Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Sinopsis Episode 15 Mr.Goodbye

pada 8 Juni 2010

Hyun Suh menangis melihat Young In menangis. Ia mengecup kening Young In dan menghapus air matanya.“Kenapa kau menangis… seperti orang bodoh?” tanya Hyun Suh seraya mengucap air mata Young In.“Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku… seperti orang bodoh?” balas Young In. “Kita berdua sama-sama bodoh.”

Young In bangkit dan berjalan ke dapur, mencuci beras.
Hyun Suh mengikutinya. Apapun yang dikatakan Hyun Suh, Young In menyuruhnya diam dan memakan apapun yang dibuatkan Young In, tidak boleh memilih.

Setelah selesai memasak, Young In makan dengan rakus. Hyun Suh cemas, takut kalau Young In sakit perut.
“Siapa yang kau cemaskan?” tanya Young In dingin.
“Apa aku tidak boleh mencemaskanmu sekarang?” tanya Hyun Suh. “Walaupun aku mati besok, aku tetap cemas apa yang kau makan dan dengan siapa kau makan. Aku takut kau marah lagi. Aku benci jika memikirkan bahwa kau mungkin saja menangis di suatu tempat dan menyakiti dirimu sendiri.”
Young In tertawa pahit dan makan lagi.
“Kau mungkin duduk cuek di mobil pria manapun, menumpang payung pria manapun ketika hujan, mencuci mobil dengan pria lain, makan mie dengan pria lain. Semua itu membuatku marah.” seru Hyun Suh. “Jantungku sangat kecil untuk menampung masalah yang menumpuk. Kau tersenyum pada tamu, pada kepala pengawas… Itu membuatku takut dan cemas.”
“Kalau begitu, tetaplah hidup.” kata Young In. “Jika kau sangat mencemaskan aku.”
Hyun Suh diam, tertawa. Suara detak jam itu terdengar lagi semakin kuat.
“Apa ini saat yang tepat untuk tertawa?” tanya Young In, kesal dan bangkit berdiri dekat jendela, membelakangi Hyun Suh.
Hyun Suh memegangi dadanya dan berlari kesakitan ke kamar mandi.

Hyun Suh mengunci pintu dan merangkak ke closet. Young In cemas di depan pintu.
“Kau akan terus begini?” tanya Young In setelah Hyun Suh keluar. “Kau akan terus merasa sakit dan menahan semuanya sendirian, tanpa aku. Apa kau sangat suka sakit sendirian? Apa kau senang menahan semuanya sendirian?”
“Ya, aku suka.” jawab Hyun Suh tenang.
“Baiklah. Semoga berhasil.” kata Young In. “Kalau begitu aku akan menangis tanpa kau tahu. Aku akan bersembunyi, menderita dan tertekan. Di kamar mandi ini, selain buang air kecil dan mandi, kita akan gunakan untuk hal lain. Kita lakukan semuanya sendiri-sendiri. Jika Direktur sedang berada di kamar mandi, maka ia sedang kesakitan. Jika aku sedang ada di kamar mandi, maka aku sedang menangis.”
“Aku tetap ingin sakit sendirian.” kata Hyun Suh. “Aku tidak ingin kau tahu. Yang bisa kita lakukan bersama, hanyalah hal-hal yang baik.”

Young In menangis sendirian di dalam toilet. Di luar, resepsionis bercerita bahwa Kyle akan menggantikan Hyun Suh menjadi Presiden Nikko. Informasi itu membuat Young In menangis semakin keras.
“Apa kau menangis?” tanya resepsionis setelah Young In keluar. “Jadi, apa benar Kepala Pengawas akan menggantikan Direktur Yoon?”
Young In mendongak. “Apakah ada obat yang bisa menghentikan air mata?” tanyanya.

Young In kembali ke tempat pengawas.
“Apa kau akan kembali ke Amerika?” tanya Young In pada Kyle.
“Kenapa?”
“Direktur sangat ingin pergi kesana.” kata Young In. “Kau akan pergi? Benarkah?”
Kyle menepuk bahu Young In. “Aku belum memutuskan.” jawabmnya. “Jika aku pergi, aku akan memberitahukanmu terlebih dulu.”

Pengawas cctv mengatakan bahwa Sekretaris Oh dan Kang Chul Goo mungkin tidak akan pernah kembali.

Hyun Suh mengajak Young In ke bank. Hyun Suh bersikap biasa di depan Young In, walau Young In masih kelihatan kesal.
“Kau harus melakukan ini setelah Sekretaris Oh pergi?” tanya Young In.
“Tidak.” jawab Hyun Suh.
“Semua hal yang kau lakukan sangat berat.” ujar Young In. “Mulai sekarang, biar aku yang melakukannya. Jangan membuat tubuhmu terlalu kelelahan.”
Hyun Suh memandang Young In. “Aku ingin ada disisimu sebagai kekasihmu, bukan pasienmu.”
“Aku ingin menjadi penjaga pasien dan kekasih sekaligus!” kata Young In bersikeras.
“Aku tidak suka. Lakukan satu saja.”
Young In meledak marah lagi. “Aku mencintaimu!” teriaknya, membuat semua orang disana menoleh. “Aku mencintaimu, jadi tidak apa-apa.”
“Ini pertama kalinya kau mengatakan ‘Aku mencintaimu’.” ujar Hyun Suh. “Kedengarannya bagus. Katakan lagi.”

Hyun Suh maju karena nomornya sudah dipanggil. Ternyata Hyun Suh datang untuk membuka rekening baru untuk Young In.
“Ini milikmu.” kata Hyun Suh, menyerahkan buku rekening pada Young In. “Aku memberikannya untukmu.”
“Kenapa?” tanya Young In, menerima rekening itu dan membukanya. “$6? Bukan $60, tapi $6?”
“Ya” jawab Hyun Suh. “Kau bilang aku harus memberimu $6 sebanyak 100.000 kali. Mulai saat ini, aku akan membelikan makan malam seharga $6. Uang $6 akan masuk ke rekeningmu setiap hari selama 30 tahun.”
Younng In hampir menangis lagi. Ia merobek-robek buku rekening itu dengan marah, lalu melemparnya pada Hyun Suh.
“Apa yang kau lakukan di bank?!” seru Young In. “Kau punya banyak uang dan ingin pamer padaku?! Apa aku pernah minta ini? Aku ingin makan malam bersamamu selama 30 tahun, bukan uang ini!”
Young In sangat marah dan berjalan pergi meninggalkan Hyun Suh.

Young In berjalan sambil berpikir. Setelah marahnya agak mereda, ia menelepon Hyun Suh.
“Aku minta maaf.” kata Young In.
“Kau memang harus minta maaf.” kata Hyun Suh. “Ini pertama kalinya aku melihat kau marah.”
“Apa kau sedang mengemudi?” tanya Young In. “Kau akan pergi ke suatu tempat? Kemana kau akan pergi?”
Hyun Suh diam.
“Kau akan pergi ke rumah sakit, bukan?” tanya Young In lagi. “Kau akan kesakitan lagi, bukan?” Ia mulai merasa marah lagi. “Menghindari aku dan merasa sakit sendirian.”
“Ya.” jawab Hyun Suh.
“Bukankah lebih baik jika kita pergi bersama?” tanya Young In kesal. Ia berusaha membujuk Hyun Suh, namun hasilnya nihil.
Akhirnya Young In memutuskan untuk pergi sendiri ke rumah sakit naik taksi.

Young In sampai ke rumah sakit. Disana, ia melihat Hyun Suh duduk sendirian. Tidak lama kemudian, Soo Jin datang. Soo Jin dan Hyun Suh pergi bersama.

“Apa Young In masih belum tahu?” tanya Soo Jin.
“Ia sudah tahu.” jawab Hyun Suh. “Setelah ia tahu, kami tetap bertengkar. Apapun yang kami lakukan, selalu berakhir dengan pertengkaran. Sejak kami tinggal bersama, rasanya semua semakin sulit.”
Ketika Hyun Suh dan Soo Jin berbincang, Young In melihat mereka dari jauh. Young In merasa sangat sedih, lalu berjalan pergi.

Yoon menelepon Hyun Suh.
“Paman sedang di rumah sakit.” kata Hyun Suh.
“Kau sakit?” tanya Yoon.
“Ya.”
“Kau sakit banyak atau sakit sedikit?” tanya Yoon polos.
“Sedikit banyak.” jawab Hyun Suh sedih.

Hyun Suh berdiri di dekat jendela apartemennya, memandang lurus ke bawah. Ia melihat Young In berjalan pulang.
“Nona, apa kau mabuk?” tanya Hyun Suh ketika Young In sudah tiba di kamar.
“Ya.” jawab Young In.
“Karena aku?”
“Ya.” jawab Young In lagi. Ia masuk ke dalam kamar. “Kenapa tidak ada lampu yang menyala? Apa yang sedang kau lakukan? Hanya lampu balkon yang menyala.”
“Aku berdiri disana, menunggumu pulang.” jawab Hyun Suh.
Young In mengatakan pada Hyun Suh bahwa ia merasa menderita, jadi ia minum untuk menghibur dirinya sendiri.

Hyun Suh dan Young In duduk berhadapan. Hyun Suh melihat Young In minum.
“Kau sangat egois.” kata Hyun Suh. “Seharusnya kau menuangkan minum untukku juga.”
“Hanya satu gelas.” kata Young In, seraya membersihkan gelas dengan bajunya kemudian menuangkan minum untuk Hyun Suh.
“Kelihatannya kau sedang bahagia.” ujar Hyun Suh. “Apa kau bahagia?”
Young In mengangguk. “Setiap aku minum, aku selalu bahagia.” jawabnya. “Itu membuatku bahagia. Kapan kau bahagia? Bagiku, arak seharga 1000 won sudah bisa membuatku bahagia.”
“Saat kau tidak membuatku cemas.” jawab Hyun Suh. “Saat kau mendengarkan aku. Saat kau percaya padaku. Saat kau tidak menangis untukku. Saat kau tersenyum karena aku. Saat kau tidak sedih, tapi selalu ceria karena aku.”
Young In diam sejenak, kemudian bangkit untuk mengambil makanan.

Tidak lama kemudian, Young In datang lagi dengan membawa toples berisi kacang. “Satu gelas arak, satu kacang.”
Setiap Young In minum satu gelas, Hyun Suh mencium bibirnya.

Keesokkan harinya, Hyun Suh bangun pagi-pagi. Young In sudah tidak ada disana.
Di meja makan, ia meninggalkan sepucuk surat dan makanan untuk sarapan Hyun Suh.
“Pergilah ke rumah Soo Jin dan tinggallah disana.” kata Young In dalam suratnya. “Itu akan lebih baik. Seorang teman yang membuatmu merasa aman. Bukankah tempat itulah dimana kau seharusnya berada sekarang? Dan ada Yoon disana. Seorang dokter di rumah, seorang teman dan seorang anak. Jika kita berdua tetap tinggal bersama, aku mungkin akan selalu marah ketika kau menolak berbagi kebahagiaan dan kesedihan bersamaku. Aku mengerti i tu… Aku hanya ingin menjadi kekasihmu. Aku tidak akan legi berpikir seakan aku memilikimu. Aku juga ingin kau bahagia.”
Hyun Suh duduk dan sarapan sendirian dengan sedih.

Young In kembali lagi ke rumahnya. Jae Dong dan Mi Hee bingung. Tapi Mi Hee tidak ingin bertanya apapun padanya.
“Ibu…” panggil Young In. “Terima kasih karena tidak bertanya apapun padaku. Aku hanya rindu pada sup kimchi buatan ibu. Jadi aku kembali.”
Mi Hee hanya diam dan tidak mengatakan apapun.

Hyun Suh pergi bekerja ke hotel. Young In tersenyum padanya, bersikap seperti biasa seakan tidak terjadi apapun. Hyun Suh menoleh sedikit dan berjalan menuju elevator dengan acuh.

Di rumah sakit, Soo Jin melihat seorang pasien berada dalam kondisi kritis dan harus segera melakukan transplantasi jantung. Soo Jin menjadi cemas.
“Jumlah donatur jantung akan mekin meningkat, bukan?” tanyanya pada seorang dokter. “Akan meningkat, bukan?”
Dokter itu hanya diam.

Seseorang bernama Aoyama Masaya menelepon Kyle. Kyle mengangkatnya.
“Apa kabarmu, Kyle?” tanya suara pria dari seberang saluran, menggunakan bahasa Jepang. “Benarkah kabar mengenai Mr.Goodbye tidak memiliki banyak waktu lagi? Apakah disana terlalu sepi? Di Las Vegas, semua rehasia sudah terbongkar. Sangat disayangkan ia memiliki penyakit mematikan. Kami tidak bisa begitu mengusirnya karena alasan itu. Kami akan mengusirnya dengan alasan telah memporakporandakan hotel. Mr. Goddbye tidak hanya akan kehilangan nyawanya, tapi ia juga harus mengucapkan selamat tinggal pada hotel. Aku yakin kau sudah tahu orang seperti apa dia.” Orang di seberang telepon tertawa, lalu menutup telepon.

Setelah mengetahui bahwa Kang Chul Goo dirawat di rumah sakit karena mencoba bunuh diri, Hyun Suh menemuinya.
Hyun Suh meminta Chul Goo bertanggung jawab atas segala kekacauan yang menimpa Hotel.
“Aku akan menyelesaikan semuanya segera setelah keluar dari rumah sakit.” kata Chul Goo dingin, tanpa memandang Hyun Suh.
Setelah bicara beberapa saat, Hyun Suh beranjak pergi. “Hak untuk hidup… bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki semua orang.” katanya.

“Apakah Direktur baik-baik saja?” tanya Kyle pada Young In. “Bagiku, ia saat ini kelihatan lebih bahagia. Sejak tiba di Seoul, ia menjadi orang yang berbeda.”
“Orang seperti apa?” tanya Young In.
Kyle tersenyum. “Seleranya terhadap wanita.. menjadi lebih buruk dibandingkan aku.”
Young In tertawa.
“Seleranya pada hotel juga menjadi lebih buruk dibandingkan aku.” tambah Kyle.
“Kau pikir hanya itu kesamaan kalian?” tanya Young In. “Tidak banyak bicara, membosankan, bersikap dingin, pandangan tajam, bersikap sok tampan… padahal hanya sedikit tampan. Kalian sangat mirip.”
“Begitukah?”
“Semua orang di hotel tahu.” kata Young In. “Hanya kalian berdua saja yang tidak tahu.”
“Kami sangat mirip, tapi kenapa kau sangat menyukai Direktur dan bukan aku?”
Young In hampir menangis, matanya berkaca-kaca. “Karena Kepala Pengawas tidak kesepian dan tidak sendirian. Karena hatimu sangat kuat.”

Hyun Suh berjalan sendirian di jalan sambil membawa sebuah kotak handphone. Ia menelepon Yoon.
“Kau harus meneleponku setiap hari.” kata Yoon. “Besok juga. Lusa juga.”
Mendadak, dada Hyun Suh terasa sangat sakit. Hyun Suh terjatuh di tanah.

Hyun Suh dibawa ke rumah sakit. Soo Jin dan Kyle ada diantara orang-orang pengantar.
Young In menangis dan melihat dari jauh. “Tidak, tidak.” tangisnya.

Hyun Suh dirawat di UGD.
Dalam ketidaksadarannya, ia teringat saat ia makan di kedai ibunya. Melihat Hyun Suh kepanasan, ibu itu mengarahkan kipas angin padanya.
“Terima kasih.” ujar Hyun Suh, menikmati hembusan angin menyegarkan dari kipas angin.

Hyun Suh tersadar. Ia tersenyum melihat Young In mengipasinya. Ia menceritakan mimpinya pada Young In.
Tidak lama kemudian Soo Jin masuk ke kamarnya.
“Kapan aku bisa keluar di rumah sakit?” tanya Hyun Suh. “Cepat bantu aku keluar. Mulai saat ini, Young In akan menjadi perawatku.”
“Perawat?” tanya Young In, terkejut.
“Ya. Kekasih dan perawat.” jawab Hyun Suh. Ia mengatakan pada Soo Jin bahwa ia masih ingin melakukan hal yang belum sempat ia lakukan dan minta diizinkan keluar dari rumah sakit.

Hyun Suh menemui Yoon di taman bermain dan memberinya sebuah handphone.
“Ini hadiah.” kata Hyun Suh.
“Terima kasih.” kata Yoon.
“Cobalah.”
“Siapa yang harus kutelepon?” tanya Yoon.
“Siapa yang ingin Yoon telepon? Paman sudah memasukkan nomor telepon ibu dan orang lain disana. Lihatlah.”
Yoon melihat nama-nama di ponsel barunya. “Aaa.. ayah?” tanya Yoon, membaca tulisan di kontak ponsel. “Kau menemukan nomornya? Bagaimana?”
“Aku mencarinya dengan sangat sulit.” kata Hyun Suh. “Kenapa kau tidak meneleponnya sekarang?”
Yoon menelepon ayahnya. Ponsel Hyun Suh-lah yang berdering.
“Halo?” kata Hyun Suh.
Yoon menoleh. “Aa a a a… ayah? Ini benar ayah?”
“Ya.” jawab Hyun Suh. Ia bangkit dan mendekati Yoon. “Jangan takut. Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting pada Yoon.”

Soo Jin berjalan mondar-mandir dengan cemas. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Hyun Suh.
“Aku harus memberitahu Yoon bahwa aku adalah ayahnya.” kata Hyun Suh. “Inilah waktu yang tepat untuk memberitahu dia. Jika tidak, Yoon tidak akan pernah bisa melihat ayahnya seumur hidup.”
Soo Jin menangis. “Apa yang akan Yoon lakukan jika ia tahu?”

“Apa kau benar-benar ayah Yoon?” tanya Yoon.
“Aku mencintaimu, Yoon.” kata Hyun Suh. “Aku mencintaimu, karena itulah aku ayahmu. Karena aku benar-benar jatuh cinta pada Yoon. Jadi mulai sekarang, aku adalah ayahmu. Yoon adalah anugerah dari ayah dan ibu. Maafkan Ayah.. karena terlambat datang.”
Yoon menangis.
“Ketika kau merindukan ayah, ketika kau ingin bertemu dengan ayah, dan ketika kau merasa kesepian atau sendirian, kau harus memikirkan aku. Mengerti?” ujar Hyun Suh seraya menghapus air mata Yoon.
Yoon mengangguk.
“Apa yang ingin kau lakukan pertama kali dengan ayahmu?” tanya Hyun Suh.
“Bersama?” tanya Yoon. “Kalau begitu, ayo ikut aku.”

Yoon mengajak Hyun Suh ke dekat pohon. “Ayo pipis bersama.”
“Hanya itu?”
“Aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya.” kata Yoon. “Aku tidak bisa melakukannya bersama ibu.”
Hyun Suh tertawa. “Aku tahu.” katanya.
Hyun Suh dan Yoon pipis bersama.Yoon tertawa senang.

thank’s buat:

http://hananiiaathha.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: