Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Playfull Kiss Episode 12

pada 26 Oktober 2010

Seung Jo mampir ke rumah sebentar untuk mengantar Eun Jo dan Ha Ni lali akan segera kembali lagi ke apartemennya. Ibu Seung Jo meminta Seung Jo untuk menginap saja karena sudah larut malam namun Seung Jo tetap ingin pulang karena ada beberapa buku yang ingin dia baca.

Saat Seung Jo akan pergi, Ibu Seung Jo berkata, “Kau harus berhenti dan kembalilah kemari. Ibu mengerti bahwa keputusanmu pergi dari sini itu untuk mencapai tujuan hidupmu. Tapi bagaimana dengan impian hidup Ibu yang ingin hidup bahagia dengan bersama-sama? Dan lagi jika kau seperti ini hanya akan membuat Ha Ni tidak baik. Ha Ni berfikir bahwa kau meninggalkan rumah ini karena kehadirannya. Jadi bersikaplah baik padanya.”

Seung Jo hanya berkomentar, “Aku mohon biarkan aku membuat keputusan mengenai hidupku sendiri. Aku tidak ingin di manipulasi dan aku tidak ingin tinggal di rumah ini itulah yang membuat aku ingin pergi. Kau membawa Ha Ni kembali ke rumah ini tanpa bertanya padaku dan memikirkan perasaanku. Karena itu lakukan apapun yang Ibu suka.” Ibu Seung Jo sedih mendengar hal itu namun Seung Jo tidak peduli dan hanya mengatakan, “Maaf. Aku pergi sekarang.”



Ibu Seung Jo masih sedih melihat sikap Seung Jo tadi. Bapa Seung Jo melihat itu dan berkata, “Kau harus mengerti dia.” Ibu Seung Jo kesal dan berkata, “Ini bukan mengenai dia tidak kembali ke rumah ini. Dia pergi dari rumah ini untuk mencari impiannya dan merubah dirinya. Tapi pada akhirnya kita tidak melihat perubahannya sama sekali. Dia bahkan masih tetap bersikap dingin pada Ha Ni. Ah Suamiku… Bagaimana jika kau mengajaknya berbicara? Setidaknya dia akan mendengarkan apa yang Bapanya katakan.” Bapa Seung Jo menjawab, “Jika aku bicara dia hanya mendengarkannya saja. Jadi kita hanya bisa menunggu dan melihat keputusan apa yang akan dia ambil.”

Ibu Seung Jo jadi sedih mendengar hal itu dari suaminya sendiri. Bapa Seung Jo bertanya, “Tapi… Apakah dia selama ini makan dengan baik?” Ibu Seung Jo menjawab, “Yang aku lihat sepertinya dia semakin kurus.” Bapa Seung Jo berkata, “Kalau begitu kita tunggu saja hingga dia membuat sebuah keputusan.”



Ha Ni, Joo Ri dan Min Ah mampir untuk makan siang bersama di Restaurant Papah Ha Ni. Joo Ri kepanasan saat memegang sumpitnya dan dia bilang bahwa tangannya sangat pedih karena setiap hari bisa mencuci 50 rambut orang. Tentu saja Ha Ni dan Min Ah sangat kasihan padanya. Tapi Joo Ri berkata, “Hmm ini setidaknya lebih baik dari pada duduk di kelas dan belajar hal yang membosankan. Tapi ya aku tetap bahagia. Ah ya Min Ah bagaimana tugas Web-mu itu?” Min Ah menjawab, “Aku sedang membuat karakter komik dan bekerja paruh waktu.” Ha Ni ikut senang mendengar itu.

Joo Ri tiba-tiba memukul meja dan berkata, “Kalian selalu sibuk dan meninggalkanku sendiri.” Ha Ni berbisik pelan, “Untuk saat ini aku tidak bisa. Setelah aku mengacaukan sesuatu maka aku akan berakhir dengan menulis laporan.” Min Ah berkomentar, “Kau harus lebih bekerja keras Ha Ni.”

Papah datang dan bertanya, “Bagaimana masakannya? Enak?” Tentu saja Joo Ri dan Min Ah bilang bahwa masakan Papah Ha Ni sangat enak. Mereka berbicang-bincang mengenai Mie yang di buat oleh Papah dan akhirnya Min Ah meminta tambahan satu porsi lagi. Ha Ni bertanya, “Papah, dimana Joon Gu?” Papah menjawab, “Akhir-akhir ini dia sedang senang memasak. Bahkan dia pergi ke pasar untuk mencari bahan-bahannya sendiri.” Joo Ri berkomentar, “Benarkah itu Bong Joon Gu? Wah dia yang sekarang ini sangat berbeda dengan dia saat SMA ya.”



Min Ah lalu bilang bahwa nanti SMA mereka akan mengadakan acara resuni dan ada dress codenya yaitu memakai seragam SMA mereka kembali. Joo Ri berkata, “Aku sudah mendengar hal itu tapi… Seragmu sudah sempit karena berad badanku bertambah. Bagaimana ini?” Ha Ni berkomentar, “Aku tidak tau siapa yang membuat ide ini tapi aku menyukainya. Kenanagan dengan seragam kita. Seung Jo pun terlihat sangat tampan jika memakai seragam sekolah, Khususnya seragam musim dingin.” Min Ah dan Joo Ri berkata, “Hah? Baek Seung Jo lagi?” Ha Ni hanya tersenyum.



Ha Ni datang ke kampus menggunakan sepedah dan dia bertemu dengan Seung Jo. Ha Ni bertanya, “Apa kau sdah mendengarnya?” Seung Jo justru balik bertanya, “Apa?” Ha Ni pun menjawab, “Akan ada Reuni SMA dan dress codenya adalah seragam sekolah. Bukankah ini menarik?” Seung Jo berkomentar, “Siapa yang memiliki ide kekanak-kanakan seperti ini hah? Aku sudah mendengar hal itu dan aku tidak tertarik sama sekali.” Ha Ni berkata, “Tetap saja menyenangkan bertemu dengan teman-teman lama. Apa kau tidak penasaran dengan apa yang mereka kerjakan sekarang?” Seung Jo menjawab, “Kalau menurutmu menarik maka pergi saja.”

Seung Jo berjalan meninggalkan Ha Ni dan Ha Ni bergumam, “Huh benar-benar… Aku tidak pernah mengerti apa yang dia pikirkan.” Seung Jo mendengar hal itu makanya dia langsung berbalik dan menatap Ha Ni. Ha Ni kaget dan tersenyum.



Ha Ni sedang membantu Ibu Seung Jo menyetrika dan Eun Jo sedang belajar. Ibu Seung Jo bertanya, “Apa Seung Jo tidak akan datang ke acara reuni SMA?” Ha Ni menjawab, “Ya. Dia bilang acara ini kekanak-kanakan.” Ibu Seung Jo lalu mulai bercerita tentang dia yang penah kencan saat musa mudanya ke Restaurant di dekat sekolahnya. Eun Jo bertanya, “Apa? Kau berkencan pada saat masih SMA?” Ibu Seung Jo tertawa dan menjawab, “Aku kencan dengan Bapamu! Dia pada saat muda sangat lucu.”

Ha Ni lalu berkata, “Kalau aku… Aku tidak bisa melupakan saat Seung Jo berpidato kelulusan sekolah.’Semuanya dimanapun, hiduplah dengan bahagia.'” Ibu Seung Jo mendapatkan ide dan berkata, “Ha Ni aku pikir ide bagus untuk mengajak Seung Jo ke reuni SMA.” Eun Jo mencium bau sesuatu dan bertanya, “Hmm bau apa itu?” Ibu Seung Jp panik karena baju yang di setrikanya sedikit terbakar dan dia pun langsung berteriak-teriak panik.



Hari Reuni SMA tiba dan Ha Ni pun siap-siap menggunakan seragam SMAnya dulu. Ha Ni menemukan sebuah daun di dalam saku bajunya dan dia pun teringat kedalam mimpinya (Episode 1). Ya pada saat itu ada daun yang jatuh di pundaknya Seung Jo. Ha Ni berkata, “Ah ternyata yang membuatku bertemu dengan Seung Jo di dalam mimpi adalah daun.”

Ha Ni lalu melihat surat cinta yang dulu pernah dikirim ke Seung Jo. Ha Ni tersenyum dan berkata, “Setidaknya dia tidak memberikanku nilai F.”



Ha Ni datang ke acara Reuni Sekolah dan berfikir, “Apakah Seung Jo tidak datang?” Joo Ri dan Min Ah menghampiri Ha Ni dan bertanya, “Kau kenapa datang terlambat? Bahkan telfon kami tidak kau angkat.” Ha Ni menjawab, “Maaf. Ibu Seung Jo memintaku agar tidak membawa HP.” Min Ah kebingungan, “Tidak membawa HP? Kenapa?” Ha Ni menjawab, “Entahlah tapi sepertinya dia merencanakan sesuatu.”

Ha Ni bertanya, “Hey bukankah ini aneh datang kemari dan memakai seragam sekolah?” Joo Ri menjawab, “Kenapa aneh? Ini sangat menyenangkan, seperti kita sedang membolos, bukankah kita jarang melakukannya di sekolah?” Mereka semua tertawa senang. Joo Ri bertanya, “Ah dimana Joon Gu?” Ha Ni menjawab, “Di Restaurant sedang sangat ramai sehingga dia tidak bisa datang kemari.” Min Ah berkomentar, “Wow dia sekarang sudah menjadi koki ya.”

Ha Ni bertanya, “Ngomong-ngomong apakah Baek Seung Jo tidak datang?” Joo Ri menjawab, “Astaga… Jika kau datang kemari untuk melihat Seung Jo lalu kenapa kau tidak mencarinya hah?” Min Ah berkata, “Dia disana. Sepertinay dia tidak merasa nyaman.” Ha Ni kaget sekaligus senang melihat Seung Jo dan dia berkata, “Tunggu sebentar. Aku akan menyapanya.” Joo Ri menggodanya, “Hanya menyapa?” Ha Ni tersenyum dan berjalan ke arah Seung Jo duduk.



Ha Ni menghampiri Seung Jo dan berkata, “Kau bilang kau tidak akan datang kemari…” Seung Jo berkomentar, “Kenapa kau tidak membawa telfonmu hah? Ini kunci rumah. Ibu bilang bahwa dia akan pergi ke Busan untuk bertemud engan keluarga dan kau lupa membawa kunci rumah. Dia memintaku untuk memberikan ini padamu makanya aku datang kemari.” Ha Ni berkata, “Benarkah? Ah maaf sepertinya kau keluar hanya karena aku saja. Terima kasih. Jika kau tidak datang aku mungkin tidak bisa pulang ke rumah.”

Seung Jo berdiri untuk pulang dan Ha Ni menahannya, “Karena kau sudah datang… Maka bersenang-senanglah dengan teman-temanmu.” Seung Jo dengan dinginnya berkata, “Tidak perlu.”



Seung Jo langsung pergi meninggalkan Ha Ni. Lalu ada teman Seung Jo yang datang dan mengajak Seung Jo berbincang-bincang sehingga Seung Jo pun tidak jadi pulang. Teman-teman Seung Jo bilang bahwa Seung Jo harusnya masuk Universitas Tae San saja dari pada Universitas Parang karena di Universitas Parang itu Seung Jo masih di sebut ‘Ajaib’ karena terlalu pintar.

Seeorang teman Seung Jo melihat ada Oh Ha Ni dan dia pun bertanya, “Loh bukankah itu Oh Ha Ni? Dia pacarmu Seung Jo?” Teman Seung Jo yang lainnya pun ikut berkomentar, “Dia sudah lama sekali menyukaimu bahkan mengikutimu hingga masuk Universitas Parang dan ternyata keinginannya terwujud.” Ha Ni mendengar pembicaraan itu dan dia mulai senyum-senyum. Seung Jo tentu saja merasa tidak nyaman dan langsung berkata kejam, “Pacar? Dia sangat menganggu jadi hilangkan omong kosong itu.” Teman Seung Jo berkomentar, “Ya kau benar lagi pula dia tidak cocok dengan Baek Seung Jo yang sempurna.”



Ha Ni mendengar kata-kata kejam Seung Jo itu dan langsung pergi dari dekat Seung Jo. Seung Jo melihat itu dan diam saja. Teman Seung Jo bertanya, “Seung Jo, apa kau sudah memutuskan jurusan yang akan kau ambil?” Seung Jo menjawab, “Tidak ada. Aku masih ragu.” Teman Seung Jo lainnya berkomentar, “Kau bisa mewarisi perusahaan ayahmu bukan? Posisi Direktur untukmu itu hanya menunggu waktu saja.” Seung Jo terdiam.



Di dalam acara Reuni ini ada band yang tampil yaitu Bye Bye Sea. Semuanya menikmati suasana kecuali Seung Jo yang hanya diam saja. Ha Ni diam-diam terus melihat ke arah Seung Jo yang sedang berfikir. Tapi saat Ha Ni melihat lagi ke arah Seung Jo, Seung Jo sudah tidak ada dan yang ada hanya jasnya Seung Jo.



Ha Ni akhirnya pulang sendiri naik Bis dan dia berkata, “Pasti menyenangkan bertemu teman-teman lamanya, tapi dia pergi tanpa sepatah kata pun. Apa dia sakit? Aish.”



Seung Jo sedang berjalan kaki dan dia duduk di kursi pinggir jalan. Dia berfikir mengenai permintaan ayahnya yang meminta dia agar mau meneruskan perusahaan game milik ayahnya itu. Namun di lain sisi dia juga memikirkan permintaan Ha Ni yang meminta dia menjadi dokter agar bisa menyembuhkan penyakit.

Ha Ni melihat Seung Jo dan berkata, “Kau meninggalkan jasmu.” Seung Jo mengambil jasnya dan mengucapkan terima kasih. Ha Ni bertanya, “Boleh aku duduk disini?” Seung Jo menjawab, “Seperti yang kau inginkan.” Ha Ni pun duduk di samping Seung Jo dan bertanya, “Kau sedang mengkhawatirkan sesuatu? Katakan saja padaku. Jika kau membaginya menjadi dua maka kekhawatiranmu itu akan berkurang. Aku mungkin bisa membantumu.” Seung Jo hanya tersenyum tipis. Ha Ni melanjutkan lagi omongannya, “Aku saat mengkhawatirkan sesuatu atau pun saat bahagia maka aku selalu membaginya dengan Joo Ri dan Min Ah. Setelah melakukan itu maka bebanku terasa berkurang. Tapi kadang aku memberi tahu terlalu banyak hal pada mereka dan tu menjadi masalah.”

Seung Jo tiba-tiba berdiri dan berkata, “Aku akan mengambil jurusan medis. Entah itu cocok atau tidak bagiku. Untuk pertama kalinya… Aku menemukan apa yang menarik untukku. Jangan memberi tahu hal ini pada siapapun. Terutama orang tua-ku. Dan juga jangan menyebarkan rumor yang tidak benar di sekelilingku. Apa kau mengerti?” Ha Ni berkata, “Aku mengerti. Untuk apa menyebarkan rumor?” Seung Jo langsung pergi meninggalkan Ha Ni yang masih duduk. Ha Ni berfikir, “Omo… Hanya aku yang mengetahui rahasia ini?” Ha Ni langsung tersenyum senang.



Kyung Soo berbicara di lapangan tennis bahwa mereka akan memperingati 10 tahun berdirinya klub tennis jadi mereka akan merayakannya dengan cara mengundang para alumni dan berpesta. Dan ternyata Kyung Soo itu sedang berbicara sendiri, tidak ada anggota di lapangan itu kecuali Ketua Tennis. Ketua Tennis bertanya, “Minggu depan libur. Apa kau pikir He Ra akan datang?” Kyung Soo menjawab, “Tapi aku mendapatkan harga khusus karna sedang liburan.”

Ketua Tennis berkata, “Dan lagi jika pesta dengan alumni… aku berfikir untuk tidak datang.” Ketua Tennis lalu menyarankan agar Kyung Soo harus bisa membuat Seung Jo datang ke pesta ini agar He Ra juga mau ikut datang. Kyung Soo sangat senang dengan ide itu dan bilang, “Ah kau hebat pantas saja kau bisa menjadi Ketua Tennis. Baiklah Seung Jo… He Ra… Aku akan mendiskusikan hal ini dengan Ha Ni.”



Ha Ni datang ke fakultas kedokteran dan dia berfikir, “Hmm jadi ini jurusan yang akan di ambil oleh Seung Jo. Kudengar disini sangat sibuk. Jadi ini artinya aku akan jarang bertemu dengan dia?”

Kyung Soo datang ke fakultas kedokteran dan bertemu Ha Ni. Ha Ni bertanya, “Kau ngapain ada disini?” Kyung Soo balas bertanya, “Aku mencarimu. Dan sedang apa kau disini?” Ha Ni menjawab, “Seung Jo… Ups maksudku aku hanya melihat-lihat. Apa yang ingin kau katakan?” Kyung Soo pun menceritakan bahwa dia mempunyai acara untuk perayaan 10 tahun klub tennis dan dia ingin He Ra datang tapi kalau ingin He Ra datang maka mereka harus membujuk Seung Jo datang juga. Ha Ni tentu tidka setuju karena Kyung Soo menjadikan Seung Jo sebagai umpan.

Kyung Soo bilang bawa jika dia tidak memakai cara ini maka dia akan kehilangan kesempatan menyatakan perasaannya itu pada He Ra. Kyung Soo benar-benar memohon pada Ha Ni.



Kyung Soo melihat Seung Jo dan dia langsung mendorong Ha Ni ke dekat Seung Jo. Seung Jo bertanya, “Apa kau mengikutiku?” Ha Ni menajwab, “Ah tidak…” Seung Jo terus berjalan dan Ha Ni mengikutinya dari belakang. Ha Ni melihat Kyung Soo memohon padanya sehingga dia pun jadi tidak enak pada Kyung Soo.

Ha Ni berkata pada Seung Jo, “Aku ingin melihat-lihat fakultas ini ya mungkin aku nanti akan sering kemari. Tapi disini benar-benar hebat. Sepertinya mereka disini akan menjadi dokter yang hebat di masa depan.” Seung Jo berkomentar, “Mungkin juga tidak.” Ha Ni bertanya, “Tapi apa yang kau lakukan disini? Inu belum waktunya memilih jurusan, bukan?” Seung Jo menjawab, “Aku kemari untuk bertemu dengan professor.” Ha Ni bertanya kembali, “Untuk apa?” Seung Jo balik bertanya, “Jika aku memberitahumu apakah kau akan mengerti?” Ha Ni kesal dan berkata, “Jangan merendahkanku begitu!”

Ha Ni berkata, “Ah ya hari ini Bapa-mu pergi ke rumah sakit untuk check up tapi aku tidak tau hasilnya. Mau pergi ke rumah bersamaku?” Seung Jo berkomentar, “Hadiah apa yang akan mereka bawa kali ini?” Ha Ni bingung dan bertanya, “Hadiah? Kue? Tunggu apa ini hari ulang tahunmu?” Seung Jo berkata, “Bodoh! Penyakit maksudku!”



Seung Jo mampir ke rumah. Bapa Seung Jo berkata, “Huh aku benar-benar bosan dan lelah dengan Rumah Sakit.” Ibu Seung Jo bertanya, “Bagaimana hasilnya? Biar aku lihat. Hmm apa ini indeksi? Gula darah? Apa maksudnya?” Seung Jo mengambil hasil periksa dan berkata, “Tekanan darah Bapa tinggi dan detak jantungnya juga tinggi. Bapa memiliki sedikit tekanan jantung dan kolestrol juga tinggi. Bapa kau harus menjaga kesehatan jantungmu.”

Bapa Seung Jo berkomentar, “Huh aku mendengar hal yang smaa seperti yang di katakan dokter.” Ibu Seung Jo berkata, “Suamiku… Kau harus menjadi sehat dan menjaga kesehatanmu itu. Ah Seung Jo Bagaimana kau bisa mengerti kata-kata rumit itu? Anakku benar-benar mengangumkan.” Eun Jo berkomentar, “Kakak bisa menjadi dokter karena pintar.” Ibu Seung Jo berkata, “Hey Baek Eun Jo… pintar bukan segalanya.”



Ha Ni datang ke Restaurant dan Papah senang menyambutnya tapi Papah merasa sedikit aneh pada Joon Gu yang tidak menyapa Ha Ni. Ha Ni bertanya, “Mana Joon Gu?” Papah menjawab, “Dia sedang ada di dapur. Dia sedang membuat makanan. Kau mau lihat? Ayo kita lihat ke dapur.”

Papah dan Ha Ni diam-diam melihat Joon Gu di dapur dan Ha Ni berkomentar, “Awalnya aku pikir dia hanya bisa bermain-main saja tapi ternyata dia bisa seperti ini.” Papah berkata, “Lihatlah seberapa kerja kerasnya dia membuat itu semua. Kemampuannya bisa di katakan lumayan. Dan dia ingin menunjukan kemampuannya itu padamu, bukankah itu pantas di puji?” Ha Ni tersenyum dan di dalam hati dia berkata, “Ini pertama kalinya aku melihat dia seperti ini. Bahkan dia tidak menyadari kehadiranku.”



Joon Gu selesai memasak dan dia meminta Ha Ni untuk mencobanya. Ha Ni memuji masakan Joon Gu dan bilang bahwa ini sangat enak dan Joon Gu sukses membuat makanan. Joon Gu berkata, “Jika aku sukses membuat makanan maka aku ingin orang pertama yang menyicipinya adalah kau Ha Ni. Tunggu sebentar… Ini adalah mie pangsit buatanku. Pangsit dalam mie ini ada 3 warna dan mie-nya pun sangat enak. Jika kau mencobanya pasti kau akan menyukainya. Makanlah yang banyak. Sekarang aku sudah menemukan sesuatu yang membuatku percaya diri. Ah ada lagi, tunggu sebentar disini.”

Joon Gu masuk kedapur dan Ha Ni berkata dalam hati, “Hari ini aku melihat sisi lain dari Joon Gu. Aku selalu mengabaikannya tapi… Maafkan aku Joon Gu.”



Ha Ni melihat He Ra di kampus dan dia bertanya, “Hmm apa kau sedang menunggu seseorang?” He Ra menjawab, “Duduk lah.” Ha Ni duduk di samping He Ra dan dia bertanya, “Apa kau akan datang ke acara perayaan 10 tahun klub tennis?” He Ra balik bertanya, “Kenapa kau ingin tau?” Ha Ni menjawab, “Hmm ini mengenai klub dan banyak alumni yang datang jadi ya akan sangat bagus jika banyak yang datang.” He Ra berkata, “Aku tidak tertarik untuk datang ke acara seperti itu. Ah kenapa kau tidak pergi saja dan menikmatinya untuk mengantikan aku? Itu pasti sangat menyenangkan.” Ha Ni hanya diam saja.

He Ra merasa ada sesuatu yang aneh makanya dia bertanya, “Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?” Ha Ni menjawab, “Hmm begini aku ingin tau sesuatu.” He Ra berkata, “Kita sudah membicarakan tentang perayaan klub tennis. Lalu apa yang ingin kau tau lagi?” Ha Ni Menjawab, “Begini… Kau dulu bimbang kan menentukan jurusan yang ingin kau ambil. Apa sekarang kau sudah memutuskannya?” He Re kebingungan dan bilang, “Kau sangat lucu hari ini. Untuk apa kau mengetahui jurusan yang akan aku ambil?” Ha Ni berkata, “Hmm sesjujurnya kau bisa mengambil jurusan apapun yang kau mau dengan kemampuanmu sendiri…” He Re memotong dan bertanya, “Lalu?” Ha Ni melanjutkan pertanyaannya, “Lalu… Apakah kau berfikir untuk mengambil jurusan yang sama dengan Seung Jo?” He Ra langsung tertawa.

He Ra berkata, “Kenapa kau berfikir seperti itu? Kau benar-benar bodoh! Hanya karena orang yang kamu sukai itu pergi maka kamu juga harus pergi ke neraka bersama dia? Walaupun aku tertarik pada Seung Jo tapi aku tidak tertarik pada jurusan yang dia ambil. Aku… Aku akan lakukan apa yang ingin aku lakukan karena ini hidupku. Kau tidak perlu bersamanya jika unuk pacaran saja. Aku pergi… Sampai jumpa.” He Ra pergi dan Ha Ni berkata, “Huh dia selalu seperti itu tapi ya aku akui pendapatnya.”



Ha Ni sedang naik sepedah dan dia menabrak kursi di taman kampus. Seung Jo melihat itu dan berkomentar, “Hati-hatilah.” Seung Jo duduk di kursi dan Ha Ni masih terdiam. Seung Jo berkata, “Jika kau ingin pergi maka pergilah, jika kau ingin tetap disini maka duduklah.” Akhirnya Ha Ni pun duduk di kursi samping Seung Jo.

Ha Ni berkata, “Joon Gu… dia masih bekerja keras untuk menjadi koki dan He Ra juga memiliki sesuatu yang bisa dilakukan… Bahkan Joo Ri dan Min Ah juga. Eun Jo juga terlihat khawatir dengan masa depannya.” Seung Jo bertanya, “Dan maksudmu itu adalah kau tidak memiliki apapun yang ingin kau lakukan?” Ha Ni menganggukan kepalanya. Seung Jo berkata, “Aku iri padamu. Kcerobohanmu itu.” Ha Ni berkata, “Aku.. Aku juga punya impian. Tapi…” Seung Jo memotong pembicaraam, “Tapi apa?Sesuatu yang ingin kau lakukan bersamaku? Beritahu padaku mengenai impianmu. Aku akan mendengarkannya.”

Ha Ni pun menjawab, “Jika kau menjadi dokter di sebuah desa maka aku akan menjadi perawatnya yang membantumu. Kau pasti terkenal jika di rumah sakit, bukan rumah sakit yang besar seperti rumah sakit di kampus ini tapi tetap saja aku akan terus bekerja keras dan membantumu. Seperti mengurus anak kecil yang menangis dan sebagainya. Tapi ada sebuah masalah dengan impian itu. Jika kau bilang ingin menjadi pilot maka aku akan menjadi pramugari. Jika kau ingin menjadi pemain golf maka aku akan menjadi caddy. Pada akhirnya impianku sangat sederhana dan melakukan apapun yang diinginkan. Aku hanya bergerak dengan arahan Baek Seung Jo. Ini tetap saja diriku tidak nyata.”

Seung Jo berkomentar, “Tepat seperti yang kau katakan, Saat aku memutuskan untuk menjadi dokter, aku juga banyak memikirkan hal itu. Lalu apa? Impian yang tidak realistis itu.. impian tetap impian. itu cocok untukmu.” Ha Ni bertanya, “Hah? Apa kau pikir impianku ini tidak realistis?” Seung Jo menjawab, “Apa kau pikir kau bisa menjadi perawat hanya karena aku menjadi dokter? Tapi lagi-lagi ini mengenai impian…semakin sulit untuk di capai maka semakin ingin kau mencoba menggapainya. Benar bukan?” Seung Jo menepuk punggung Ha Ni dan pergi. Ha Ni mengejarnya tapi dia ingat sepedahnya sehingga dia mengambil sepedahnya lalu mengikuti Seung Jo.



Seung Jo sedang ada di kelas dan dia mendapatkan telfon dari Bapanya yang meminta Seung Jo untuk datang ke rumah.

Seung Jo pulang ke rumah dan Bapanya meminta berbicara sebentar. Bapa Seung Jo bertanya, “Tadi ada yang menelfonku dari seorang professor di kampusmu. Apa benar kau akan mengambil jurusan kedokteran?” Seung Jo menjawab, “Ya. Aku berencana masuk kedokteran pada semester depan.” Bapa Seung Jo kaget mendengar itu dan berkata dengan marah, “Kau memutuskan hal itu tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu denganku? Apa kau tidak menghiraukan apa yang aku katakan padamu?” Diam-diam Ibu Seung Jo dan Eun Jo mendengar semua itu.

Seung Jo berkata, “Aku juga memikirkan perusahanmu. Tapi sepertimu dan seperti Papah Ha Ni, aku memutuskan apa yang ingin aku lakukan. Aku sudah memutuskan untuk menjadi dokter, apa yang Bapa katakan itu tidak ada gunanya. Aku tidak akan meneruskan perusahaanmu itu.” Bapa Seung Jo sangat kecewa dan dia mendapatkan serangan jantung. Seung Jo, Ibu Seung Jo dan Eun Jo pun sangat panik melihatnya.



Akhirnya Bapa Seung Jo di bawa ke rumah sakit dan dia di rawat. Ibu Seung Jo bilang pada Papah Ha Ni bahwa dokter bilang ini tidak begitu serius dan hasil medis belum keluar. Papah Ha Ni bertanya, “Sebenarnya apa yang terjadi sehingga bisa seperti ini?” Ibu Seung Jo menjawab, “Ini semacam angin duduk atau penyakit jantung. Akhir-akhir ini keadaan perusahaan sedang buruk dan itu pasti membuatnya banyak pikiran. Yang paling penting saat ini adalah mejaga kestabilan. Dia akan tinggal disini untuk sementara waktu.” Papah berkata, “Benar. Disini banyak dokter hebat yang akan merawatnya. Ini pasti sulit untukmu. Aku tidak pernah membayangkan hal ini karena dia selalu tersenyum ceria.”

Ha Ni bilang pada Ibu Seung Jo bahwa dia akan pulang duluan ke rumah karena kasihan Eun Jo ada di rumah sendirian. Ha Ni mengingatkan Ibu Seung Jo agar istirahat juga. Ibu Seung Jo meminta Seung Jo juga pulang dan akhirnya Seung Jo dan Ha Ni pulang bersama.



Ha Ni bertanya pada Seung Jo, “Apa Bapamu akan baik-baik saja?” Seung Jo menjawab, “Mungkin akan sulit baginya karena besok akan ada pemeriksaan. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat dan cuti kuliah.” Ha Ni berkata dalam hati, “Keadaan ini sangat sulit untuk semuanya. Meskipun sedikit tapi aku juga ingin membantunya.”



He Ra selesai latihan tennis dan dia berjalan menghampiri Kyung Soo. Kyung Soo bertanya, “He Ra kau tidak datang ke acara perayaan klub tennis?” He Ra menjawab, “Aku tidak pernah bilang akan pergi. Ah aku dengar yang datang hanya kau dan ketua tennis, jadi sepertinya pesta itu akan menyedihkan ya. Aku dengar pesta ini juga banyak menggunakan uang pribadimu jadi ini aku akan membayarnya walaupun aku tidak datang, aku harap kau mau menerimanya.”

Kyung Soo menerima uang itu. Lalu He Ra berkata, “Kau sudah makan? Ayo makan bersamaku aku akan meneraktirmu.” Kyung Soo gugup dan berkata, “Tidak perlu. Aku sudah membeli hot dog ini dan ada daging sapinya. Jika memakannya dengan sekaligus maka tidak akan lapar lagi.” Kyung Soo memakan hot dog itu dan He Ra berkata, “Oh baiklah kalau begitu aku pergi.”



Seung Jo berbicara dengan dokter yang menangani Bapanya. Dokter bilang bahwa ini bukan seragam jantung tapi jika Bapanya itu terlalu kelelahan maka mungkin saja ini bisa menjadi serangan jantung yang berbahaya bagi kesehatan Bapa Seung Jo dan cara pengobatannya dengan operasi. Seung Jo bilang bahwa ada pengobatan dengan cara pembuluh darah. Dokter memuji Seung Jo yang tau banyak masalah medis dan bilang bahwa cara pembuluh darah itu akan dihindari dan pengobatan selanjutnya akan menggunakan obat biasa saja.

Seung Jo masuk kedalam kamar Bapanya di rawat dan melihat ada seseorang yang sedang berbicara dengan Bapanya. Seung Jo bertanya pada Ibunya, “Dia itu siapa?” Ibu Seung Jo menjawab, “Itu Manager di perusahaan.” Seung Jo berkata, “Bukankah kondisinya harus tetap stabil dulu? Ini dilarang membicarakan pekerjaan.” Seung Jo mau berdiri namun Ibunya melarang dan berkata, “Ini pekerjaan yang penting sepertinya. Kau kau tau bahwa Bapamu tidak akan tenang jika tidak melakukan keputusannya sendiri.” Seung Jo berkomentar, “Dia terlalu memikirkan pekerjaannya sehingga dia jatuh sakit.”



Tiba-tiba Bapa Seung Jo kesakitan dan dokter pun langsung datang untuk turun tangan. Untuk kali ini Bapa Seung Jo tidak boleh di kunjungi dahulu sampai keadaannya benar-benar pulih. Ibu Seung Jo berkata pada Seung Jo, “Hampir saja. Tinggal beberapa hari lagi permainan baru akan di luncurkan. Karena Bapamu sakit maka perusahaan yang ingin mengembangkannya itu pergi dan Bapamu mendengar hal itu sehingga dia semakin sakit. Apa yang harus kita lakukan? Bapamu terbaring disana dan perusahaan dalam banyak masalah.”

Seung Jo berkata, “Aku akan menanganinya. Walaupun aku masih muda dan tidak ada pengalaman tapi aku akan menanganinya sampai Bapa sehat.” Ibu Seung Jo senang mendengar hal itu.



Ibu Seung Jo sedang di rumah dan dia menceritakan hal itu pada Ha Ni, “Seung Jo untuk sementara akan menangani perusahaan. Bapa Seung Jo sangat senang dan kesehatannya pun mulai stabil dan membaik.” Ha Ni ikut senang mendengar hal itu dan Ha Ni tambah senang saat Ibu Seung Jo bilang bahwa Seung Jo akan kembali lagi ke rumah itu. Ibu Seung Jo berkata, “Hmm mungkin ini yang di sebut kemalangan berubah menjadi keberuntungan. Ah Ha Ni aku akan kerumah sakit, apa kau tidak apa-apa jika aku menyerahkan semua ini padamu?” Ha Ni menjawab, “Tentu saja. Percayakan padaku.”

Ibu Seung Jo berkata, “Ha Ni ini adalah kesempatan untukmu karna tidak ada yang menganggu. Coba bayangkan saja ini sebagai bulan madumu!” Ha Ni tersenyum malu-malu.



Seung Jo datang ke perusahaan Bapanya dan kaget saat melihat suasana kantor ang berantakan. Manager menghampirinya dan berkata, “Ah kau sudah datang. hey semuanya ini adalah direktur baru. Ah maaf suasana perusahaan game memang seperti ini. Ayo ikut aku menuju ruanganmu.”

Karyawan perempuan di perusahaan Bapa Seung Jo itu langsung senang melihat Seung Jo dan bilang bahwa Seung Jo memiliki senyuman yang manis dan IQnya itu 200. Sementara itu karyawan laki-laki berkomentar, “Dia tidak akan memecatku kan karena aku ini sudah tua?”



Manager membawakan setumpuk berkas yang harus Seung Jo pelajari mengenai perusahaan dan permaian baru yang akan di buat. Seung Jo meminta agar Manager bicara dengan dia dengan nyaman saja namun manager bilang bahwa Seung Jo ini adalah di rektur untuk sementara jadi dia harus tetap sopan berbicaranya.

Manager keluar dari ruangan Seung Jo dan para karyawan langsung menghampirinya. Karyawan laki-laki bertanya, “Dia tidak akan mengubah struktur karyawan kan? Apa kita akan di pecat?” Sedangkan karyawan perempuan bertanya, “Apa dia sudah punya pacar atau sedang kencan dengan seseorang hah?” Manager langsung menjawab, “Sudahlah jangan mengurusi urusan orang lain. Urus saja pekerjaan kalian!”



Seung Jo menghampiri Manager dan mereka membahas tentang perusahaan yang secara pendapatannya mulai menurun dari tahun lalu. Manager bilang bahwa pendapatan mereka menurun karena ada perusahaan game yang skalanya lebih internasional dan lagi permainan yang akan mereka luncurkan ini kehilangan dana sponsor jadi kemungkinan terburuk perusahaan bisa bangkrut.



Ha Ni sedang memasak dan meminta Eun Jo untuk menunggu beberapa menit lagi. Eun Jo sudah sangat lapar dan berkata, “Kita pesan dari restaurant saja.” Ha Ni tentu saja langsung menentangnya dan berkata, “Apa maksudmu? Makanan di Restaurant itu tinggi kalori, dan lagi mereka tidak menaruh sayuran tau.” Eun Jo berkata, “Y akau mengerti jadi cepatlah memasaknya. Lain kali jangan pura-pura mengetahui banyak hal!”

Tiba-tiba Ha Ni jadi panik karena masakannya gosong. Eun Jo berkata, “Aku penasaran dengan masakanmu. Aku harap kau tidak membuatku dan Kak Seung Jo sakit.”



Seung Jo sudah pulang dan Ha Ni langsung menyambut Seung Jo pulang. Ha Ni mau melepas jas Seung Jo namun Seung Jo langsung bertanya, “Hah ? Apa yang ingin kau lakukan?” Ha Ni menjawab, “Aku hanya ingin melepas jasmu.” Eun Jo berkomentar, “Dia ingin bersikap seperti pengantin baru.” Ha Ni berkata, “Apa maksudmu hah? Aku tidak mungkin berfikir seperti itu apalagi Paman(Bapa Seung Jo) sedang di rumah sakit. Ah Seung Jo cepatlah ganti baju sana.”



Ha Ni memasak banyak makanan dan Eun Jo bilang bahwa sup yang di masak Ha Ni itu terlalu asin jadi sebaiknya Seung Jo tidak memakannya. Seung Jo mencoba masakan Ha Ni dan ternyata belum matang. Eun Jo meminta Seung Jo untuk memuntahkannya agar tidak sakit perut. Namun Seung Jo terus menelannya dan bilang pada Eun Jo agar makan juga dan tidak berkomentar. Seung Jo memakan sup asin itu tanpa komentar dan Ha Ni tersenyum sambil berkata dalam hati, “Seung Jo memakan makanan mengerikan ini tanpa komentar.”



Ha Ni menelfon Papah dan bilang bahwa dia ingin membuat bekal makan siang untuk Seng Jo dan Eun Jo. Joon Gu mendengar hal itu dan tentu saja dia tidak suka hal itu karena Ha Ni akan membuat makanan untuk Seung Jo.



Seung Jo sudah mau pergi ke kantor dan Ha Ni memberikan bekal makan siang pada Seung Jo. Seung Jo bilang bahwa dia akan makan di kantin saja. Tapi Ha Ni melarang Seung Jo makan siang di kantin karena dia sudah membuat telur gulung khusus untuk Seung Jo dan Seung Jo pasti kaget jika membuka bekal makan siang yang sudah Ha Ni buat sejak subuh. Akhirnya Seung Jo mengambil bekal makan siang itu dan pergi. Ha Ni senang dan berkata, “Sampai jumpa!”

Eun Jo menghampiri Ha Ni dan berkata, “Mungkin kau lain kali akan memanggilnya “Suamiku.” Dan kau akan di panggil sebagai Pengantin baru Oh Ha Ni.” Ha Ni berkomentar, “Apa maksudmu? Kita tidak boleh berfikir seperti itu karen Bapamu masih di rumah sakit.” Eun Jo pamit pergi ke sekolah dan berkata, “Terserah kau. Aku pergi.”



Ha Ni keluar dari kelas dan langsung di hampiri oleh He Ra yang bertanya, “Ha Ni apa benar Bapa Seung Jo dirawat di rumah sakit?” Ha Ni menjawab, “Hmm ya. Tapi kau dilarang mengunjunginya dia harus tetap stabil sehingga tidak boleh ada pengunjung.” He Ra bertanya, “Lalu bagaimana keadaan Seung Jo? Aku pikir dia juga dilarang menemui Bapanya.” Ha Ni kebingungan dan menjawab, “Dia… Dia bekerja di perusahaan Bapanya sekarang.” He Ra berkomentar, “Oh. Terima kasih infonya,” Ha Ni langsung memukul mulutnya karena telah memberikan informasi penting pada He Ra.



Seung Jo membuka bekal makan siangnya dan dia tersenyum. Manager datang dan Seung Jo mengajak makan bersama namun Manager menolaknya. Manager mlihat bekal makan siang Seung Jo dan bertanya, “Apakah ini pacarmu yang membuatnya?” Seung Jo tertawa kaku dan menjawab, “Ah iya.” Manager berkata, “Kalau begitu aku akan datang lagi kemari setelah makan siang.”



Saat Seung Jo mau memakan bekal makan siangnya, Joon Gu datang dan mengambil bekal makan siang yang dibuat Ha Ni lalu mengganti dengan bekal makan siang buatannya sendiri. Seung Jo mau protes namun Joo Gu langsung bilang bahwa dia tidak akan membiarkan Seung Jo memakan masakan Ha Ni dan mulai sekarang dia akan ke kantor Seung Jo untuk mengambil bekal makan siang buatan Ha Ni.

Seung Jo bertanya, “Makanan buatanmu ini tidak di racuni kan?” Joon Gu menjawab, “Tentu saja! Aku tidak pernah main-main dengan makanan!” Seung Jo tersenyum dan berkata, “Baiklah kalau begitu aku akan makan dengan lahap.”



Joon Gu duduk di taman dan membuka bekal makan siang buatan Ha Ni. Joon Gu melihat bekal itu dan berkomentar, “Bekal ini tidak terlalu buruk. Tapi melihat hati Ha Ni untuk Seung Jo… hatiku tersayat-sayat. Tapi aku akan tetap mencoba makan siang buatan Ha Ni ini.”

Joon Gu memakan bekal itu yang ternyata rasanya tidak enak. Joon Gu berkata, “Ha Ni apa kau begitu tidak menyukai Seung Jo hingga rsanya seperti ini? Tapi… Ini masakan Ha Ni dan aku harus menghabiskannya. Tapi… aku tidak bisa memakan ini.”



Ha Ni menuruni tangga dan dia kaget saat melihat ada Seung Jo di ruang makan, “Apa yang kau lakukan disini tanpa lampu menyala?” Seung Jo menjawab, “Aku sedang berfikir.” Ha Ni bertanya, “Ada apa? Apa ada sesuatu? Aku bisa membantumu… ah mungkin juga tidak. Kalau begitu aku tidur dulu.” Seung Jo tiba-tiba berkata, “Bapa belum membaik keadaannya. Dia mungkin akan butuh operasi jantung. Aku mungkin akan bekerja di perusahaannya sementara karena terlalu banyak hal yang harus di atasi.”

Ha Ni bertanya, “Lalu bagaimana dengan sekolah kedokteranmu?” Seung Jo menjawab, “Tidak ada lagi alasan bagiku untuk melakukannya.” Ha Ni berkata, “Tentu ada! Bukankah ini pertama kalinya kau ingin melakukan sesuatu, mimpimu.” Seung Jo berkomentar, “Ini bukan mimpi. Aku hanya sedikit kagum saja. Tapi jika aku sekali masuk maka aku tidak tau bagaimana selanjutnya.”

Ha Ni bertanya, “Apa menyenangkan bekerja di perusahaan?” Seung Jo menjawab, “Tidak.” Ha Ni bertanya, “Lalu bagaimana kau bisa menjalani hidupmu dengan bahagia? Bukankah kau pernah berjanji akan menjalani hidpmu dengan bahagia?” Seung Jo menjawab, “Aku tidak peduli asalkan orang lain bahagia.” Ha Ni mendekati Seung Jo dan memeluknya dari belakang, “Apa yang harus aku lakukan?”



Ha Ni sedang duduk di kursi taman dan dia mendengar seorang mahasiswa yang sedang membicarakan Seung Jo yang akan keluar kuliah. He Ra menghampiri Ha Ni dan berkata, “Hmm sepertinya Seung Jo akan meneruskan usaha Bapanya. Seperti yang aku duga… Kupikir jika itu Seung Jo, akankah dia melakukannya? Lagipula keadaan Bapanya sedang tidak baik.” Ha Ni heran dan bertanya, “Dari mana kau tau hal itu?” He Ra tersenyum dan menjawab, “Apakah itu hal yang mengejutkan? Ini adalah hal yang mudah terfikirkan jika kau memikirkannya dengan benar. Khususnya bagaimana perasaan Seung Jo saat ini. Ya aku lihat dia mengambil cuti dan aku mengerti…”

Ha Ni bertanya, “Mengerti apa? Apa yang kau tahu mengenai Seung Jo?” He Ra menjawab, “Aku berfikir mengenai bagaimana cara agar aku bisa membantunya. Oh Ha Ni Bagaimana cara kau membantu Seung Jo dalam keadaan sulit begini? Dengan terus mengikuti kemana pun dia pergi? Atau merengek dan bialng bahwa semuanya akan baik-baik saja. Apakah seperti itu? Benar… Hanya itu yang kau bisa lakukan pada Seung Jo. Aku pergi.” He Ra meninggalkan Ha Ni yang duduk berfikir.



Seung Jo memimpin rapat dan bilang bahwa bermain game 2D diabad 21 ini sudah sangat membosankan jadi sebaiknya perusahaan mereka mencoba membuat game terbaru 3D. Karyawan memuji Seung Jo yang benar-benar jenius dengan IQ 200nya itu. Seung Jo hanya berkomentar, “Anda hanya tidak menggunakan otak anda secara maksimal saja. Otak akan berkarat jika tidak digunakan secara maksimal jadi apa nama permainan yang akan kita buat ini?” Para karyawan mulai berfikir dan ada yang berkata, “Bagaimana dengan Rusty?” Seung Jo setuju dan semua bertepuk tangan.

Seung Jo sangat bekerja keras untuk membangkitkan kembali perusahaan Bapanya ini hingga dia membawa pekerjaannya ke rumah dan mempelajarinya. Ha Ni diam-diam mengintip ke kamar Seung Jo dan melihat Seung Jo yang sedang serius bekerja.




Ibu Seung Jo pulang ke rumah dan Ha Ni bertanya, “Apa ada sesuatu yang terjadi?” Ibu Seung Jo menjawab, “Tidak. Aku kemari hanya untuk mengambil beberapa pakaian. Ha Ni terima kasih karena kau sudah mau membantuku. Aku juga sangat lega karena Seung Jo mau mengambil alih perusahaan Bapanya. Aku sangat terbantu sekali karena kalian.”

Ha Ni berkata, “Seung Jo selalu pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam bahkan dia masih bekerja hingga saat ini di kamarnya.” Ibu Seung Jo berkomentar, “Benarkah itu? Ini pasti sangat sulit untuk dia. Tapi kau baik-baik saja kan? Kau harus tetap kuliah dan juga mengerjakan pekerjaan rumah.” Ha Ni berkata, “Tidak apa-apa itu memang harus aku lakukan. Tapi… Ah ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu.” Ibu Seung Jo bertanya, “Hah? Apa itu?”



Pagi-pagi Ha Ni terburu-buru berlari menuruni tangga dan menghampiri Seung Jo yang sudah mau pergi. Seung Jo bertanya, “Kenapa terburu-buru?” Ha Ni menjawab, “Boleh aku menumpang? Aku akan pergi ke tempat yang sama dengan tempat yang akan kau datangi.” Seung jo kebingungan dan dia langsung bilang, “Kau? Tidak!!!” Ha Ni tersenyum dan berkata, “Aku di terima bekerja paruh waktu di kantor Bapamu. Jadi mohon bantuannya ya.”



Manager memperkenalkan Ha Ni pada karyawan lainnya dan Ha Ni memperkenalkan diri dengan ceria. Sementara Seung Jo hanya melihat Ha Ni dari jauh dan terlihat kesal.



Manager berbisik pada Seung Jo, “Investor sudah ada di bawah dan ingin bertemu dengan anda.” Seung Jo pun langsung menemui investor itu. Investor itu berkata, “Selama ini Baek Su Chan(Bapa Seung Jo) selalu membanggakan anaknya dan ternyata kau memang pantas di banggakan. Ah bagaimana keadaan Bapamu saat ini?” Seung Jo menjawab, “Dia sudah mulai membaik tapi kurasa dia memerlukan waktu istirahat.” Investor itu berkomentar, “Hmm sepertinya sudah saatnya aku membantu.”

Seung Jo memperlihatkan dokumen mengenai permainan yang akan di buat dan Investor senang dengan ide permainan itu. Investor berkata, “Aku rasa Bapamu akan sangat merasa lega karena memiliki anak sepertimu. Kau harus bisa membuat perusahaan ini menjadi lebih besar lagi.” Seung Jo berkomentar, “Kami akan memikirkan hal itu setelah melewati masa krisis kami terlebih dahulu.”



Ha Ni masuk ke ruangan Seung Jo untuk mengantarkan kopi untuk Investor itu. Investor itu bertanya, “Seung Jo, berapa umurmu?” Seung Jo menjawab, “Aku 20 tahun.” Investor kemabli bertanya, “Apakah kau memiliki pacar?” Ha Ni tersenyum senang dan merapihkan rambutnya. Seung Jo langsung menjawab, “Tidak.” Ha Ni kecewa mendengar hal itu. Investor bertanya, “Kenapa tidak punya? Aku lihat kau sangat terkenal.” Ha Ni menjawab, “Ya dia sangat terkenal tapi dia tidak pernah mempedulikan mereka karena dia lebih senang mendengarkan musik dan membaca. dia juga hebat dalam tennis dan memenangkan beberapa pertandingan. IQnya 200 dan dia bisa memasak seperti masakan koki. Dia sangat sempurna.”

Investor senang mndnegar itu dan memuji Seung Jo. Seung Jo lalu berkata, “Nona Ha Ni… Bisakah kau keluar sekarang?” Ha Ni tersenyum dan menjawab, “Ya baiklah.”



Seung Jo sedang di rumah sakit menunggui Bapanya. Manager datang dan meminta berbicara sebentar dengan Seung Jo. Manager berkata, “Sepertinya pertemuan dengan Tuan Yoon(Investor) itu berjalan lancar. Karyawannya datang dan menanyakan mengenai dana yang kita butuhkan untuk game kita.” Seung Jo bertanya, “Jadi menurutmu dia akan menginvestasikan uangnya pada kita?” Manager menjawab, “Hmm tapi ada sesuatu. Tuan Yoon sangat menyukaimu. Dia memiliki cucu perempuan dan dia bertanya apakah kau bisa menemui cucunya itu?”

Seung Jo bertanya, “Apa maksudmu ini seperti kencan yang sudah di atur?” Manager menjawab, “Ya. Dia mengatakan bahwa akan percuma jika menikahkan cucunya dengan orang lain. Dan kita membutuhkan dana dari dia. Aku sangat bingung karena ditanya secara mendadak, bagaimana menurutmu?” Seung Jo diam saja tidak berkomentar.



Ha Ni pulang ke rumah dan membawa belanjaan. Seung Jo membantu membawakan belanjaan itu dan Ha Ni tersenyum senang. Ha Ni berkata, “Ayo kita masak Bulgogi yang banyak. Aku rasa kau lelah jadi aku harus memanjakanmu dengan memasakan makanan untukmu.” Seung Jo menyimpan belanjaan itu dan kembali ke kamarnya. Ha Ni sangat senang dan berteriak, “Terima Kasih!!”



Seung Jo mengendarai mobilnya menuju suatu Restaurant dimana dia akan bertemu dengan Tuan Yoon dan juga cucunya. Saat Seung Jo mau memasuki ruangan pertemuan, dia sangat kaget karena melihat cucu dari Tuan Yoon itu adalah He Ra!! He Ra tersenyum dan berkata, “Hallo Baek Sung Jo.”


 

www.zoladiaries.blogspot.com

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: