!”
“Apa kau bisa tenang jika jadi aku?!” seru Geum Wa pada Perdana Menteri. Geum Wa sudah sangat marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya dengan penghinaan yang diterimanya ini. Para pejabat memintanya tenang dan memikirkan kembali keputusan yang telah dibuatnya.
Dae So tersenyum menang.

“Tanpa bantuan pasukan dari SaChulDo, kita tidak akan bisa berperang. Apakah perang benar-benar akan batal?” tanya Young Po pada Jumong. “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Jumong tidak menjawab.
“Tentu saja perang akan batal.” kata Dae So dari belakang mereka, dengan seringai kemenangan di wajahnya. “Cobalah untuk meyakinkan Yang Mulia. Aku ingin tahu keputusan apa yang akan diambilnya. Young Po, aku ingin bicara denganmu.”
Young Po cemas. “Aku?”
Dae So berjalan pergi, dan Young Po mengikutinya.
“Memimpin pasukan dan menghabisi Iron Army, katamu?!” seru Dae So. “Dasar bodoh! Ibu, para pejabat dan pemimpin SaChulDo menentang perang ini dan kau malah ingin berperang di baris depan?! Kau membiarkan Jumong memanfaatkanmu, bukan? Bagus sekali!”
Young Po mendengar perkataan kakaknya dengan kesal. “Bagaimana bisa kau mengatakan Jumong memanfaatkan aku?! Aku berkata akan berada di baris depan karena punya rencana.”
“Aku ingin tahu apa rencanamu. Cepat katakan padaku.” kata Dae So, seakan menganggap adiknya itu anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Emang betul sih..
“Aku ingin mengalahkan… Lupakan saja!” Young Po menahan kata-katanya.
“Aku akan menyelesaikan kata-katamu.” kata Dae So. “Kau ingin mengalahkan aku dengan memenangkan perang, bukan?”
Young Po tidak menjawab.
“Aku sudah cukup bersabar selama ini.” Dae So melanjutkan. “Bila kau melakukan kebodohan lagi, aku tidak akan memaafkanmu!”

Para pandai besi mendapat sebuah pesan. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu yang hal yang jahat.

Keesokkan harinya Jumong berkunjung ke ruangan Geum Wa.
“Jumong, menurutmu bagaimana aku harus menyelesaikan masalah ini?” tanya Geum Wa.
“Aku akan mengikuti apapun keputusan Yang Mulia.” jawab Jumong. “Aku bahkan bisa menyingkirkan pemimpin SaChulDo yang menentangmu. Ibu mengatakan padaku bahwa jika kau kehilangan pemimpin sekarang, maka kau akan kehilangan segalanya.”
“SaChulDo adalah dasar dari BuYeo.” kata Geum Wa. “Kekuatanku tidak berguna tanpa mereka. Aku butuh waktu untuk meyakinkan mereka.”

“Yang Mulia, jika kau melewatkan kesempatan ini saat berusaha meyakinkan para pemimpin, kau akan berada pada posisi yang tidak menguntungkan jika berperang.” kata Jumong. “Karena itu, buatlah keputusan secepat mungkin.

Jumong, Ma Ri dan Hyeopbo berjalan di kota. Di sana, mereka mengetahui bahwa gosip mengenai pemimpin SaChulDo yang memenggal kepala utusan Yang Mulia telah menyebar luar. Jumong berpikir bahwa mereka sengaja menyebar kabar itu untuk menekan Yang Mulia.
Ketika sedang berjalan, tiba-tiba tiga orang pria memanggil mereka. Tiga orang itu adalah para pengungsi yang pernah diselamatkan oleh Jumong dan kawan-kawan.
“Aku senang kalian selamat.” kata Jumong. “Dimana yang lainnya?”
“Kami menetap di sekitar JeoGa di BuYeo.” kata salah satu dari mereka. “Tapi ngomong-ngomong…” Ia melihat seragam yang dikenakan Jumong, Ma Ri dan Hyeopbo.
“Ini adalah Pangeran Jumong, Komandan Pengawal di BuYeo.” kata Ma Ri. “Sedangkan kami adalah Pengawal Yang Mulia.”
“Maafkan kami karena tidak mengenalimu.” kata pengungsi, membungkuk untuk meminta maaf.
Jumong tersenyum. “Tidak perlu minta maaf. Lalu, untuk apa kalian ke ibu kota?”
“Kami dengar BuYeo akan berperang dengan Jinbun dan Imdun. Kami disini untuk ikut berperang.”
Jumong terkejut.
“Aku tahu kami lemah. Tapi tolong berikan kami kesempatan untuk menyelamatkan para pengungsi.” kata pengungsi dengan penuh tekad.
“Kau!” tunjuk Hyeopbo pada seorang pemuda. “Apa kau kemari juga ingin ikut berperang? Tapi kau masih anak kecil.”
“Aku bukan anak kecil!” kata anak itu. “Aku bisa berperang! Izinkan aku berperang!”
“Anak ini… Kedua orang dibunuh oleh Iron Army. Ia ikut dengan kami kemari untuk membalaskan dendam kedua orang tuanya.” kata pengungsi sedih.
Tiba-tiba Oyi datang. “Komandan! Kau harus melihat disana!”
Oyi menunjukkan jalan. Di depan pintu gerbang istana BuYeom para pengungsi berbondong-bondong datang dan berteriak-teriak, “Izinkan kami bertemu Yang Mulia!”
Ma Ri panik dan bergegas ke depan gerbang. Di sana, penjaga gerbang berteriak-teriak menyuruh mereka pergi.
“Ada apa?” tanya Jumong pada penjaga gerbang.
“Mereka ingin bertemu dengan Yang Mulia.” jawab penjaga gerbang.
“Paman?” Hyeopbo melihat paman yang dulu memberinya papan Da Mul milik ayahnya.
Paman itu mengatakan alasan kenapa mereka ada di sana.

Jumong bergegas memanggil Geum Wa keluar.
“Yang Mulia, kau harus keluar untuk melihat sesuatu.” kata Jumong. “Pasukan Da Mul yang tinggal di berbagai wilayah BuYeo datang kemari dan meminta bertemu dengan Yang Mulia.”
“Da Mul?!” seru Geum Wa terkejut. Ia dan Jumong menuju gerbang.
Begitu Geum Wa muncul, para pengungsi itu bersujud. “Yang Mulia!” seru mereka.
“Namaku Man Ho dari Pasukan Da Mul, yang dulu berada di bawah pimpinan Jenderal Hae Mo Su dan Yang Mulia saat menyerang Hyeon To.” kata si Paman. “Kami berlari kemari secepatnya setelah mendengar bahwa Yang Mulia akan menyerang Jinbun dan Imdun untuk menyelamatkan para pengungsi GoJoSeon. Kami akan berdiri di barisan depan!”
“Kami akan berdiri di barisan depan!” seru pengungsi yang lain mengikuti.
“Yang Mulia, aku adalah pengungsi GoJoSeon yang melarikan diri dari Hyeon To dan sekarang tinggal di JeoGa di BuYeo.” kata pengungsi. “Tolong izinkan kami ikut serta dalam perang. Kami akan memberi hidup kami untuk menyelamatkan pengungsi GoJoSeon yang tersiksa dibawah Han.”
“Yang Mulia, kami Pasukan Da Mul, tidak takut bertarung sampai mati!” kata Man Ho. “Tapi kehormatan Pasukan Da Mul sudah lenyap setelah Jenderal Hae Mo Su tewas. Warga BuYeo sudah melupakan bahwa Pasukan Da Mul pernah ada. Yang Mulia, tolong berikan kesempatan pada kami untuk mengembalikan kehormatan Pasukan Da Mul. Tolong izinkan kami berperang!”
“Tolong izinkan kami berperang!”
Ini benar-benar adegan yang mengharukan. Aku sampai nangis. Hiks hiks…
“Aku sangat malu bertemu dengan kalian.” kata Geum Wa terharu, meneteskan air mata. “Karena aku merasa bersalah karena telah melipakan kalian selama bertahun-tahun. Maafkan aku karena tidak menjaga kehormatan Pasukan Da Mul.”
“Yang Mulia, semuanya belum terlambat.” kata Man Ho. “Kami akan mendampingimu dan mengembalikan kejayaan kita dahulu! Yang Mulia!”
“Yang Mulia!”
Jumong tersenyum, meneteskan air matanya karena terharu.

Geum Wa mengumumkan pada para pejabat bahwa ia akan berperang hanya dengan Pasukan Pusat Istana, tanpa bantuan Pasukan SaChulDo.
“Yang Mulia, bagaimana kita bisa menang melawan Han tanpa bantuan SaChulDo?” tanya Perdana Menteri. “Ini keputusan yang tidak logis. Tolong pikirkan kembali keputusan Yang Mulia!”
“Aku tidak cukup gegabah untuk pergi berperang pada peperangan yang tidak bisa aku menangkan.” kata Geum Wa. “Kita pasti akan menang. Aku akan melenyapkan siapa saja yang berani menentang perintahku!”
Para pejabat diam, tidak berani membantah lagi.
“Peramal Ma Oo Ryeong, bagaimana menurut Kuil Ramalan?” tanya Geum Wa.
Dengan terpaksa Ma Oo Ryeong berkata, “Aku mempercayai keputusan Yang Mulia dan akan berdoa pada langit untuk kemenangan Yang Mulia.”

Geum Wa memerintahkan Jenderal Heuk Chi untuk melatih dan menyiapkan pasukan. Sementara Jumong diperintahkan untuk menyebarkan pengumuman perekrutan sukarelawan perang.

Malam itu, beberapa pembunuh menyusup diam-diam ke dalam istana. Jumong secara kebetulan melihat mereka dan bergegas menemui Geum Wa.
“Yang Mulia, para pembunuh masuk ke istana! Kau harus segera pergi!” kata Jumong.
Geum Wa mengambil pedangnya dan keluar dengan dikawal Jumong dan Song Ju. Tapi jalan mereka dihadang oleh para pembunuh.
“Lindungi Yang Mulia!” perintah Jumong pada Song Ju.
Jumong maju dan melawan para pembunuh.
“Yang Mulia, kau harus segera pergi!” kata Song Ju.
Geum Wa tidak mendengarkan. Ia malah mengeluarkan pedangnya dan ingin ikut bertarung. Ia membantu Jumong melawan para pembunuh.
Akhirnya Jumong berhasil menghabisi semua pembunuh.
Dae So, Young Po, Ma Ri, Oyi, Hyeopbo dan beberapa pengawal lain berlari berdatangan dengan cemas. “Yang Mulia, kau tidak apa-apa?”
Geum Wa memerintahkan Jumong untuk membuka penutup wajah para pembunuh. Jumong membukanya satu per satu.
“Mereka adalah para pandai besi.” kata Jumong.
Geum Wa menoleh, menatap tajam pada Dae So.

Kericuhan terjadi di istana. Para pejabat dengan cemas berdatangan ke depan ruang pertemuan. Dae So berlutut di sana.
“Jika kau berbohong padaku, kau tidak akan bisa lolos dari kematian.” kata Geum Wa.
“Yang Mulia, aku juga tidak mempercayai hal ini.” kata Dae So, membela diri. “Bagaimana aku tahu bahwa para pandai besi itu adalah pembunuh?”
“Mereka bukan pengungsi dari GoJoSeon yang lari dari Hyeon To.” kata Geum Wa. “Mereka adalah pandai besi yang dikirim oleh Yang Jung.”
Dae So tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Apa alasanmu berbohong padaku?”
“Yang Mulia, aku hanya ingin membuat BuYeo menjadi negara yang kuat.” jawab Dae So.
“Mereka ingin membunuhku!” teriak Geum Wa marah besar. “Bagaimana bisa kau berkata sesuatu tentang membuat negara yang kuat?! Apakah memohon pada Yang Jung adalah hal terbaik yang bisa kau lakukan?!”
Dae So tidak bisa menjawab.
“Keinginanku bukanlah membuat kita dilengkapi dengan persenjataan baja yang kuat, melainkan kita bertarung melawan musuh kita dengan harga diri yang tinggi!” seru Geum Wa. “Apakah sekarang kalian semua bisa melihat motif sesungguhnya dari Han dan Yang Jung?! Mereka mengirimkan putri Gubernur untuk perdamaian, tapi dibaliknya, mereka merencanakan ingin membunuhku dan menghancurkan BuYeo! Apakah kalian masih berpikir bahwa aku tidak seharusnya menyerang Jinbun dan Imdun?!”
Para pejabat tidak bisa berkata-kata.
Geum Wa kemudian memerintahkan Jumong agar mengurung Dae So dan menyelidiki hubungan Dae So dengan Yang Jung serta para pandai besi dari Han.
Dae So melirik Jumong dengan marah.

Yeon Ta Bal mengirimkan surat pada Yeo Mi Eul yang mengatakan Raja Geum Wa diserang oleh pembunuh.
“So Ryeong, mimpimu benar. Raja Geum Wa diserang oleh pembunuh.” kata Yeo Mi Eul.
So Ryeong terkejut. “Tapi ini bukanlah pertanda buruk.”
“Benar.” Yeo Mi Eul menyetujui. “Raja Geum Wa dan Pangeran Jumong menjadi lebih kuat karena hal ini.”

Di bengkel pandai besi GyehRu, Mo Pal Mo mengatakan bahwa ia sedang membuat sesuatu yang hebat yang bisa membuat Mu Song terkejut.
“Ini adalah rahasia besar yang bahkan tidak bisa aku katakan pada GyehRu.” kata Mo Pal Mo.

“Rahasia?!” tanya Mu Song.

Jumong menginterogasi Dae So dan menanyakan padanya perihal hubungannya dengan Yang Jung. Tentu saja Dae So tidak mau mengaku.
“Aku hanya membawa mereka sebagai pandai besi!” jawab Dae So marah.
Apapun yang ditanyakan Jumong, Dae So tidak mau mengakui apapun. Ia marah-marah dan berteriak pada Jumong. Dengan tenang Jumong menyuruh Dae So untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf Yang Mulia. Sabar amat nih Jumong ngadepin orang kayak Dae So.
Jumong keluar. Begitu berjalan keluar, ia bertemu dengan Wan Ho.
Wan Ho menatap Jumong dengan pandangan marah dan benci. “Aku ingin bertemu dengan Dae So.” katanya pada Jumong.
“Anda tidak bisa bertemu dengannya.” kata Jumong tenang.
“Pergi dari hadapanku!” kata Wan Ho.
“Tolong kembalikah.” Jumong meminta dengan sopan dan tenang.
“Beraninya kau!” Wan Ho maju dan menampar Jumong.
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo melihat dengan terkejut dan marah.
“Aku tidak bisa membiarkanmu masuk.” Jumong tetap berkata dengan tenang.
“Tunggu dan lihat saja!” ancam Wan Ho. “Hari akan datang, saat kau dan ibumu bersujud dihadapanku dan memohon agar aku menolongmu.”
Wan Ho berbalik dan pergi.

Wan Ho kemudian menemui Geum Wa dan meminta Geum Wa melepaskan Dae So. Geum Wa menolak.
“Kenapa kau begitu kejam pada Dae So?!” tanya Wan Ho.
“Karena kau dan para pemimpin SaChulDo!” seru Geum Wa kesal. “Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau dan pemimpin SaChulDo melawan kekuasaanku dengan menggunakan Kuil Ramalan?!”
Wan Ho diam dan menangis.

Di Hyeon To, Yang Jung memerintahkan anak buahnya untuk mengirim pasukan bantuan ke Jinbun dan Imdun.

Yoo Hwa berpikir sejenak, kemudian menemui Wan Ho.
“Ada hal yang harus kusampaikan padamu.” kata Yoo Hwa. “Jika kau ingin menyelamatkan Dae So, suruh semua orang keluar.”
Wan Ho menyuruh semua orang di ruangan itu keluar.
“Bagaimana kau akan menyelamatkan Dae So?” tanya Wan Ho sinis.
“Merencanakan pembunuhan adalah sebuah kejahatan yang akan dikenai hukuman mati, biarpun ia adalah seorang pangeran.” kata Yoo Hwa memulai.
“Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!” teriak Wan Ho. “Yang Mulia tidak akan pernah bisa menyentuh Dae So!”
“Tolong tenang.” kata Yoo Hwa. “Kau tidak akan bisa menyelesaikan persoalan dengan berteriak. Mengetahui sifat Yang Mulia, ia mungkin saja mengorbankan Dae So untuk menekan Permaisuri dan pemimpin SaChulDo.”
“Lalu?”
“Aku akan membuat Pangeran Dae So dibebaskan. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku. Tolong buat pemimpin SaChulDo bekerja sama untuk menyerang Jinbun dan Imdun. Jika kau mau berjanji padaku, kau akan bisa bertemu dengan Pangeran Dae So lagi. Maukah kau melakukan itu?”
Wan Ho berpikir.

Yoo Hwa bertanya bagaimana hasil penyelidikan pada Dae So. Jumong berkata bahwa Dae So mengatakan kalau ia tidak ada sangkut pautnya dengan percobaan pembunuhan itu.
“Aku tahu dia jujur.” kata Jumong. “Aku bertanya padanya hanya karena Yang Mulia yang menyuruhku.”
“Jumong, katakan pada Yang Mulia bahwa Pangeran Dae So tidak bersalah.” kata Yoo Hwa. “Kemudian yakinkan Dae So agar mau bergabung dalam peperangan melawan Han sebagai gantinya. Dengan demikian, Pangeran Dae So akan berhutang nyawanya padamu. dan membuat Permaisuri mau memberikan pasukan SaChulDo.”

Keesokkan harinya, Jumong mencoba meyakinkan Dae So. Jika Dae So dinyatakan bersalah, maka bukan saja dia yang dihukum, namun Wan Ho pun akan terkena hukuman.
“Aku ingin memberimu kesempatan.” kata Jumong. “Aku akan mengatakan pada Yang Mulia bahwa kau tidak bersalah. Dan sebagai gantinya, bantu Yang Mulia dalam perang ini.”
Keputusan yang salah sebenarnya ngajak Dae So ke medan peperangan.
Dae So mempertimbangkan penawaran itu.

Dae So setuju. Jumong lalu melaporkan hal tersebut pada Geum Wa.
“Dae So ingin bergabung sebagai prajurit perang melawan Jinbun dan Imdun.” kata Jumong. “Tolong berikan izinmu, Yang Mulia.”
“Benarkah Dae So berkata begitu?” tanya Geum Wa agak ragu. “Suruh dia masuk!”
Dae So masuk dan berlutut di hadapan ayahnya.
“Yang Mulia, aku melakukan kesalahan besar.” kata Dae So. “Tapi jika kau memberiku kesempatan untuk menghapus kesalahanku, aku akan bergabung dengan pasukan menyerang Jinbun dan Imdun.”
“Bagus sekali. Aku akan memberimu kesempatan itu.” kata Geum Wa.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
“Dengarkan semuanya!” seru Geum Wa. “Sebagai pemimpin pasukan, aku akan menunjuk Komandan Pengawal, Jumong! Aku ingin Dae So dan Young Po mendampingi Jumong meraih kemenangan dalam perang ini!”

sumber:(terimah kasih dan kredit untuk

http://princess-chocolates.blogspot.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: