Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Sinopsis Jumong Episode 32

pada 18 Maret 2010

Jumong merasa sangat marah melihat pasukannya dibunuh. Ia, Ma Ri, Oyi, dan Hyeopbo menyerang pasukan Han dan berkumpul di kanan. “Murdur ke sini! Mundur ke sini!” teriak Jumong memerintahkan pasukannya.
“Komandan, serangkan semua yang disini pada kami! Pergi sekarang!” kata Oyi.
Jumong malah merentangkan busurnya, mengarahkan panah pada pasukan Han. “Kita pergi bersama.”
Jumong, seorang diri, memanah Iron Army, dengan pasukannya berdiri di belakangnya.
Pemimpin Iron Army datang. Ia dan Jumong sama-sama mengarahkan panah ke satu sama lain. Lalu…
Panah Jumong berhasil menjatuhkan panah pemimpin Iron Army dan menusuk tepat di jantungnya.
“Ayo pergi!” kata Jumong.

Yeo Mi Eul datang menemui Song Yang untuk mengadakan perundingan.
“Aku tidak punya urusan denganmu!” kata Song Yang. “Lebih baik kau pergi!”
“Jika aku pergi, kau akan menemui bencana besar.”ancam Yeo Mi Eul. “Aku bisa melihat takdirmu. Apa kau ingin tahu?”

“Lepaskan So Seo No dan berdamailah dengan Yeon Ta Bal.” kata Yeo Mi Eul.
“Tidak bisa. Setiap aku berpikir bahwa mereka sudah menghinaku, aku hanya bisa memuaskan kemarahanku dengan menghancurkan GyehRu.” kata Song Yang.
“GyehRu dan BiRyu adalah bagian dari Jolbon. Jika kau peduli pada masa depan Jolbon, lepaskan mereka.” kata Yeo Mi Eul menjelaskan. “GyehRu telah mengembangkan senjata yang setara dengan Han, dan mereka akan memberikan teknik tersebut pada klan lain di Jolbon, termasuk BiRyu. Jika kau tetap keras kepala, BiRyu akan terisolasi di Jolbon.”
“Terisolasi?!” seru Song Yang. “Hwanna, Yunna dan Gwanna semuanya mendukungku!”
Yeo Mi Eul tersenyum. “Untuk sekarang, ya. Tapi sampai kapan itu akan berlangsung? Perang ini akan dimenangkan oleh BuYeo. Jika kau tetap berada di pihak Han, maka bencana besar akan terjadi padamu.”

Song Yang tetap bersikeras pada keputusannya dan menolak membebaskan So Seo No

Sampai pada batas waktu, Yeon Ta Bal tak juga memberikan kabar. Song Yang marah dan hendak memenggal So Seo No dan yang lainnya.
Tiba-tiba seseorang menembakkan panah untuk membunuh prajurit BiRyu. Jumong dan pasukannya datang untuk menyelamatkan rombongan GyehRu.
Song Yang melarikan diri.
So Seo No sangat marah. Ia mengambil pedangnya untuk menebas para prajurit BiRyu.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jumong pada So Seo No.
So Seo No mengangguk dan menangis. “Kesalahanku membuat masalah besar bagi BuYeo dan Pangeran Jumong.” katanya. “Memikirkan bahwa perbuatanku mungkin akan menghancurkan strategi perangmu dan membuatmu kalah perang, itu membuatku gila.”
“Jangan berkata begitu.” Jumong menghibur. “Kau membuatku lebih kuat karena dengan sukarela mau menjadi penyedia kebutuhan kami.”

Jumong dan So Seo No kembali ke istana BuYeo. Dae So senang, karena ia pikir Na Ru-lah yang telah menyelamatkan So Seo No. Ia sangat terkejut ketika melihat bahwa Jumong-lah yang berada di samping So Seo No.
Jumong kembali bersama So Seo No, dan berhasil menyelamatkan barang-barang kebutuhan selama perang.

Dae So memarahi Na Ru. Namun Na Ru menjelaskan bahwa ketika ia mau pergi, Permaisuri Wan Ho dan Pangeran Young Po-lah yang melarangnya, demi kebaikan Dae So.
“So Seo No ada di pihak Jumong, kenapa kau mau menyelamatkannya?” tanya Wan Ho. “Dia hanya akan menghancurkanmu!”

Jumong meminta Geum Wa agar memeriksa para pemimpin SaChulDo dan permaisuri Wan Ho. “Walaupun mereka mengirimkan pasukan bantuan dalam perang ini, tapi kita tidak tahu konspirasi apa yangmungkin mereka rencanakan saat kita meninggalkan istana.” kata Jumong.
“Kau tidak perlu khawatir.” kata Geum Wa. “Aku memerintahkan para pemimpin SaChulDo agar mengirimkan putra mereka untuk ikut berperang. Aku ragu mereka akan berani melakukan konspirasi setelah mengirimkan putra-putra mereka.”
“Apakah kau yakin bahwa mereka akan mematuhi perintahmu?” tanya Jumong ragu.
“Aku mengatakan pada mereka, jika mereka tidak mematuhiku, aku akan menyerang SaChulDo sebelum menyerang Han.”

Lagi-lagi Dae So memberi informasi pada Yang Jung. Karena perang akan dimulai, maka Dae So memerintahkan Na Ru agar menyuruh orang terpercaya yang mengirimkan pesannya ke Hyeon To.
Pengirim pesan suruhan Na Ru berangkat menuju Hyeon To. Namun di tengah jalan, Oyi, Hyeopbo dan Ma Ri sudah menghadang jalannya. Mereka meminta suruhan itu agar menyerahkan surat Dae So, jika tidak maka mereka akan membunuhnya.

Ma Ri dan yang lainnya menyerahkan surat Dae So pada Jumong.
Jumong membaca suratnya dan menemui Dae So.
“Ada apa?” tanya Dae So pada Jumong.
Jumong menunjukkan surat Dae So. “Ini adalah surat yang kau kirimkan pada Yang Jung.” kata Jumong tenang, sambil tersenyum tipis.
Dae So sangat terpukul.
“Rancanaku berjalan dengan lancar karena kau memberikan informasi yang salah pada Yang Jung.” ujar Jumong. “Dae So, aku mengerti perasaanmu saat ini. Aku juga mengerti kenapa kau membuat penilaian dan keputusan yang gegabah. Tapi, bukan berarti aku bisa memaafkanmu atas apa yang telah kau lakukan. Kau melakukan hal yang seharusnya tidak pernah kau lakukan dalam situasi apapun. Jika hal ini terjadi lagi, aku akan menghukummu, bukan sebagai Pangeran BuYeo, tapi sebagai mata-mata Han.” Jumong berkata tajam, kemudian beranjak keluar.
Dae So merasa terhina. Ia memukul meja.

Selesai dengan Dae So, kini giliran Jumong melakukan sesuatu pada Young Po.
Do Chi sedang sibuk merapikan barang-barang dagangannya dan memberikan sekotak keping emas pada Young Po.
Jumong datang bersama ketiga temannya, Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo.
“Dimana Do Chi?” tanya Jumong.
Han Dang mengantar Jumong menemui Do Chi.
“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Young Po.
“Aku datang karena ku punya saksi bahwa Do Chi melakukan perdagangan ilegal.” kata Jumong. Ia menoleh menatap Do Chi. “Aku tahu bahwa kau menyelundupkan barang dari Heng In dan Ok Jo. Kau akan dihukum mati sesuai dengan hukum perang.”
Do Chi ketakutan dan meminta perlindungan Young Po.
Dengan polos, Young Po memberitahu Jumong bahwa jika terjadi perang, harga-harga akan naik. Jika mereka menjual barang-barang tersebut, maka warga akan senang. “Do Chi telah berbuat sesuatu yang bahkan tidak bisa dilakukan negara. Dia seharusnya diberi hadiah, bukan dibunuh.”
Jumong terdiam. Mungkin di dalam hatinya, ia geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya itu. “Bagus sekali.” katanya. “Jika itu yang dilakukan Do Chi, aku tidak akan menghukumnya. Tapi, aku tetap akan mengambil barang-barang yang diselundupkan olehnya.”
“Tapi.. tapi.. Komandan..” Young Po mencoba protes, tapi Jumong tidak mendengarkannya dan berjalan pergi.

Hyeopbo berkunjung ke rumah GyehRu untuk bertemu dengan Sayyong. Mereka bercakap-cakap.
“Bukankah seharusnya kau bersikap sebagai laki-laki jika sedang berperang?” tanya Hyeopbo perhatian.
“Benar, tapi itu tidak mudah.” kata Sayong, tersenyum.
Hyeopbo menyerangkan sebuah pedang pada Sayong. “Aku meminta pedang ini dari Mo Pal Mo.” katanya. “Ketika kau bertarung, bertarunglah seperti laki-laki.”
“Terima kasih.”
Hyeopbo malu. Aneh banget nih hubungan kedua orang ini. Hehehe…

Yang Jung bersiap pergi berperang. Putrinya, Seol Ran, sangat cemas karena ayah dan tunangannya harus bertarung sebagai musuh.

Kedua pihak, BuYeo dan Han, sudah siap mengirimkan pasukan mereka ke medan perang. Pasukan Han membentuk perkemahan militer di sebuah padang rumput dan membicarakan strategi perang mereka.
Mereka cemas karena BuYeo sepertinya memiliki kekuatan perang yang besar. BuYeo telah mengetahui kelemahan Iron Army, BuYeo telah menciptakan senjata yang setara dengan Han, dan BuYeo telah berhasil memotong supply kebutuhan pasukan Han.
Yang Jung akhirnya memutuskan bahwa Iron Army harus menyerang lebih dulu dan langsung menghabisi mereka saat itu juga. Langsung selesaikan pertarungan dalam sekali maju.

Di pihak lain, pasukan BuYeo juga sudah membangun perkemahan militer mereka. Para pemimpin perang mengadakan rapat di sana.
Dae So dan Heuk Chi menyarankan agar mereka menunggu sampai kebutuhan pangan pasukan Han habis. Perang langsung hanya akan membuat mereka kehilangan banyak prajurit.
“Pasukan Han pasti akan berusaha menyelesaikan perang ini secepatnya karena mereka kehilangan supply dari Nak Nang.” kata Jumong. “Jika kita menunggu, mereka akan menyerang lebih dulu dengan Iron Army. Kita harus bertahan sementara ini dan menunggu saat yang tepat untuk menghabisi musuh dalam satu kali serangan yang besar.”
Tiba-tiba seorang prajurit masuk dan melaporkan bahwa Iron Army sudah memulai penyerangan.
Mereka semua terkejut.

Pasukan BuYeo dan Han berhadapan langsung.
Dae So memerintahkan Na Ru sebagai utusan pemulai perang.
Na Ru maju dan berperang dengan utusan Han. Na Ru menang. Iron Army bergerak maju.
“Pemanah, buat formasi!” perintah Jumong. “Tembak!”
Pasukan pemanah BuYeo memanah kaki kuda Iron Army dan berhasil menjatuhkan beberapa dari mereka. Iron Army mundur.
Young Po ingin mengejar, namun Jumong melarang. “Justru itulah yang mereka mau. Pasukan boleh beristirahat.”

Iron Army kembali ke markas perkemahan mereka.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya salah satu pemimpin pada Yang Jung, melihat bahwa pasukan BuYeo tidak mengejar pasukan mereka. “Mereka berniat melakukan perang jangka panjang. Siapa pemimpin mereka?”
“Jumong.” jawab Yang Jung.
Pengawal Yang Jung mendadak datang dan memberikan berita baik untuk Han. Han telah memenangkan pertarungan dengan Yi. “Pasukan Han dibawah pimpinan Yo Dong sedang menuju kemari.”

Berita kemenangan Han itu adalah berita buruk bagi BuYeo. Mereka akan kesulitan jika pasukan Yo Dong datang dan memberi bantuan pada pasukan Yang Jung.
Dae So menyarankan agar mereka kembali ke BuYeo, takut kalau-kalau pasukan Yo Dong menyerang BuYeo.
“Pasukan bantuan itu membutuhkan waktu satu atau dua hari untuk sampai di sini.” kata Jumong. “Kita juga masih memiliki pasukan SaChulDo di Buyeo. Aku akan memikirkan cara untuk memenangkan perang ini dengan cepat.”

Jumong berpikir keras untuk membuat strategi, namun tidak juga menemukan strategi yang tepat. Ia keluar dari kemahnya dan melihat para pengungsi dan Man Ho sedang berkumpul. Man Ho melemparkan sesuatu ke api dan meledak.
“Apa yang kau masukkan ke dalam api?” tanya Jumong.
“Maksudmu ini?” Man Ho menyerahkan sebuat benda bulat kecil berwarna hitam pada Jumong. “Pasukan Da Mul menyebut benda ini sotan. Kami dan Jenderal Hae Mo Su selalu membuat ini saat musim dingin. Ia juga pernah menggunakannya untuk menyerang musuh.”
Jumong tertawa, mendapat sebuah ide. “Apa kau tahu bagaimana membuat ini?”
“Ya, tentu saja.” jawab Man Ho.

Keesokkan harinya, Jumong menyuruh ketiga temannya untuk memberitahu pasukan agar buang air kecil di sebuah kotak yang sudah mereka sediakan.
“Mulai sekarang, buang air kecil di tempat ini.” kata Ma Ri.
“Jika ada yang buang air kecil ditempat lain, kalian akan dihukum sesuai dengan hukum militer.” ancam Oyi. “Apa kalian mengerti?!”
Para prajurit bertukar pandang dengan bingung.

Na Ru melaporkan hal tersebut pada Dae So.
“Apa?! Mengumpulkan urin?” tanya Dae So bingung.
“Mungkin Jumong sudah depresi dan mencoba menyemprot musuh dengan urin.” kata Young Po pada Dae So.
Dae So menatap Young Po dengan pandangan tajam.
“Aku hanya bercanda, Kakak.” kata Young Po, tapi tidak kelihatan seperti bercanda.

Man Ho mengajak Jumong dan yang lainnya untuk mencari sejenis tumbuh-tumbuhan di hutan, kemudian membakarnya.
Abu yang didapat dari hasil pembakaran tersebut dikumpulkan.

Sotan yang mereka buat telah jadi. Jumong menceritakan rencananya pada So Seo No.
“Tapi bagaimana cara kita melempar benda ini pada mereka?” tanya So Seo No. “Jika kita lari ke markas mereka, maka mereka akan memanah kita sebelum kita sampai.”
Jumong berpikir, menarik napas panjang.
So Seo No menunjukkan Sotan tersebut pada Sayong. Sayong tersenyum, punya sebuah rencana bagaimana cara melemparkan sotan ke markas musuh.

Esok harinya, Sayong mengajak Jumong dan kawan-kawan ke sebuah padang rumput luas. Ia telah membuat sebuah layang-layang. Beberapa sotan diletakkan di sebuah kantung yang digantungkan di layang-layang.
“Bukankah ini menyelesaikan masalah kalian?” tanya Sayong.
So Seo No sangat senang.

Saat hari sudah gelap, pasukan BuYeo keluar dari markas mereka dan mengendap-endap mendekati markas musuh.
Tidak terlalu jauh dari mereka, rombongan So Seo No juga sudah bersiap untuk menerbangkan layang-layang.
Pasukan penyerang, dibawah pimpinan Geum Wa, juga sudah siap untuk menyerang begitu Jumong memberikan tanda.

Begitu layang-layang sudah diterbangkan oleh kelompok So Seo No, kelompok Jumong mengarahkan panah api ke arah layang-layang tersebut.
Sotan yang digantungkan di layang-layang tersebut terbakar, meledak, dan berjatuhan ke markas pasukan Han.
Pasukan Han panik dan kelabakan karena markas mereka diserang dengan bom api.
“Padamkan api!” perintah Yang Jung.
“Serang!” perintah Geum Wa.
“Serang!” Jumong memerintahkan pasukannya.

sumber:(terimah kasih dan kredit untuk

http://princess-chocolates.blogspot.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: