Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Sinopsis Jumong Episode 30

pada 17 Maret 2010

Wan Ho menangis ketika ia melihat Dae So. “Kau tidak terluka, kan?” tanyanya.
“Karena ketidakmampuanku, aku membuat ibu cemas.” kata Dae So, menangis. “Maafkan aku.”
“Kau tidak melakukan hal yang salah. Ini semua bukan salahmu.” kata Wan Ho. “Aku akan melakukan apapun untuk membuat Yoo Hwa dan Jumong membayar penghinaan yang mereka berikan padamu.”

Jumong meminta Geum Wa agar menarik kembali keputusannya mengangkat Jumong menjadi pemimpin pasukan. Namun Geum Wa yakin bahwa Jumong pasti bisa melakukannya.
“Kita harus memenangkan perang ini.” kata Geum Wa. “Hanya dengan begitulah kita bisa membuat SaChulDo dan semua orang yang menentang kekuasaanku, menyerah. Mulai saat ini, persiapan perang kau yang mengurusnya.”
“Ya, Yang Mulia.”
“Jika kita kalah dalam perang ini, mungkin aku harus turun dari tahta.” ujar Geum Wa. “Untukmu, mungkin kau tidak akan bisa melindungi Yoo Hwa lagi.”

Song Ju membantu Jumong melatih para pengawal. Saat melihat Jumong datang, mereka langsung berhenti berlatih.
Jumong mengatakan pada mereka bahwa mulai saat ini, mereka harus berlatih siang dan malam tanpa berhenti.
Satu per satu pengawal mulai berlatih intensif melawan Iron Army palsu.

Young Po kesal karena harus menjadi bawahan Jumong. Ia menemui kakaknya, Dae So, untuk bertanya apakah mereka harus menerima begitu saja keputusan Yang Mulia.
“Mau bagaimana lagi?” tanya Dae So pasrah. Ia kemudian mengajak Young Po ke tempat Jumong melatih pasukannya.
“Ada apa kakak kemari?” tanya Jumong.
“Sebagai Komandan, kami seharusnya melapor padamu.” kata Dae So. “Jika kau butuh bantuanku, katakan saja padaku.”
“Kakak!” Young Po protes.
“Diam!” bentak Dae So.
Jumong tersenyum. “Walaupun Yang Mulia berkata seperti itu, tapi mana mungkin aku membuat kedua kakakku sebagai bawahanku? Perang ini adalah demi BuYeo. Jika kakak ikut serta dalam perang ini, tentu hal tersebut sangat bagus bagi BuYeo.”
“Baiklah.” kata Dae So. “Aku ingin sekali tahu bagaimana Komandan memimpin pasukan. Jika kau mengizinkan, aku dan Young Po ingin ikut ambil bagian dalam rapat strategi militer.”
“Aku pasti akan mengundang kakak.” kata Jumong.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo curiga. Ma Ri protes pada Jumong.
“Apakah benar Komandan mengizinkan Pangeran Dae So ikut dalam rapat?” tanya Ma Ri. “Dia sudah membuat kesepakatan dengan Yang Jung. Mungkin saja dia akan membocorkan strategi militer kita pada musuh.”
“Aku punya rencana. Kau tidak perlu khawatir.” kata Jumong.

Oo Tae dan Gye Pil telah kembali ke BuYeo. So Seo No berterima kasih pada Oo Tae karena telah melindunginya.
Oo Tae tersenyum. “Jika aku bisa melakukan sesuatu untuk Nona, jika aku punya kesempatan untuk melindungi Nona, bagiku, itu adalah sebuah kehormatan.”
Yeon Ta Bal mengadakan rapat dengan So Seo No, Gye Pil, Oo Tae dan Sayong.
“Sejak dulu, kita sudah membina hubungan baik dengan Han juga dengan negara tetangga yang lain.” kata Yeon Ta Bal memulai. “Namun saat ini kita akan membantu BuYeo dalam menyediakan kebutuhan mereka, maka hubungan kita dengan Han pasti akan menjadi buruk. Kita tidak tahu bagaimana hal ini akan berdampak bagi GyehRu. Tapi karena kita sudah membuat keputusan, maka kita akan melakukan semampu kita agar bisa menghasilkan keuntungan.”
“Aku sudah menyiapkan segara kebutuhan.” kata So Seo No pada Gye Pil dan Oo Tae. “Namun semuanya masih belum sempurna. Karena itu aku butuh bantuan kalian berdua.”
“Aku akan menemui Geum Wa untuk mengkonfirmasi bahwa kita akan menjadi penyedia kebutuan militer mereka.” kata Yeon Ta Bal.

Geum Wa menanyakan status persiapan untuk perang. Saat itulah Yeon Ta Bal tiba bersama So Seo No.
“Kudengar Yang Mulia akan melakukan perang dengan Jibun dan Imdun.” kata Yeon Ta Bal. “Izinkan kelompok pedagang kami untuk menyediakan kebutuhan selama perang.”
“Ini adalah perang antara Han dan BuYeo.” kata Geum Wa. “Jika kelompok pedagang Yeon Ta Bal membantu kami, hubungan Jolbon dengan Han akan menjadi buruk. Apakah hal tersebut tidak apa-apa untukmu?”
“Tidak perlu khawatir, Yang Mulia.” Yeon Ta Bal berkata. “Aku akan menyelesaikan hubungan klanku dengan Han.”
“Baiklah. Aku mengizinkan Yeon Ta Bal sebagai supplier kebutuhan perang BuYeo.” kata Geum Wa memutuskan.

Kini saatnya mengunjungi bengkel pandai besi untuk melihat persiapan disana.
“Yang Mulia, sejak pandai besi dari Han pergi, kami tidak bisa membuat pedang baja lagi.” kata pandai besi BuYeo. “Mereka tidak mengajarkan kami teknik mereka.”
Geum Wa menarik napas panjang dan menoleh ke arah Dae So dengan pandangan menusuk.
“Pedang baja yang pernah mereka hasilkan, berapa jumlahnya?”
“Tidak mencapai 100, Yang Mulia.”
Geum Wa cemas.
“Yang Mulia, aku menyarankan memanggil Ketua Pandai Besi yang saat ini sedang berada di GyehRu, Mo Pal Mo.” kata Jumong. “Ketua Mo Pal Mo sudah berhasil membuat senjata baja yang kekuatannya setara dengan Han.”
Geum Wa dan yang lainnya menoleh dengan terkejut.
“Benarkah?!” tanya Geum Wa.
“Ya, Yang Mulia.”
Dae So melirik Jumong dengan pandangan kemarahan yang sangat sangat sangat besar. Jumong telah berhasil mengalahkan dia satu lagi.

Setelah dari bengkel pandai besi, Geum Wa mengunjungi mantan Pasukan Da Mul dan para pengungsi yang sedang berlatih.
Geum Wa melihat seorang anak kecil yang ikut berlatih disana. “Siapa namamu?” tanya Geum Wa.
“Namaku Cheon Dong.” kata anak itu.
“Berapa umurmu?”
“Umurku 16 tahun.” kata Cheon Dong.
“Komandan.” panggi Geum Wa pada Jumong. “Anak ini masih terlalu muda. Akan lebih baik jika menempatkannya pada unit logistik.”
“Yang Mulia, tolong izinkan aku tetap berada di barisan depan.” kata Cheon Dong. “Saat ayahku menjadi Pasukan Da Mul, dia juga berada di barisan depan.”
Cheon Dong tetap bersikeras walaupun sudah dibujuk.

Persiapan intensif perang.
Jumong, Jenderal Heuk Chi, Dae So dan Young Po mengadakan rapat untuk menentukan strategi penyerangan yang dilakukan.
Geum Wa dan beberapa pejabat lain juga merencanakan strategi bertahan.
Para pengawal berlatih tanpa berhenti.
Mo Pal Mo dan para pandai besi BuYeo membuat pedang baja.
Yoo Hwa dan para pelayan wanita bekerja meruncingkan kayu membuat panah.

Ada satu masalah lagi yang belum bisa diselesaikan Jumong. Iron Army akan menjadi pasukan baris depan Han. Mereka merupakan pasukan berkuda.
“Untuk memenangkan perang ini, kita membutuhkan pasukan berkuda.” kata Jumong pada So Seo No.” Hal ini sangat mengkhawatirkan.”
“Apakah kau pernah mendengar kelompok MalGal?” tanya Oo Tae.
“Bukankah mereka kaum nomaden?” tanya Jumong.
“Benar. Kudengar kemampuan berkuda mereka sangat hebat.” ujar So Seo No.

Dae So berpikir. Ia lalu menuliskan sebuah surat, yang dikirimkannya pada Yang Jung. Benar-benar pengkhianat.

Di Hyeon To, kepala klan BiRyu, Song Yang, menemui Yang Jung.
“Gubernur, aku kemari karena ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padamu.” kata Song Yang.
Yang Jung menunggu.
“BuYeo sedang merencanakan penyerangan Jinbun dan Imdun.” kata Song Yang.
“Aku sudah tahu.” ujar Yang Jung ringan.
“Lalu, apakah kau juga sudah tahu bahwa Yeon Ta Bal akan menjadi supplier mereka?”
Yang Jung terkejut. “Yeon Ta Bal?”
“Aku tahu bahwa kau dan Yeon Ta Bal membuat kesepakatan untuk membina hubungan baik.” kata Song Yang memprovokasi. “Tapi sepertinya Yeon Ta Bal tidak menunjukkan kesetiaan dan kejujuran. Yeon Ta Bal sudah mempermalukan Jolbon. Demi Han, aku akan melakukan apapun. Karena itulah aku disini.”
Satu lagi pengkhianat bangsa.
“Apa yang bisa kau lakukan?” tanya Yang Jung.
“Jika perlu, aku bisa mengirimkan pasukanku.” Song Yang menawarkan.
“Berapa pasukan yang dimiliki BiRyu?” tanya Yang Jung merendahkan. “Jika kami butuh bantuanmu, kami akan menghubungimu.”

Jumong meminta bantuan So Seo Ni dan yang lainnya untuk mengantarnya menemui kaum nomaden MalGal. Saat hari sudah malam, mereka bermalam di sebuah padang rumput.
Saat Oo Tae, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo sudah tertidur, Jumong dan So Seo No berbincang.
“Kenapa saat itu kau meninggalkan BuYeo?” tanya So Seo No. “Kenapa saat itu kau bingung? Apa kau tidak mau bercerita padaku?”
Jumong hanya tersenyum.
So Seo No ngambek. “Aku sudah bodoh mau memenuhi hatiku denganmu. Tapi kurasa itu tidak akan lama.”
Jumong tertawa.
“Ada seseorang… yang mengubah hidupku.” kata Jumong. “Seperti kayu bakar ini, dia memberi orang-orang kehangatan, namun membakar dirinya sendiri dan lenyap.”
“Apakah kau bicara tentang Jenderal Hae Mo Su?” tanya So Seo No.
“Jika aku tidak bertemu dengannya, aku pasti masih hidup dengan seenaknya.” kata Jumong sedih. “Setelah dia meninggal, aku baru menyadari bahwa aku ingin mewujudkan sesuatu yang hebat.”
“Dia benar-benar telah merubah hidupmu.” kata So Seo No.
“Sebelumnya, dia adalah guruku. Tapi dia adalah ayahku.”
So Seo No terkejut.
“Aku tidak tahu kenyataan ini sampai ia meninggal.” Jumong melanjutkan. “Aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk memanggilnya ayah. Aku membiarkan ayahku mati dengan tragis. Itu sangat menyiksaku.” Jumong hampir menangis. “Sekarang, aku akan mewujudkan mimpi ayah yang hebat. Aku akan menyelamatkan para pengungsi GoJoSeon dan merebut kembali wilayah kami yang hilang.”
Oo Tae ternyata tidak tidur. Ia mendengar semua percakapan mereka.

Keesokkan harinya, Jumong dan kawan-kawan telah sampai di Gunung Baek, tepat kaum nomaden MalGal tinggal untuk sementara.
Jumong berunding dengan ketua kelompok tersebut, Baek San.
“Kalian ingin kami ikut berperang?” tanya Baek San. “Kenapa?”
“Jika kau membantu BuYeo, kami akan memberimu tanah yang subur untuk tinggal.” kata Jumong.
“Semua daratan di bumi ini adalah rumah kami.” kata Baek San. “Kenapa kami membutuhkan tanahmu?”
Jumong gagal mengadakan perundingan. So Seo No tertawa ketika mendengar bahwa Jumong menawarkan tanah untuk kaum nomaden.
“Bukankah mereka berpindah-pindah karena tidak memiliki tanah mereka sendiri?” tanya Jumong.
“Mereka berpindah karena itulah takdir mereka.” jawab So Seo No. “Biar aku yang bicara dengan mereka.”
So Seo No masuk ke tenda untuk berunding. Setelah itu, ia keluar dengan senyum merekah. So Seo No berhasil melakukan perundingan. Jumong tersenyum lega.

Di GyehRu, Yeo Mi Eul berdoa. Setelah itu, ia meminta pelayannya untuk membawakan selembar kain kuning. Yeo Mi Eul melukiskan sesuatu di atasnya dengan cat berwarna merah. Ia melukiskan Burung Berkaki Tiga.
Yeo Mi Eul menyuruh orang untuk mengirimkan bendera tersebut pada Pangeran Jumong dan meminta So Ryeong dan Putri Bintang agar bersama-sama mendoakan Jumong.

Ketika Jumong menerima bendera dari Yeo Mi Eul, Jumong tersenyum. Bendera itu dikirimkan bersama dengan surat.
“Burung Berkaki Tiga akan melindungi Tuannya, bahkan di tempat yang jauh dari sinar.” Yeo Mi Eul berkata dalam suratnya. “Aku akan berdoa untuk Tuan Burung Berkaki Tiga.”

Jumong merencanakan untuk membawa pasukan yang lain sebelum pasukan utama berangkat.
“Aku ingin memotong kiriman suplier dari Nak Rang dan menahan pasukan Hyeon To beberapa saat. Setelah itu, BuYeo bisa menyerang Jinbun dan Imdun.” kata Jumong pada Geum Wa.
Jumong membuka petanya. “Yang Mulia, disini adalah Lembah Ekor Ular. Yang Jung akan menggunakan jalur terdekat dengan melewati lembah ini. Di sini, kita akan menahan pasukan bantuan Yang Jung. Lalu, pasukan utama akan menyerang Jinbun dan Imdun.”
Geum Wa mengangguk. “Aku mengerti. Cepatlah bergerak.”

Jumong mulai memilih orang yang akan diajaknya berhgabung dalam pasukan lain. Ia meminta Oyi mengajak mantan Pasukan Da Mul dan beberapa pengungsi untuk ikut karena mereka mengenal wilayah lembah tersebut dengan baik.

Kabar itu di dengar oleh Na Ru. Ia kemudian melaporkan pada Dae So.
“Kemana pasukan ini menuju?” tanya Dae So.
“Aku tidak tahu.” jawab Na Ru.
Dae So berpikir dan melihat peta. “Na Ri, kau harus pergi ke Hyeon To.” katanya.
“Pangeran, apakah kau berniat…” Na Ru menatap Dae So, kemudian berlutut. “Pangeran, bunuh saja aku. Untuk Pangeran, aku akan melakukan apapun. Tapi tidak untuk hal ini. Bagaimana bisa kau menginginkan aku mengkhianato negaraku sendiri? Bunuh saja aku.”
“Jangan khawatir. BuYeo tidak akan jatuh.” kata Dae So. “Na Ru, percayalah padaku.”

Pasukan lain di bawah pimpinan Jumong siap berangkat. Geum Wa mengantar kepergian mereka.
“Aku akan selalu berada bersama kalian!” seru Geum Wa. “Setelah menyelesaikan misi ini, kembalilah dengan selamat dan bergabung dengan pasukan utama. Berperanglah tanpa takut mati. Kemenangan akan menjadi milik kita!”
Pasukan bersorak.
Jumong dan pasukannya berangkat.

sumber:(terimah kasih dan kredit untuk

http://princess-chocolates.blogspot.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: