Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Becoming A Billionaire Episode 6

pada 14 November 2010

Suk Bong terpaku melihat surat medis tes DNA di tangannya. Kang Woo juga tak percaya.

“Bong, ini bukan mimpi, kan? Presdir Lee adalah ayah kandungmu.”

Suk Bong masih sangat syok. Ia meminta Kang Woo mencubit pipinya. Kang Woo hendak mencubitnya tapi nggak jadi. Ia malah menyuruh Suk Bong yang mencubitnya saja karena ia tidak mungkin berani kurang ajar pada putra dari Oh Sung Group. Suk Bong mencubit pipi Kang Woo dan hasilnya ia menjerit sangat keras.



 

Ayah mendapat kabar melalui telepon. Ia merasa lega dan menangis terharu. Kepala Hotel datang dan ayah memberitahunya.

Kang Sook dan ibu juga di beritahu tentang hal ini. Ibu buru-buru pergi ke toko daging.

Berita mengenai Suk Bong cepat menyebar di dalam Hotel. Suk Bong kembali ke hotel dan disambut bak seorang pangeran. Semua berebut melayani Suk Bong. Suk Bong cuma senyum-senyum saja mendapat perlakuan seperti ini. Merasa ini memang sudah seharusnya. Kepala Hotel juga tak mau kalah. Ia membawa Suk Bong ke ruangannya bahkan rela mengelap sepatunya. Ia juga memberi Suk Bong minuman dan memijatnya (dasar penjilat…)




Di rumah Suk Bong juga mendapat perlakuan yang istimewa. Ibu memasak makanan yang enak-enak khusus untuknya. Semua keluarga sangat heran karena biasanya ibu kurang ramah pada Suk Bong dan selalu berteriak minta uang sewa kamar. Mendengar itu Ibu berkelit dengan memberikan Suk Bong surat pembebasan uang sewa kamar.


 

Suk Bong datang menemui Shin Mi dan menyerahkan surat hasil tes DNA. Shin Mi tak percaya dengan yang dilihatnya.

“Dari mana kau dapatkan rambut Presdir?” tanyanya tajam.

“Dari Presiden Wang saat acara ulang tahunnya. Ibu Presiden Wang sendiri yang mencabutnya untukku,” jawab Suk Bong. Shin Mi melirik tak percaya. Suk Bong memaklumi jika Shin Mi belum mempercayai kenyataan ini.



 

Woon Suk sedang mandi sauna dengan ayahnya. Mereka membicarakan kedekatan Woon Suk dengan Shin Mi. Ayahnya memperingatkan Woon Suk agar hati-hati dengan ayah Tae Hee. Jika Woon Suk sampai menyakiti Tae Hee, Bu Hoo Group bisa saja memutuskan kontrak kerja dengan mereka.


 

Shin Mi membawa Suk Bong menghadap ayahnya. Presdir menanyakan kalung pada Suk Bong.

“Pertama tolong terima hormatku dulu.” ucap Suk Bong lalu memberi Presdir hormat dengan formal. Presdir terlihat bingung. Suk Bong kembali duduk dan menyerahkan surat hasil tes DNA pada Presdir.

“Sebagai pengganti kalung. Aku bawakan surat ini.”

“Ini apa?” tanya Presdir makin bingung. Shin Mi juga menanyakan apakah rambut ayahnya pernah dicabut saat ulang tahun Presdir Wang. Presdir mengiyakan.

Saat Presdir hendak membuka amplop surat itu, gangguan datang. Seseorang datang dan memberitahu Presdir bahwa Axe anjingnya muntah dan pingsan lagi. Presdir bergegas pergi dan melempar amplop itu begitu saja. Suk Bong melarangnya, tapi Presdir tak menghiraukannya. Ia menyuruh Suk Bong meletakkan amplopnya disitu saja. Suk Bong kesal mendapati hal seperti ini terulang lagi. Shin Mi juga kesal dan pergi keluar.



Suk Bong bahkan berani memanggil Shin Mi dengan sebutan kakak.

“Noona!” seru Suk Bong di belakang Shin Mi.

Shin Mi berbalik dan berteriak marah “Noona?”

“Ya. Lebih mudah dari yang kubayangkan. Noona!” panggil Suk Bong lagi.

“Tutup mulutmu!” hardik Shin Mi.

“Aku tidak boleh memanggilmu kakak. Apakah aku harus memanggilmu ibu?” canda Suk Bong

Shin Mi semakin marah. Ia berjalan pergi, tapi Suk Bong memanggilnya lagi dan memintanya foto bersama. Ia memegang bahu Shin Mi dengan paksa.

“Kakak, jangan menyukaiku sebagai laki-laki,” ucapnya sambil menghadapkan kamera ponselnya. Shin Mi sangat kesal dan menginjak kaki Suk Bong dengan hak sepatunya yang lancip. Suk Bong meringis menahan sakit. Dan Shin Mi bisa membebaskan diri bersamaan dengan bunyi ponselnya. Woon Suk mengajaknya makan siang.



 

Di kantor Tae Hee senang mendapat informasi dari Sekretaris Yoon. Ia berhasil mengorek informasi itu dari Kepala Hotel.

“Apa, orang itu benar-benar adalah anak haram dari Oh Sung Group?”

“Benar. Sudah dilakukan tes DNA. Sudah dapat dipastikan adalah anak kandung.”


 

Shin Mi makan siang dengan Woon Suk. Ia melamun dan tak menyentuh makanannya. Woon Suk membantunya memotong daging steak. Ia menanyakan keadaan Shin Mi. Kemudian mengambil garpu Shin Mi dan menyuapinya makan. Tiba-tiba Suk Bong ikut nimbrung. Suk Bong mengambil garpu ditangan Woon Suk dan menyodorkannya pada Shin Mi.

“Makan. Hargailah kebaikannya,” ucap Suk Bong. Shin Mi tertawa sinis.

Suk Bong meminta maaf pada Woon Suk dan hendak memakan steak itu. Tapi Shin Mi merebutnya dan langsung memakannya.




Suk Bong menyerahkan bungkusan berupa baju Woon Suk yang dulu dipinjamnya. Woon Suk mengatakan seharusnya Suk Bong tak perlu mengembalikannya. Shin Mi melotot padanya. Ia tak tahu Suk Bong pernah bermalam di rumah Woon Suk.

“Hey, jangan melihatku seperti itu. Nanti matamu bisa copot!” ucapnya pada Shin Mi. Lalu ia melihat daging steak yang dipotong Woon Suk dan mengomentarinya.

“Manager Choo, kakakku tidak menyukai pria yang memotong daging steak miliknya.”

“Kakak…” Woon Suk terkejut.

Suk Bong hendak menjelaskan, tapi Shin Mi buru-buru menyumpalkan daging ke mulutnya. Mereka akhirnya bertengkar. Woon Suk hanya diam saja melihat pertengkaran kecil didepannya. Kemudian Suk Bong menyadari bahwa tidak ada pengunjung selain mereka.

“Sebenarnya aku sudah memesan semua tempat. Sudah lama aku tidak makan bersama Shin Mi.” ucap Woon Suk. Shin Mi terbelalak.

“Apa? Sunbae, apa kamu sudah gila? Kamu menghabiskan uang untuk memesan semua tempat. Berapa banyak uang yang sudah kau habiskan?” seru Shin Mi marah. Suk Bong sampai menyenggol lengannya, tapi untuk masalah yang berhubungan sama pemborosan uang Shin Mi nggak bisa mentolerir. Kemudian ia memanggil Manager restoran dan meminta restoran segera di buka untuk tamu lain.

“Maaf, hari ini Manager Choo membooking semua tempat. Jadi seluruh karyawan tidak masuk kerja.”

“Bukankah disini ada. Pelayan.” Shin Mi menunjuk mereka bertiga. Suk Bong dan Woon Suk saling lirik.



 

Restoran dibuka.

Shin Mi memberikan celemek untuk Woon Suk dan tidak mau memberi Suk Bong. Ia malah mengibaskan celemek dengan kasar saat Suk Bong mengangsurkan tangannya. So Jung berbaik hati memberinya celemek.



Mereka mulai bekerja. Shin Mi memberi perintah kepada semua pelayan. Ia juga meminta Woon Suk yang tidak pernah menjadi pelayan agar melayani para tamu dengan cepat. Dua orang pelayan restoran yang asli sampai sebal melihat gaya Shin Mi yang sok bossy. Suk Bong hendak membantu Shin Mi, tapi ditolak dengan kasar. Akhirnya ia membantu Woon Suk yang salah mengantarkan pesanan. So Jung di meja kasir cuma bisa memandang kasihan pada dua pria ganteng itu yang terpaksa jadi pelayan.

 

Tae Hee datang ke restoran. Ia tak percaya saat melihat Woon Suk tengah melayani tamu restoran. Ia menghampiri Woon Suk dan menanyakannya sedang melakukan apa di restoran. Sikapnya mulai lebay dengan berteriak meminta Woon Suk melepas celemeknya dan menangis sedih. Shin Mi mendekat.


Bwahaha Woon Suk sampe nutup kuping denger teriakan Tae Hee.


Tae Hee menumpahkan kemarahannya pada Shin Mi. “Bagaimana bisa kau membuatnya seperti ini?”

Shin Mi malah sengaja memanas-manasi “Sunbae, tamu sudah datang. Tolong, kau layani sebentar!”

Tae Hee berteriak marah.

“Ya, ayahmu memang lebih hebat dari ayahku. Ayahmu mempunyai anak haram, sedangkan ayahku tidak. Bahkan akan dijadikan pewaris. Aku sangat terkejut!”

Suk Bong datang dan mengusir Tae Hee keluar. Tae Hee menyadari dirinya sudah membuat keributan dan pergi dari sana,

“Jangan pedulikan dia,” hibur Suk Bong. Shin Mi bukannya berterima kasih malah menendang tulang kering Suk Bong (ouch, pasti sakit ya oppa?).


“Semua salahmu. Segera menghilang dari hadapanku!” ucap Shin Mi seraya pergi. Suk Bong meringis kesakitan sambil memegang kakinya.

Shin Mi menyerahkan hasil penjualan pada Manager Restoran. Ia juga mengambil uang untuk bayarannya.(dasar, nggak mau rugi banget neh orang).


Di luar Suk Bong tengah menunggu. Shin Mi keluar bersama Woon Suk. Suk Bong bersembunyi di balik dinding. Ia mendengarkan pembicaaan mereka yang membahas tentang dirinya. Setelah Shin Mi pergi, Suk Bong mendekati Woon Suk. Ia bertanya pasti Woon Suk kaget mendengar kabar ini. Di luar dugaannya Woon Suk yang ia kira pria ramah tiba-tiba berubah dingin padanya.

“Kelak, kau jangan ikut campur antara hubunganku dengannya!” ancamnya lalu pergi.




 

Tae Hee kembali merengek pada ayahnya yang tengah bermain golf untuk memberi pelajaran pada Woon Suk. Ayahnya menolak. Tae Hee memancing dengan menyebutkan ia punya cara untuk mengalahkan Oh Sung Group.


 

Shin Mi menemui ayahnya tengah malam. Ia menyerahkan amplop surat yang ia ambil dari brankas milik ayahnya tempo hari.

“Aku tidak bisa mengerti kenapa ayah bisa membuat surat cinta seperti ini. Dan surat itu bukan untuk ibu, tapi untuk wanita lain. Bagaimana bisa kau berbuat seperti ini?” ucap Shin Mi. “Apakah karena ada anak diluar nikah. Itulah sebabnya kau belum memutuskanku sebagai pewaris tunggal.”

Presdir bangkit. “Ada orang yang menolong nyawaku. Aku hampir saja mati,” ucapnya kemudian pergi.



 

Suk Bong tengah bersedih di kamarnya. Ia sedang ditemani oleh Kang Woo.

“Dia bilang sampai matipun tidak akan mengakuiku. ” Suk Bong mulai curhat. “Tapi memikirkan Direktur Lee adalah kakakku sangat aneh. Benar-benar aneh.”

“Tentu saja. Selama 20 tahun ini kau selalu sendirian.” Kang Woo menyenderkan kepalanya di bahu Suk Bong. Suk Bong mengingat Shin Mi dan tertawa.



 

Suk Bong menemui Kepala Hotel dan menyerahkan surat pengunduran diri. Kepala Hotel memakluminya sebagai calon pewaris Oh Sung. Kepala Hotel menyuruh Suk Bong duduk. Tiba-tiba Yoon Do teman sesama bellboy Suk Bong datang. Ia berbicara pada Suk Bong.

“Waktu kau bilang adalah anak orang kaya, aku mengira kau gila. Tapi aku tahu aku yang gila. Aku ingin meminta tolong padamu,” ucapnya kemudian bersujud di depan Suk Bong,

“Tolong bantu biaya operasi adikku. Apakah kamu bisa meminjamkan uang padaku?”

Suk Bong bangun dan menyanggupi meminjamkan uangnya pada temannya itu.



 

Byung Do sedang mencari kontrakan. Ia datang ke wilayah rumah Suk Bong. Ibu Kang Woo tengah memasang kertas informasi penyewaan kamar bekas Suk Bong (ia mengira Suk Bong akan segera pindah). Byung Do mendekat. Ibu Kang Woo menawarkan kamar padanya. Ia kaget saat melihat kalung yang dipakai pria itu dan menanyakan bagaimana kalung itu berada padanya. Seperti biasa Byung Do enggan menjawab pertanyaan itu dan menyelinap masuk ke kamar Suk Bong.




 

Suk Bong bertemu dengan Presdir. Ia menyerahkan surat tes DNA itu padanya. Presdir terkejut. Ia menelepon meminta anak buahnya untuk menyuruh Suk Bong segera mengundurkan diri dari hotel. Suk Bong senang. Ia mengira Presdir menerimanya. Tapi kemudian Presdir menyobek surat-surat itu lalu mengusirnya pergi dan jangan muncul lagi di hadapannya.

 



 

Suk Bong pusing karena Presdir tidak mau mengakuinya. Ia ingat kalungnya. Jika kalungnya masih ada ia bisa membawanya sebagai bukti. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia menerima sebuah MMS foto kalung miliknya dan sebuah pesan ‘Kalau ingin kalung, datanglah ke jalan universitas Taman Marronier’

Shin Mi menerima MMS juga yang sama.





 

Woon Suk memberi hadiah lukisan pada Direktur Boo. Woon Suk meminta Direktur Boo menanamkan kembali investasi yang sudah ditariknya. Direktur Boo meminta maaf. Ia tidak bisa menolak permintaan putri kesayangannya Tae Hee.


 

Suk Bong berlari menemui Byung Do. Ia melihat Byung Do sedang bermain judi di pinggir jalan.


Suk Bong berlari kesana langsung menanyainya tentang kalung. Lagi-lagi Byung Do menjawab daging. Ia minta dibelikan daging Korea. Suk Bong langsung mengeluarkan dompetnya dan memberinya uang.

“Jangan mudah mengeluarkan dompetmu”

“Kau sebenarnya ingin apa?” Suk Bong berusaha bersabar.

“Belilah daging jangan dari dompetmu,tapi dari dompet orang lain.”

Suk Bong bingung. Ia nekat meminjam uang pada seorang gadis pejalan kaki. Gadis itu tentu saja mengatai Suk Bong sudah gila. Lalu ia melihat pengemis. Dan ia mencoba mencari uang dengan mengemis. Tapi setelah lama menunggu tak ada satupun orang yang memberinya uang (ya iyalah, orang pengemisnya cakep plus bajunya necis). Usahanya gagal.



 

Di lain tempat Woon Suk menemui Tae Hee di kantornya. Ia tak takut pada ancaman dari Tae Hee yang berniat balas dendam dengan menjatuhkan perusahaan Frontier miliknya.


Woon Suk makin cakep aja.

Suk Bong kesal dan kembali pada Byung Do. Ia marah-marah kemudian mendapat ide setelah melihat sebuah band yang sedang manggung. Lalu ia juga melihat seorang pengamen dengan gitarnya. Dengan berbekal sebuah gitar, Suk Bong mulai mengamen. Ia menyanyi sambil memetik gitar (kayaknya suara asli Ji Hyun Woo deh). Awalnya hanya satu orang yang tertarik pada penampilannya, lama kelamaan para pejalan kaki mengerubunginya dan memenuhi kotak uang miliknya. Penonton di depan panggung juga mulai beralih mendekatinya. Para pemain band pun ikut-ikutan melihat aksinya. Mereka mengajak Suk Bong bergabung. Suk Bong memberi syarat dengan meminta hasil mengamen dibagi dua. Mereka setuju dan memulai konser pinggir jalan mereka. Suk Bong bernyanyi dengan percaya diri. Penonton semakin banyak dan menyukai aksi panggungnya. Kotak uang juga semakin penuh.



Shin Mi naik mobil kesana naik mobil bersama So Jung. So Jung girang saat melihat ada pertunjukan band dan memaksa Shin Mi mendekat. Shin Mi telihat ogah-ogahan. So Jung sangat terkejut saat melihat Suk Bong lah yang menjadi vokalis dan berteriak kagum. Shin Mi malah terlihat kesal.



Selesai manggung Suk Bong mendapat uang banyak dan memberikan semuanya pada Byung Do. Byung Do lalu mengembalikan kalung miliknya.


 

Boo Kwi Ho mengajak musuh bebuyutannya Lee Jong Heon bertemu. Mereka minum arak di restoran. Boo Kwi Ho menyindir Presdir Lee yang tiba-tiba mempunyai seorang anak laki-laki. Presdir Lee hanya menjawab jika bicara jangan asal. Ketua Yoo datang dan membisikkan sesuatu.


Ternyata Suk Bong ingin bertemu dengannya. Ia menyerahkan kalung sebagai barang bukti.

“Apa sekarang anda bisa mengakuiku sebagai anak?”


Presdir diam saja malah minta di panggilkan Shin Mi. Mereka bertiga pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA lagi. Hasil tes DNA keluar. Shin Mi yang pertama kali membuka surat itu. Suk Bong penasaran dan mengambil dari tangannya. Suk Bong membaca dan terkejut. Ia tak percaya pada hasil tes yang menyatakan tidak ada hubungan darah.



Ia protes pada dokter dan menyerahkan surat tes DNA yang pertama. Disana jelas-jelas menyatakan ada hubungan darah. Dokter membuat kemungkinan rambut yang dites bukan rambut Suk Bong. Suk Bong jelas menyangkal dan bilang itu rambutnya yang ia ambil dari sisir yang biasa ia gunakan. Shin Mi ingat ia pernah menggunakan sisir itu saat mereka pernah menginap di pemancingan.

“Aku juga pernah pakai,” ucap Shin Mi. Presdir memandangnya curiga. Shin Mi agak malu.

Suk Bong sangat syok. Ia hanya terduduk lemas di kursi. Presdir dan Shin Mi hendak pulang. Suk Bong mencegah mereka.



“Bagaimana dengan lambang di amplop surat itu?” tuntutnya minta penjelasan.

“Surat itu adalah milik adikku yang mengirimnya untukku,” beritahu Presdir. “Surat itu yang menulis adalah pacar adikku.”

D luar Shin Mi menawarkan diri untuk menyetir. Ayahnya menolak. Ia bisa sendiri.

“Dalam hidupku hanya ada seorang wanita yaitu ibumu.” ucap Presdir pada Shin Mi. Kemudian Presdir pergi. Dari arah belakang Suk Bong berjalan dengan gontai. Shin Mi mendekatinya dan mengejeknya (Duh, Shin Mi nggak tahu apa kalo Suk Bong lagi sedih banget). Suk Bong diam saja tak menanggapi ucapan pedas Shin Mi. Ia menatap Shin Mi lalu tiba-tiba jatuh pingsan (tuh, kan…).



 

Shin Mi membawa Suk Bong ke rumah sakit. Suk Bong masih pingsan saat dokter datang. Shin Mi menanyakan keadaan Suk Bong. Dokter memberitahu mengenai kankernya. Shin Mi kaget. Selama ini dia mengira kanker Suk Bong itu cuma bohongan. Kang Sook masuk bersama Kepala Hotel. Shin Mi keluar dan ia penasaran bertanya pada dokter penyakit kanker Suk Bong. Sebelum dokter menjawab ia teringat perkataan Suk Bong yang melarangnya mengorek informasi mengenai kankernya. Ia mencegah dokter memberitahunya.



 

Di kantor Shin Mi masih penasaran mengenai kanker yang diderita Suk Bong. Ia sampai mencarinya di internet dengan kata kunci kanker harga diri. Tadi di rumah sakit Kang Sook yang menyebut-nyebut kanker harga diri. Shin Mi bertanya pada So Jung.


“Sebenarnya harga diri pria ada dimana?”

“Jika bilang harga diri. Apakah ada disana?”

“Dimana?”

“Itu…” So Jung berkata ragu-ragu.” Tempat pria membuang air.”

“Tempat membuang air ada dimana?” tanya Shin Mi dodol sambil minum. Mendadak ia sadar dan menyemburkan air yang diminumnya.

 

Presdir Lee menemui seseorang (mungkinkah itu adiknya?). Ia melihat pria yang sedang asyik menggambar. Gambar pria itu sama seperti lambang pada kalung Suk Bong (dan mungkin juga ayah Suk Bong?) 



 

Di rumah sakit Suk Bong masih syok. Kepala hotel memijat kakinya (masih belum tahu kalo Suk Bong bukan anak Presdir Lee) sambil menelepon Shin Mi. Kang Sook memberi Suk Bong minum. Suk Bong kesal melihat Kepala Hotel dan merampas teleponnya lalu dengan marah mengusir Kepala Hotel.


 

Kang Sook melapor pada ibunya bahwa hasil pemerikasaan tes DNA salah. Suk Bong bukanlah putra dari Oh Sung Group. Ibunya tiba-tiba merasa pusing.

 



Suk Bong berjalan gontai keluar dari ruang dokter. Dokter menyarankan ia harus secepatnya melakukan pengobatan karena penyakit kanker yang di deritanya semakin parah. Jika tidak peluang hidupnya semakin menipis. Kang Woo dan Ayah ikut bersedih untuknya. Sekarang Suk Bong pengangguran dan uang 100 juta miliknya sudah ia berikan pada Yoong Do.

Suk Bong keluar dari rumah sakit. Kang Woo mengejarnya dan bertanya Suk Bong mau kemana. Suk Bong berpapasan dengan Shin Mi. Suk Bong mengacuhkannya.



“Kau mau pergi kemana?” tanya Shin Mi. Ia juga menyarankan Suk Bong segera melakukan pengobatan.

“Apa kau benar-benar orang kaya? Apakah anak orang kaya yang dalam kondisi berbahaya masih tak mau mengeluarkan uang!” (mungkin Shin Mi mengira Suk Bong sayang memakai uang 100 juta pemberiannya)

“Diam. Aku memang orang yang menyedihkan yang selalu mencari ayah kaya yang belum pernah kutemui. Aku menghabiskan seluruh hidupku dan ditambah kena kanker. Teman-temanku selalu bermain dengan ayahnya sedangkan aku di kamar yang gelap makan sendirian. Apa kau bisa mengerti perasaan anak yang merindukan ayahnya!” seru Suk Bong seraya memegang bahu Shin Mi. Kemudian ia berlalu pergi.

 

Suk Bong mendatangi makam ibunya. Ia sangat sedih bahkan ingin menyusul ibunya. Suk Bong duduk menyender di makam ibunya sampai ketiduran.



 

Esok paginya Su Bong baru meninggalkan makam ibunya. Ia berjalan tanpa semangat. Tae Hee sedang di mobil sambil membaca berkas/informasi tentang Suk Bong. Tiba-tiba Sekretaris Yoon berseru saat melihat Suk Bong. Tae Hee turun dari mobil dan menghadang Suk Bong.



“Kita bicara,” ucapnya.

Suk Bong sedang malas menanggapi Tae Hee. Ia mengacuhkannya dengan terus berjalan. Tae Hee marah dan meneriakinya. Tiba-tiba Tae Hee terkejut saat melihat kalung Suk Bong dan menyentuhnya.

“Kalung ini kenapa ada padamu?” tanyanya.

Suk Bong ikut terkejut. “Apa kau tahu tentang kalung ini?”



 

Sumber :

http://dewi-febriana.blogspot.com

 


8 responses to “Becoming A Billionaire Episode 6

  1. ika mengatakan:

    apa ya judul lagu yang dinyanyikan seok bong waktu ngamen??? Lagunya enak ^^

    Mohon jawabannya…

  2. Mita mengatakan:

    Hii….msh pnsran sma lagu pd episode 14,,,pkkx pada saat seok bong sma shin mie ada di atas gedung….!!

    Lagux dinyanyiin sma penyanyi cewek,,,pkkx satu2x penyanyi cewek yg jd ost becoming a billionaire..!!

    Siapa n apa judul lagu ea???Penasaran nich,,,cz lagux enak bgt !!
    Gomawo,,,slm knl sblmx..🙂

  3. poohhuy mengatakan:

    klo lagu yg ada kata2 “haru..haru..” yg agak sedih lagunya itu judulnya apa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: