Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Sinopsis Cinderella’s Sister Episode 1

pada 13 September 2010


Ketika Song Eun Jo sedang memasak di dapur, terdengar suara seorang wanita berteriak, “Lepaskan aku!”

“Ayolah, Kang Sook.” terdengar suara seorang pria menanggapi.

Seakan tidak terjadi apapun, Eun Jo terus memasak. Jung Woo, seorang anak gemuk, menyusulnya ke dapur.

Rupanya ibu Eun Joo, Kang Sook dan pacarnya sedang bertengkar di kamar mereka. Kebiasaan pacar Kang Sook, yang suka memukuli ibunya saat ia sedang mabuk, membuatnya ibunya tidak tahan lagi dan berniat pergi.

“Itu bukan aku yang melakukannya.” kata pacar Kang Sook membela diri. “Itu perbuatan alkohol.” Pacar Kang Sook berusaha membujuk Kang Sook dengan memeluknya.

“Jauhkan wajahmu dariku!” bentak Kang Sook.

Di dapur, Eun Jo makan sangat banyak. “Aku tidak tahu kapan aku akan makan lagi.” katanya pada Jung Woo. “Karena itu sekarang aku akan makan sebanyak yang kubisa, jadi…” Eun Jo menoleh ke arah Jung Woo dengan pandangan tajam. “Jangan ganggu aku!”

“Kau berniat pergi?” tanya adik Jung Woo. “Jika kau pergi, maka mungkin ini akan jadi makanan terakhirku. Tidak akan ada yang memasakjika kau pergi.” Ia bergegas mengambil makanan sebanyak mungkin dan memakannya.

Kang Sook dan kekasihnya masih saja ribut dan berteriak-teriak.

“Dengarkan aku baik-baik.” kata Jung Woo. “Tidak peduli dimanapun kau berada dan dimanapun kau tinggal, aku akan menemukanmu dan menjagamu sepanjang sisa hidupmu. Percayalah padaku.”

Tiba-tiba, Kang Sook berteriak. “Tidak! Eun Jo!”

Eun Jo bergegas berlari ke kamar untuk menyelamatkan ibunya.

Pacar Kang Sook hendak memukuli ibunya dengan tongkat baseball. Eun Jo menjatuhkan pacar ibunya dengan kasar, kemudian mengikat kedua kaki dan tangannya. Jung Woo membuang tongkat baseball tersebut keluar. Di tongkat baseball tersebut tertulis, ‘Song Eun Jo adalah kekasih Han Woo Jung’

Eun Jo mengajak ibunya melarikan diri.

“Kakak! Kemana kau akan pergi?” teriak Jung Woo. “Kakak!”

Eun Jo menarik ibunya agar berlari secepat yang ia bisa.

“Kang Sook!” pacar Kang Sook memanggil ibunya dan berusaha mengejar mereka.

Eun Jo dan Kang Sook menaiki sebuah taksi.

Kang Sook terus-menerus ingin kembali. “Kemana kita akan pergi?” tanyanya. “Kita tidak memiliki uang!”

“Memangnya kita pernah memiliki uang?” tanya Eun Jo. “Paman, antar kami ke stasiun kereta.”

Kang Sook meminta supir taksi mengantar mereka kembali, sementara Eun Jo bersikeras meminta supir taksi mengantar mereka ke stasium kereta.

“Bahkan setelah kau dipukuli seperti itu kau tetap ingin kembali padanya?!” teriak Eun Jo.

“Kau tidak tahu apapun, jadi berhenti berteriak padaku!” teriak Kang Sook.

Setelah perdebatan sengit, Eun Jo mengeluarkan sebuah cincin. “Inikah yang ingin kau ambil darinya?” tanya Eun Jo.

Kang Sook senang dan meminta supir taksi mengantar mereka ke stasiun kereta.

Setelah memukuli Jang Woo, pacar Kang Sook mengeledah kamarnya, mencari-cari cincin yang diambil Eun Jo.

“Panggilkan Dae Bong.” perintah pacar Kang Sook.

“Dae Song?” tanya Jung Woo. “Apa yang akan kau lakukan dengan gengster itu?”

“Apa kau ingin dipukuli lagi?!”

Jung Woo bergegas pergi ketakutan dan melaksanakan perintahnya.

Beberapa orang berpakaian hitam seperti mafia mencari Eun Jo dan ibunya ke stasiun kereta.

Setelah berganti pakaian, Eun Jo dan Kang Sook duduk di dalam kereta. Jung Woo meneleponnya dan berkata bahwa ia terpaksa menuruti perintah untuk memanggil Dae Bong.

“Aku tidak akan tertangkap.” kata Eun Jo. “Jangan khawatir.”

Kereta berjalan dengan mulus dan tanpa halangan. Melewati kota demi kota.

Ketika kereta berhenti di sebuah stasiun, Eun Jo melihat beberapa orang berpakaian hitam sedang berjalan di luar. Eun Jo ketakutan dan berusaha membangunkan ibunya yang sedang tidur.

Para pria itu masuk ke dalam kereta.

Dengan perlahan-lahan, Eun Jo melewati ibunya dan berjalan pergi.

“Ibuku memiliki lebih dari sejuta pria.” pikirnya dalam hati. “Sebelum dia memberitahu bahwa ayah adalah nomor ke sejuta satu, aku memutuskan untuk meninggalkannya.”

Eun Jo ragu sejenak di pintu keluar kereta.

Kereta mulai berjalan kembali. Eun Jo memutuskan untuk membangunkan ibunya dan mengajaknya melarikan diri bersama.

Terjadi kejar-kejaran di dalam kereta. Di akhir gerbong kereta. Eun Jo dan Kang Sook terpaksa bersembunyi di dalam toilet.

Eun Jo bersembunyi di dalam toilet, namun ada seorang gadis, anak sekolahan, yang sedang berada di dalam toilet tersebut.

Gadis itu berteriak. Eun Jo menutup mulutnya.

Eun Jo melirik melihat nama gadis itu di seragam sekolahnya, Goo Hyo Seon.

Di luar, para pria gengster menggedor-gedor pintu.

“Kenapa kau tidak mengangkat teleponmu?” tanya seorang gadis dengan manja. “Aku harus pindah ke sekolah yang lain.” Gadis itu bernama Goo Hyo Seon.

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.” kata si pria, terus bekerja mengangkat barang. “Tapi jika kau datang kemari pada jam ini, berarti kau membolos dari sekolah.” Pria tersebut bernama Hong Ki Hoon.

Hyo Seon menghentikan pekerjaan pria itu. “Gadis itu bilang ia akan datang ke sekolah, tapi aku tidak bisa menemukan cincin. Cincin itu.”

Hyo Seon terus menerus mengeluh dan ngedumel masalah cincin.

Hyo Seon adalah seorang gadis yang ceria dan manja.Ia sangat ceroboh dan sering kehilangan barang-barang yang dimilikinya.

“Apakah ada sesuatu yang kau hilangkan untuk selamanya?” tanya Ki Hoon. “Adakah sesuatu yang kau hilangkan, dan tidak bisa menemukannya di rumah?”

Hyo Seon menggeleng. “Tidak ada.”

“Lalu apa masalahnya?” tanya Ki Hoon, tertawa seraya memencet hidung Hyo Seon. Ia mengacak-acak rambut Hyo Seon dengan perasaan sayang.

Ki Hoon mengendarai truknya menuju sekolah Hyo Seon untuk mengantarnya. Ketika sampai di depan sekolah, ia memeriksa catatannya.

“Kakak, kau adalah milikku.” kata Hyo Seon.

“Apa?” Ki Hoon menatap Hyo Seon.

“Jika kau bilang bulan itu kotak, maka pasti bulan itu kotak.” kata Hyo Seon. “Jika kau bilang air laut itu manis dan permen itu asin, maka aku akan memuntahkan permen dan memakan air laut. Karena kau mengatakan bahwa aku akan menemukan cincin itu, maka aku pasti tidak menghilangkannya. Apa aku menghilangkan cincin itu, Kakak?”

“Anak ini… kenapa kau begitu banyak bicara.” kata Ki Hoon, tersenyum. “Jika aku dipecat, apa kau mau bertanggung jawab?”

Hyo Seon tidak mengacuhkan perkataan Ki Hoon. “Kau adalah milikku, jadi kau tidak bisa menikahi orang lain.Kau mengerti?”

“Aku tidak akan membuat komitmen dengan seorang gadis bernama Hyo Seon.” kata Ki Hoon, tertawa.

Hyo Seon turun dari truk, melambaikan tangan pada Ki Hoon, kemudian berjalan masuk ke sekolah.

Hyo Seon dihukum karena keluar diam-diam dari sekolah. Ketika ia sedang duduk di lorong, Kang Sook berjalan mendekatinya. Ia melihat nama di seragan Hyo Seon. “Jadi kau.” katanya.

Hyo Seon mengajak Kang Sook ke rumahnya. Rumahnya cukup jauh, menyusuri danau.

“Apa yang terjadi pada pria-pria jahat itu?” tanya Hyo Seon. “Apakah kau mengirim mereka ke penjara? Ayahku pernah bilang kalau pria yang bersikap jahat pada wanita adalah makhluk paling buruk di dunia ini.”

Tiba-tiba dua orang wanita datang untuk menjemput Hyo Seon. Ada suatu hal yang buruk terjadi di tempat kerja.

Ayah Hyo Seon,Goo Dae Sung, memecahkan semua gentong berisi arak dan membuat semua pekerja berlutut ketakutan. Para pekerja sudah berlutut dari pagi sampai sore.

“Hanya karena kau memasukkan beras, air dan kapang ke dalam gentong, maka itu artinya kalian berhasil membuat arah?” kata Dae Sung, memberi pelajaran pada para karyawannya. “Kalian harus melihat apakah prosesnya berjalan dengan baik dan mengatur suhu. Bagaimana kalian bisa membuat ini? Ini bukan arak! Ini adalah air kotor!”

Ki Hoon mencoba menyelamatkan gentong-gentong yang masih bisa diselamatkan.

Mendadak Hyo Seon datang berlari-lari, mencoba menghentikan ayahnya.

“Siapa yang membawa dia kemari?!” teriak Dae Sung.

Hyo Seon berlutut di hadapan ayahnya. “Ayah, mereka sudah lama berlutut dan setengah dari mereka adalah teman ayah.”

Hyo Seon menangis, membuat Ayahnya merasa iba dan terdiam. Karena bujukan dan godaan dari Hyo Seon, ayahnya melunak dan berjalan pergi.

Hyo Seon berhasil menyelamatkan para pekerjanya.

Hyo Seon mengantar Kang Sook ke rumahnya. Rumahnya sangat besar hingga Kang Sook terpana dan melongo.

Dengan kelabakan, Hyo Seon mencari-cari cincin yang ia hilangkan di seluruh penjuru rumah.

Ia membuka kotak berisi barang-barang peninggalan ibunya, dan mencium foto ibunya dengan perasaan sayang dan rindu.

Tiba-tiba ia teringat. “Tas sekolahku.” gumamnya. “Dimana tasku?”

Terdengar suara teriakan dari luar. Kang Sook tersiram air. Rupanya ia sengaja ingin membuat dirinya tersiram.

Hyo Seon bergegas menolongnya, kemudian mengajaknya masuk ke rumah.

Kang Sook mengenakan pakaian milik ibu Hyo Seon yang sudah meninggal. Hyo Seon menatap Kang Sook dengan mata melotot.

“Ada apa?” tanya Kang Sook, mendadak bicaranya menjadi sangat lembut, tidak seperti biasanya.

“Kau sangat cantik.” kata Hyo Seon dengan mata berkaca-kaca, hampir menangis. “Kau kelihatan seperti Hwang Shin Hye. Ibuku juga kelihatan seperti Hwang Shin Hye.”

Hyo Seon menangis.

“Ada apa?” tanya Kang Sook. “Apakah aku melakukan kesalahan?”

Hyo Seon menggeleng dengan berlinang air mata. “Kau sangat pantas memakai baju itu.”

“Kenapa kau menangis?”

“Aku tidak tahu.” jawab Hyo Seon. “Air mataku keluar dengan sendirinya.”

Kang Sook memeluk Hyo Seon dan menenangkannya. Hyo Seon menangis, meminta Kang Sook terus membelai rambutnya.

Hyo Seon meminta Kang Sook masuk ke sebuah ruangan. Itu adalah ruangan ayahnya.

Ia bertanya pada pamannya dimana tas sekolahnya yang dulu ia gunakan untuk kemping. Hyo Seon meminta pamannya agar menyembunyikan tasnya dalam-dalam.

Dae Sung terkejut melihat Kang Sook ada di dalam ruangannya. Kang Sook bicara dengan sangat lemah lembut. Ia meminta maaf karena membuat Hyo Seon menerima barang orang yang tidak dikenalnya.

Kang Sook berjalan mendekati Dae Sung.

“Putrimu mengatakan bahwa ia memberikan tas yang berisi barang milikku pada teman yang sangat jauh.” kata Kang Sook. “Dia mengatakan akan membutuhkan waktu lama agar temannya kembali. Aku tidak memiliki tempat tinggal. Bisakah kau memberiku pekerjaan disini sambil menunggu barang itu? Aku bisa bekerja di dapur atau semacamnya.”

Dae Sung terdiam, menatap Kang Sook tanpa berkedip.

Eun Jo berada di rumah pacar ibunya.

“Jika aku disini, ia tidak mungkin tidak kembali.” katanya.

“Apakah ibumu juga mencampakkanmu?” tanya pacar Kang Sook dalam keadaan mabuk.

“Tidak.” jawab Eun Jo. “Ia tidak akan melakukannya.”

Pacar Kang Sook jatuh pingsan di dalam kamar Eun Jo. Eun Jo berteriak ketakutan memanggil Jung Woo, meminta Jung Woo membawa pacar Kang Sook pergi.

Eun Jo terus-menerus mencoba menghubungi ibunya, namun gagal.

Kang Sook bekerja di rumah Hyo Seon. Hyo Seon sangat menyukainya dan berharap Kang Sook menjadi ibunya.

Di lain pihak, Kang Sook juga mencoba mendekati Hyo Seon dan ayahnya.

Malam itu, Kang Sook datang ke kamar Dae Sung dengan alasan meminta diantar membeli bahan makanan untuk bekal Hyo Seon besok.

Dae Sung setuju. Mereka pergi dengan menggunakan sepeda. Dae Sung menggonceng Kang Sook. Dengan sengaja, Kang Sook menggoda Dae Sung dengan menendangg roda sepeda hingga sepeda oleng dan Kang Sook bisa bepegangan pada Dae Sung.

Hyo Seon menangis. Pamannya telah menyerahkan cincin pada Kang Sook.

Melihat Hyo Seon menangis histeris, Ki Hoon menjadi tidak tega. Ia meminta Dae Sung untuk membawa Kang Sook kembali. Dae Sung tidak menanggapi.

“Aku akan menjemputnya, Presiden.” kata Ki Hoon.

“Kau pikir siapa dirimu?!” seru Dae Sung.

“Akhir-akhir ini Hyo Seon sangat bahagia.” kata Ki Hoon. “Ia tidak pernah seperti itu sejak berumur 7 tahun.”

“Ia pergi tanpa pamit.” kata Dae Sung marah. “Kenapa aku harus menjemput orang seperti itu?”

Ki Hoon mengajak Hyo Seon naik sepeda untuk menjemput Kang Sook.

Dae Sung menjemput Kang Sook. Ia meminta Kang Sook tetap tinggal dan membawa putrinya ke rumahnya.

“Apakah aku tinggal hanya demi Hyo Seon?” tanya Kang Sook.

Dae Sung terdiam sesaat kemudian memeluk Kang Sook.

Di rumahnya, Eun Jo memasak banyak makanan dan menyimpannya di kulkas. Setelah itu, ia membereskan barang-barangnya dan pergi.

Jung Woo berusaha menahan Eun Jo, tapi Eun Jo tidak menggubrisnya.

Ketika Eun Jo berjalan keluar dari halaman rumah, paman Hyo Seon datang.

“Apakah kau Song Eun Jo?” tanya paman Hyo Seon. Di belakangnya, Ki Hoon muncul dan tersenyum pada Eun Jo.

Ki Hoon dan Paman Hyo Seon mengajak Eun Jo naik ke mobil. Di tengah jalan, Eun Jo minta ke toilet.

Waktu lama berlalu, tapi Eun Jo tidak juga keluar. Rupanya Eun Jo mencoba melarikan diri. Ki Hoon mengejarnya.

Ki Hoon mencoba meraih Eun Jo, namun gagal. Ia hanya bisa meraih pensil yang menggulung rambut Eun Jo. Rambut Eun Jo yang panjang terurai. Ki Hoon terdiam sejenak, kemudian berlari kembali untuk mengejar.

“Lepaskan aku!” teriak Eun Jo seraya menjambak rambut Ki Hoon.

Ki Hoon kesal dan menjatuhkan Eun Jo di tanah. Ia kelelahan dan berbaring di samping Eun Jo.

“Ibumu mengatakan padaku bahwa kau tidak akan datang dengan sukarela.” kata Ki Hoon. “Ia berkata bahwa kau mungkin akan lari, jadi aku bersiap-siap.”

Eun Jo diam, bangkit dan duduk.

“Kau punya uang?” tanyanya. “Bukankah sulit hidup tanpa uang? Tapi semuanya akan berubah jika usiamu sudah 20 tahun. Kenapa tidak menunggu sampai usiamu 20, baru pergi melarikan diri?”

Eun Jo terdiam, tidak menjawab. “Ini aneh.” katanya dalam hati. “Bahkan jika ia berkata bahwa bulan itu bulat, aku akan mempercayainya. Mungkin aku ada dibawah ilmu sihir.”

Sesampainya di rumah Hyo Seon, Eun Jo marah-marah pada ibunya.

“Sampai kapan kita akan tinggal disini sampai mereka mengusir kita?!” teriak Eun Jo.

Kang Sook menyuruhnya diam, tapi Eun Jo tidak peduli dan terus berteriak.

“Sampai kapan kau akan begini?” teriak Eun Jo.

“Dia berbeda.” kata Kang Sook

“Lari dari pria yang satu ke pria yang lain?!” teriak Eun Jo. “Apa bedanya? Jangan bergantung pada laki-laki untuk memberi kita makan! Kita akan menemukan cara untuk bertahan hidup!”

Kang Sook memukuli Eun Jo. “Kau pikir untuk siapa aku melakukan ini?!” serunya.

“Jangan bilang ini untukku!” teriak Eun Jo. “Apa kau hidup untukku? Karena itulah kau membuangku?”

“Membuangmu?” tanya Kang Sook. “Kapan aku membuangmu?”

“Kau membawaku ke tempat paman berambut itu sebagai tawanan bukan?” seru Eun Jo. “Apa kau tahu betapa mengerikan berada disana?”

Kang Sook terdiam. “Apakah.. ia.. melakukan sesuatu padamu?”

“Apakah kau tahu bahwa aku sangat takut kalau ia melakukan sesuatu?!” teriak Eun Jo.

Eun Jo berniat pergo, tapi Kang Sook berkata, “Ini untuk yang terakhir. Sekarang aku bisa membuatmu bersekolah di sekolah normal.”

“Benarkah?” tanya Eun Jo. “Jika kita diusir lagi, biarkan aku pergi.”

Kang Sook setuju.

Kang Sook membawa Eun Jo menemui Dae Sung.

Eun Jo cemberut dan menatap Dae Sung sinis. Suasana di ruangan itu sangat kaku.

“Mulanya aku memiliki seorang putri, tapi sekarang aku memiliki dua.” kata Dae Sung, canggung. “Aku ingin melakukan yang terbaik. Jika ada sesuatu yang kau inginkan, aku berjanji…”

“Tidak perlu berjanji.” kata Eun Jo dingin. “Aku tidak percaya. Jangan berjanji dan biarkan aku sekolah.”

Dae Sung tersenyum dan mengangguk.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar. “Hyo Seon pulang!” teriaknya ceria. Hyo Seon sangat senang melihat Eun Jo. “Kakak, Halo!”

Eun Jo menatap Hyo Seon sinis.

 

Sumber:

http://korea-lovers86.blogspot.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: