Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Becoming A Billioner Episode 15

pada 30 November 2010



“Ayahmu adalah Kang Chul Min,” beritahu Direktur Boo Kwi Ho. “Dia sahabat dari Jeong Tae.”
Suk Bong kaget mendengar informasi ini. “Kang Chul Min?”
Boo Kwi Ho mengangguk. “Benar.”
“Dia juga bersahabat dengan Lee Jong Heon,” Boo Kwi Ho menambahkan.
“Apa yang anda maksud Presiden Lee Jong Heon?”
“Benar.”
“Jadi sekarang dimana ayah saya?”
“Sudah tidak ada.”
Suk Bong kaget “Apa?”
“Sudah tidak ada di dunia ini. Dia sudah lama meninggal.”


Tiba-tiba Tae Hee berlari ke arah mereka. Ia menghadap ayahnya. “Benarkah?” tanyanya kaget. “Ayah Suk Bong galak sudah meninggal?”

Ayahnya sekali lagi membenarkan ucapannya. Suk Bong terkejut dan tak percaya pada apa yang didengarnya.

“Ini tidak mungkin.” ucapnya lirih.

“Jika kau tak percaya padaku, tanyakan saja pada Lee Jong Heon? Dia ada saat ayahmu meninggal.”

 


Shin Mi tengah membereskan kamar ayahnya di rumah sakit. Suk Bong datang dan menanyakan Presdir Lee.

“Dimana Presiden?”

“Ada apa?” tanya Shin Mi.

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Presiden Lee.”

“Sampaikan saja padaku. Dia sedang dalam tahap pemulihan pasca operasi.” ucap Shin Mi. Suk Bong hendak pergi, tapi dicegah oleh Shin Mi.

“Kenapa kau mencari ayahku?” tanyanya.

“Direktur…Ayahku…”

“Kau sudah tahu siapa ayahmu?” tebak Shin Mi. Suk Bong mengangguk.

Lalu Shin Mi mengatakan apakah ayah Suk Bong itu Kang Chul Min. Suk Bong kaget karena Shin Mi sudah mengetahui hal ini. Shin Mi juga sudah tahu bahwa Kang Chul Min sudah meninggal.

 


Boo Kwi Ho membawa Tae Hee pulang. Ia mengomeli Tae Hee yang sepertinya sangat peduli pada masalah Suk Bong. Tae Hee salah tingkah. Ia mulai berkelit. 

“Aku kira kami sepupu.”

“Anak nakal…Apa kau tak mempunyai otak?” omel Boo Kwi Ho.

Direktur Boo mengingatkan Tae Hee agar menjauhi Suk Bong. Ia sudah memenuhi permintaan Tae Hee yang menginginkan Woon Suk dengan menggabungkan perusahaan Boo Hoo dan Frontier.

“Merger perusahaan bukan hal main-main,” tandasnya.

 


Shin Mi duduk bersama Suk Bong. Ia mengatakan bahwa ayahnya yang memberitahunya masalah ini. Presdir Lee memberitahunya sesaat sebelum masuk ruang operasi bahwa ayahnya dan Chul Min ayah Suk Bong adalah teman baik. Ia bertanya pasti Suk Bong sangat shock mendengar fakta ini. Suk Bong memang shock apalagi ia juga harus menerima kenyataan bahwa ayah kandungnya yang selama ini ia cari ternyata sudah meninggal. Tangannya gemetaran. Shin Mi prihatin dan mencoba menenangkannya dengan menggenggam tangan Suk Bong (kenapa gak dipeluk aja seh…?)





Mendadak Woon Suk masuk. Ia datang sambil membawa buket bunga. Shin Mi melepas tangan Suk Bong dan bangkit.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Shin Mi sinis.

“Aku mendengar Presiden sakit. Bagaimanapun juga dia hampir menjadi ayah mertuaku. Jadi aku harus menjenguknya.” jawab Woon Suk. Shin Mi kesal mendengar ucapan Woon Suk.

Woon Suk meletakkan bunga yang ia bawa di atas ranjang. Shin Mi mengambil bunga itu dan membuangnya ke lantai. Woon Suk memungut bunga itu.

“Ini juga salah satu alasanku datang kesini untuk menyarankan Presiden memperbaiki kelakuan putrinya.” 

“Apa?” Shin Mi makin kesal. 

“Kau tak usah bersikap seperti itu. Tentu saja aku tak menyukainya. Tapi bagaimanapun aku membawa itu untuk menunjukkan ketulusanku,” ucap Woon Suk sambil melempar bunga itu diatas ranjang lalu pergi.



Shin Mi mengambil bunga itu dan hendak mengejar Woon Suk. Suk Bong yang terlihat sangat lemah mencegahnya dan mengatakan bahwa ia saja yang akan keluar. Suk Bong bangun dan mengambil bunga itu dari tangan Shin Mi lalu pergi.



 

Suk Bong berbicara dengan Woon Suk di kantin rumah sakit. Ia mengembalikan bunga itu pada Woon Suk. Lalu ia bertanya pada Woon Suk apakah ayahnya sudah meninggal. Woon Suk diam saja. Suk Bong dapat menyimpulkan diamnya Woon Suk. Ia mengomentari Woon Suk yang tahu segalanya. Suk Bong bangun dan hendak pergi.


“Sudah ditemukan?” Woon Suk buka suara. Suk Bong berhenti. “Itu sebabnya kau datang kesini?” Woon Suk ikut berdiri. “Sekarang kau sudah tahu tentang kematian ayahmu. Wajar jika kau membenci semua orang yang mengenalnya, Presiden Lee Jeong Heon. Kau marah padanya? Jika begitu kita ada di pihak yang sama.” Woon Suk mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Suk Bong.

Suk Bong tak menggubrisnya. Ia memutuskan pergi. Woon Suk menahannya lagi.

“Tunggu,” serunya. Ia berbalik ke arah Suk Bong setelah mengambil bunga diatas meja “Mengapa kau tak memanfaatkan bunga ini dan pergi mengunjungi makam ayahmu? Sejak kau dilahirkan, pasti ini pertama kalinya kau bertemu dengan ayahmu. Tentu kau tidak ingin pergi dengan tangan kosong.”

Suk Bong marah dan memukul wajah Woon Suk. Bibir Woon Suk berdarah.


Suk Bong hendak melayangkan pukulannya lagi, tapi segera dicegah oleh Shin Mi yang menyusul mereka kesana. ia memegangi tangan Suk Bong dan menatap tajam ke arah Woon Suk. Lalu mengajak Suk Bong pergi.



 

Suk Bong melihat keadaan Presdir Lee di ruang ICU. Dokter datang. Ia melaporkan bahwa keadaan Presdir belum stabil. Ia mewanti-wanti agar Presdir tak menerima berita yang mengejutkan yang bisa membahayakan jantungnya.



 

Di luar Shin Mi menanyai Suk Bong yang pasti ingin berbicara pada ayahnya. Suk Bong mendapat SMS dari Woon Suk. Ia memberikan Suk Bong alamat dimana ayahnya dimakamkan.


 

Suk Bong sedang bersedih di kamarnya. Ia memandangi HP-nya melihat SMS dari Woon Suk yang berisi alamat tempat pemakaman ayahnya.


 

Pagi hari ia pergi ke makam ayahnya Kang Chul Min. Suk Bong menangis sedih. Ia menyentuh nisan ayahnya yang terukir lambang seperti di kalungnya.



 

Shin Mi bersama So Jung di kantor. So Jung memberitahu bahwa Suk Bong mengambil cuti kerja. Setelah So Jung pergi. Shin Mi mengambil HP-nya dan terlihat mencemaskan Suk Bong.




Suk Bong masih di makam ayahnya. Ia berlutut didepan makan ayahnya. Tiba-tiba turun hujan. Suk Bong seakan tak peduli dan masih diam di tempatnya.



Setelah dari makam dengan pakaian basah kuyup Suk Bong pergi ke rumah sakit menemui Jeong Tae. Ia menumpahkan kesedihannya disana.


“Ayahku sudah meninggal. Susah payah aku mencarinya dan menunggunya dengan menderita. Andai aku bisa melihat wajah ayahku sekali saja. Memegang tangannya dan memanggilnya ayah sekali saja.” isak Suk Bong.

Jeong Tae mendekat dan berempati dengan mendengar keluh kesah Suk Bong. Suk Bong terus menangis dan jongkok di depan Jeong Tae.




“Mengapa tak pernah terpikirkan bahwa ayahku sudah meninggal. Mengapa aku seperti orang tolol. Ayahku sama sekali tak tahu bahwa aku ada. Mengapa ia pergi begitu saja? Andai aku bisa bertemu dengannya sebelum meninggal.”

Jeong Tae menepuk bahu Suk Bong (hiks…hiks…ikutan nangis neh).



Shin Mi mengadakan rapat. Ia berdebat dengan Mun Dae Myung yang tak mau mengerjakan proyek Eco Card tanpa kehadiran Suk Bong. Mun Dae Myung ingin menunggu Suk Bong sampai masuk kerja lagi kaena ini proyek mereka bersama. Shin Mi marah.

“Lalu apa yang kau kerjakan selama Suk Bong absen?”

“Fotokopi,” jawab Mun Dae Myung sambil menyemprotkan spray ke mulutnya.


 

Karena terlalu mendapat tekanan Suk Bong sampai pingsan. Ia berbaring di tempat tidur Jeong Tae. Jeong Tae memandangi wajah Suk Bong. Ia meraih tangan Suk Bong dan menggenggamnya.



 

Woon Suk membawa Tae Hee ke rumahnya. Mereka habis pergi jalan-jalan. Woon Suk mempersilahkan Tae Hee duduk dan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Tae Hee bilang bahwa Woon Suk tak usah repot-repot menaruh cincin ke dalam minuman itu karena ia sudah menerima kalung darinya. Tentu saja Woon Suk tak punya rencana seperti itu. Mengingat ia pernah melakukan itu saat melamar Shin Mi malah cincinnya hampir ditelan oleh Suk Bong. Woon Suk menyarankan Tae Hee menyetel music player. Tae Hee mengambil remote di atas meja. Di bawah remote itu ada secarik kertas.

 


Tae Hee menariknya dan terkejut saat melihat kertas itu adalah alamat pemakaman ayah Suk Bong. Ia teringat perkataan ayahnya saat memberitahu Suk Bong bahwa yang mengetahui makam Chul Min hanya Lee Jeong Heon. Tae Hee segera menyembunyikan kertas itu di dalam gips-nya tanpa sepengetahuan Woon Suk.

 

Suster masuk ke kamar. Suk Bong tersadar dari pingsannya. Suster menanyakan keadaannya dan memberitahunya bahwa ia baru saja pingsan. Jeong Tae yang meminta Suk Bong dibaringkan di atas tempat tidurnya. Lalu suster menyerahkan baju ganti yang dipinjamkan Jeong Tae untuk Suk Bong karena baju Suk Bong basah.


Suk Bong berganti pakaian. Ia meminta maaf pada Jeong Tae karena menyusahkannya. Lalu berpamitan pergi. Jeong Tae menahan tangannya dan memberinya payung karena diluar masih turun hujan.

Di luar Suk Bong memakai payung pemberian Jeong Tae.



 

Shin Mi melihat keadaan ayahnya yang sedang tertidur. Pengurus rumah menanyakan Suk Bong yang katanya mengambil cuti. Shin Mi kesal Pengurus rumah ikut campur dalam hal ini. Ia meminta dirinya menjaga ayahnya saja dengan baik lalu pergi keluar. 

Shin Mi menelepon Suk Bong. Ia benar-benar mengkhawatirkannya. 


“Kau ada dimana?” tanyanya.

“Di rumah sakit,” jawab Suk Bong.

Shin Mi langsung panik dan menanyakan keadaannya. Tiba-tiba Suk Bong sudah berdiri di depannya. 


“Ayah sudah dipindahkan dari ruang ICU. Untunglah operasinya berjalan lancar,” ucap Shin Mi. Mereka duduk di bangku koridor rumah sakit

“Aku akan menjeguknya, tapi bisakah kau genggam tanganku dulu?” pinta Suk Bong. Shin Mi menoleh. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Suk Bong. Suk Bong yang memang sedang tertekan merasa mendapat dukungan moril.




“Begini sebentar saja.” ucapnya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Shin Mi dan mempererat genggaman tangannya.


 

Byung Eo sedang merayu Kang Sook dengan menyanyikan sebuah lagu untuknya. Kang Sook tak tertarik pada pria yang lebih muda darinya. Ia menyarankan mereka segera turun untuk makan malam. Byung Eo menggandeng tangan Kang Sook. Kang Sook langsung marah dan memukul tangan Byung Eo minta dilepaskan.


Suk Bong masuk ke kamar. Kang Sook cepat-cepat melepaskan diri dari Byung Eo. Kang Sook melihat wajah Suk Bong yang pucat. Ia menanyakan apakah Suk Bong sakit. Byung Eo menimpali bahwa tangannya yang lebih sakit dan menyodorkan tangannya minta Kang Sook mengobatinya. Kang Sook melihat gelang yang dipakai Byung Eo dan tekejut karena motifnya sama seperti yang ada di kalung milik Suk Bong. Byung Eo mengatakan bahwa gelang itu ia dapat dari ayahnya yang menyuruhnya merahasiakan hal ini. Suk Bong ikut terkejut. Ia menarik Byung Eo turun.

Di rumah bawah keluarga Park sedang makan malam dengan Byung Do. Suk Bong menghampirinya dan memperlihatkan gelang ditangan Byung Eo.

“Kau tahu tentang lambang itu?” tanyanya.
 Keluarga Park juga kaget saat tahu gelang itu memiliki motif yang sama dengan kalung Suk Bong.


“Kau tak tahu mengapa aku bisa menemukan kalungmu di tampat pemancingan yang begitu besar? Begitu banyak rumah mengapa aku memilih tinggal di kamarmu dan tak mau prgi dari sana?” ucap Byung Do membuat semuanya penasaran.

“Ahjussi, kau ini sebenarnya siapa?” tanya Suk Bong.

Byung Do diam sejenak. Suasana menjadi tegang. Kemudian ia membuka suaranya. “Saya…saya…ayahmu?” ucapnya.

Keluarga Park dan Suk Bong kaget mendengar pengakuan Byung Do.



“Tunggu…tunggu sebentar!” Ibu Kang Woo tampak berpikir. “Bukankah kau bilang waktu mempunyai Byung Eo kau baru berusia 20 tahun. Jadi waktu Suk Bong lahir kau masih berusia 15 tahun?”

Byung Eo tertawa. “Sudah kubilang jika berbohong itu ada batasannya.”

Byung Do tak berkutik ketahuan bohong. Padahal tadi ucapannya sangat menyakinkan. Ayah Kang Woo memarahinya. Suk Bong meremas bahu Byung Do dan menegaskan lagi siapa Byung Do sebenarnya. Byung Do masih menjawab bahwa ia ayahnya. Suk Bong berucap dengan sedih walaupun ia tahu Byung Do tengah menipunya dengan berpura-pura sebagai ayahnya itu lebih baik karena berarti ia masih memiliki seorang ayah. Tak peduli orang itu seperti apa asalkan ia masih hidup.

 

Ayah Kang Woo  marah dan mengusir Byung Do dan Byung Eo keluar. Mereka terpaksa tidur di luar karena tak mempunyai tempat tinggal.

Pagi buta, Suk Bong keluar rumah dengan membawa ransel. Ia melihat mereka tertidur depan rumah. Suk Bong membangunkan Byung Eo agar mengajak ayahnya pindah ke dalam. Lalu ia pergi.




Tae Hee di rumahnya sedang memikirkan Suk Bong. Ia juga tengah mengkhawatirkan Suk Bong yang tak ada kabar. Tae Kyung menghampirinya dan mengajaknya ke panti asuhan. Tae Hee langsung menolak ajakan adiknya. Ia malah ingin pergi menemui Suk Bong. Sekretaris Yoon masuk dan mencegahnya. Ia mengingatkan Tae Hee agar fokus ke acara pertunangannya saja dengan Woon Suk. 



 

Boo Kwi Ho menjenguk Lee Jong Heon di rumah sakit. Lee Jong Heon yang sedang makan mengaku tak berselera setelah kedatangan Boo Kwi Ho. Bo Kwi Ho melihat makanan Lee Jong Heon dengan penuh minat. Dan akhirnya ia yang menghabiskan makanan Lee Jong Heon dan berniat pindah ke rumah sakit karena makanan disana ternyata enak (wkwkwk…parah neh orang).


 

Suk Bong pergi ke tempat pemancingan. Ia masih berduka. Byung Do datang menghampirinya. Ia mengomentari kesedihan Suk Bong.



“Kau ini melihat wajah ayahmu saja belum pernah. Sejak lahir sampai sekarang sosok ayah buatmu sama sekali tak ada. Tak tahu wajahnya, tak tahu identitasnya. Ayah yang kau tak kenal sekarang sudah mati. Apa yang harus kau tangisi?”

Suk Bong diam saja mendengar ucapan Byung Do.

 

Shin Mi mendapat pesan dari Byung Do yang menyuruhnya pergi ke tempat pemancingan. Byung Do memanggil Shin Mi dengan sebutan Shoon Mi. Shin Mi langsung menatap galak pengurus rumah (dulu tuh sebenarnya Presdir mau memberi nama Shoon Mi pada anaknya karena terburu-buru membuat akte jadi salah ketik menjadi Shin Mi. Pengurus rumah ada disitu waktu ayahnya memberi tahu Shin Mi). 


 

Shin Mi buru-buru pergi ke tempat pemancingan. Ia menelepon Suk Bong yang masih disana. Ponsel Suk Bong disilence, jadi ia tak mendengar. Suk Bong masih besedih. Ia bangun dan berteriak menumpahkan kesediahannya. Akibatnya ia diomeli orang karena dianggap mengganggu.



Suk Bong melihat panggilan di layar HP-nya. Ia mengangkat telepon dari Shin Mi. Suara Shin Mi terdengar sedang ketakutan. Ia bilang ia sedang ada di area pemancingan juga, tapi ia tersesat dan sekarang yang ia lihat di sekelilingnya cuma pepohonan. Suk Bong malah mengomelinya kenapa berani datang kesana tengah malam. Shin Mi kesal ia menyuruh Suk Bong cepat mencarinya karena tempatnya berada sangat gelap.


 Tiba-tiba Shin Mi menjerit saat seorang pria menghampirinya. HP-nya terjatuh. Suk Bong panik mendengar jeritan Shin Mi dan tak ada sahutan lagi di seberang telepon. Ia segera berlari mencari Shin Mi. 


Suk Bong berteriak memangil Shin Mi. Ia melihat Shin Mi berjalan dengan seorang pria. Ia segera menarik tangan Shin Mi dan memarahi pria itu. Shin Mi meluruskan kesalahpahaman dengan mengatakan pria itu datang menolongnya dan menunjukkan jalan keluar. Suk Bong lega dan langsung memeluk Shin Mi.




Pria itu mengomentari mereka yang ia kira sepasang kekasih yang sedang berbaikan setelah bertengkar. Shin Mi marah dan mau repot-repot mengklarifikasi hal yang sebenarnya dan menyuruh pria itu meminta maaf. Suk Bong kesal karena kelakuan Shin Mi. Ia memilih pergi. Shin Mi mengejarnya.

“Kau marah?” tanyanya. Lalu ia menyuruh Suk Bong mengangkat tangannya.

“Angkat tanganmu? Cepat!” perintahnya. Suk Bong nurut. Ia merentangkan tangannya. Lalu Shin Mi masuk kedalam pelukannya. Suk Bong tersenyum. 

“Tutup tanganmu,” perintahnya lagi. Shin Mi juga tersenyum senang.





Mereka duduk berdua dan saling bergantian memandang. Suk Bong bangun dan membuka jaketnya lalu memakaikannya pada Shin Mi. 

“Kau datang kesini bukan untuk menangkap ikan, kan?” tanya Shin Mi.

“Direktur sendiri bagaimana?”

“Aku datang kesini untuk menangkap orang,” jawab Shin Mi. Suk Bong tersenyum mendengar candaan Shin Mi. Kemudian ia menghela nafas.



“Walaupun aku tak pernah bertemu dengan ayah, tapi ia tetap ayahku. Aku mengira selama ini aku mencari ayah karena hubungan darah, tapi sekarang sepertinya karena uang. Mungkin aku bukan mencari ayah, hanya mencari seorang pria kaya.” ucapnya.

“Bukan. Hanya saja ayah yang kau cari itu adalah orang kaya,” hibur Shin Mi. “Walaupun dia adalah orang seorang pengemis, jika dia adalah ayahmu, kau juga akan berusaha mencarinya seperti kau pernah berusaha menyelamatkan nyawaku. Ini baru namanya Choi Suk Bong yang ku kenal.” ucap Shin Mi sambil menoleh pada Suk Bong.

Lalu Shin Mi menawarkan bantuan untuk mencari informasi mengenai ayah Suk Bong. Suk bong bangun dan akan mengantar Shin Mi pulang. Shin Mi tak mau pulang. Ia malah minta menginap satu malam disana.

Suk Bong memasang tenda untuk mereka. Didalam Suk Bong menyuruh Shin Mi cepat tidur. Shin Mi protes dan minta Suk Bong menyanyikan lagu tidur untuknya.  Ia hendak merebahkan kepalanya di kaki Suk Bong, tapi secara bersamaan Suk Bong menggeser kakinya. Akibatnya kepala Shin Mi terantuk lutut Suk Bong. Shin Mi menjerit kesakitan sambil memegangi kepalanya. Dan memukul Suk Bong dengan kesal.



Shin Mi tidur di pangkuan Suk Bong yang menyanyikannya sebuah lagu. Suk Bong melihat Shin Mi sudah tertidur. Ia menggeser kakinya, tapi Shin Mi langsung membuka mata dan memandangnya galak. Suk Bong tampak kesal (wkwkwk…susah juga punya pacar yang juga bosnya).


 


Suk Bong mengeluh karena ia sudah satu jam bernyanyi untuknya dan Shin Mi belum juga tidur.

“Kau tahu tenggorokanku sampai kering,” sungut Suk Bong. “Aku tahu ini pasti karena usia sudah tua.”

Shin Mi bangun dan marah. Ia bilang dari dulu ia selalu dimanjakan oleh ibunya.   

 

Suk Bong kembali menyanyikan lagu untuk Shin Mi. Tapi kali ini dengan menggendong Shin Mi di punggungnya (bener2 nyusahin neh si bos). Ia melihat sepertinya Shin Mi sudah tertidur dan bertanya. Shin Mi langsung terbangun. Suk Bong benar-benar kesal. Shin Mi menyalahkannya kenapa memangilnya padahal tadi ia sudah mau tertidur.



“Sebenarnya ada yang ingin aku katakan.” ucap Suk Bong.

“Apa?” tanya Shin Mi.

“Tapi kau harus tenangkan hatimu. Jangan takut….” ucap Suk Bong membuat penasaran. “Direktur Lee Shin Mi, aku…aku…”

Shin Mi deg-degan dan menundukkan kepalanya.

“Aku sudah sangat lelah. Kau benar-benar sangat berat,” ucap Suk Bong lalu menurunkan Shin Mi. Shin Mi keki dan memukuli Suk Bong yang memegangi pinggangnya yang sakit. 




Tae Hee sedang memandangi tulisan tangan Woon Suk di bekas gips-nya. Tangannya sudah sembuh. Ia mau menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Tiba-tiba ia teringat gips pertamanya yang ada tulisan tangan Suk Bong. Ia ragu-ragu untuk membuangnya (Tae Hee neh kayaknya udah mulai suka deh sama Suk Bong). Sekretaris Yoon datang. Ia tahu belakangan ini Tae Hee sering memikirkan Suk Bong. Ia menyuruh Tae Hee segera masuk kerja agar membuatnya sibuk dan tak memikirkan Suk Bong lagi.


 

Tae Hee pergi ke rumah Suk Bong. Disana ia bertemu Byung Do yang sedang menjemur pakaian. Tae Hee menanayakan keberadaan Suk Bong. Byung Do malah menyuruh Tae Hee membantunya menjemur pakaian. Walaupun terpaksa Tae Hee menurutinya. Tiba-tiba ia menjerit saat tahu cucian yang diambilnya adalah celana dalam. Ia melemparnya ke muka Byung Do. Tae Hee terlihat geli. Akhirnya Byung Do memberitahunya (setelah  Tae Hee berjanji akan menjodohkannya dengan Sekretaris Yoon) bahwa tempat yang akan didatangi Suk Bong pasti makam ayahnya. Tae Hee senang karena ia sudah tahu alamat pemakaman itu.   




 

Pengurus rumah meminta maaf pada Shin Mi karena tidak kurang mengawasi Presdir sehingga Presdir pergi dengan diam-diam. Ia sama sekali tak tahu Presdir pergi kemana.


 

Presdir pergi ke makan Kang Chul Min. Ia meletakkan bunga di makam sahabatnya. Tiba-tiba ia merasakan sakit di dadanya dan hampir terjatuh. Dari arah belakang Suk Bong berlari menghampirinya dan menolongnya.


Lee Jong Heon mengajak Suk Bong bicara. Ia memulai pembicaraan dengan bertanya pasti Suk Bong heran mengapa dirinya tak pernah memberitahu mengenai ayahnya padahal ia sebenarnya tahu. Suk Bong mengangguk.



“Ayahmu pernah menjadi teman baikku,” beritahu Presdir. “Dia juga kekasih dari adik perempuanku yang sudah meninggal. Padahal adik perempuanku sudah punya calon suami. Adikku juga mencintai Chul Min. Mereka saling berkirim surat cinta dibelakang calon suaminya. Waktu Chul Min mengalami kecelakaan dan meninggal, dia ikut menyusulnya.”

“Maksud anda?”

“Dia bunuh diri,” jawab Presdir. “Chul Min memberi surat cinta pada adikku, tapi memberikan kalung itu pada ibumu. Sebenarnya dia juga sudah mempunyai calon istri, tapi masih berhubungan dengan adikku. Ditambah lagi ia melakukan hubungan satu malam dengan wanita lain. Bagaimana aku bisa menerima ini? Kau sekarang mengerti, kan mengapa sikapku seperti itu terhadapmu?”

Lalu Suk Bong meninggalkan Lee Jong Heon yang minta waktu sendirian. Dari jauh Tae Hee baru saja tiba.  Ia tak melihat Suk Bong yang baru saja pergi, hanya menemukan Lee Jong Heon disana.



Suk Bong mendapat telepon dari Shin Mi. Ia memberitahu bahwa ayahnya pergi tanpa pamit. Ia khawatir pada kesehatan ayahnya yang belum pulih. Suk Bong memberitahu bahwa Presdir ada di pemakaman. Shin Mi berniat menyusulnya.


   
 

Tae Hee masih berdiri ditempatnya saat Lee Jong Heon berbicara dengan makam Chul Min. Ia cukup jelas mendengar bahwa Lee Jong Heon lah penyebab kematian Chul Min pada saat kecelakaan. Tae Hee kaget mendengar hal itu. Ia menjatuhkan tasnya. Lee Jong Heon menoleh dan ia juga terkejut saat tahu ada orang lain yang mendengar ucapannya.
“Maksudmu kau penyebab kematian ayah Suk Bong?” tanya Tae Hee.



Suk Bong hendak menunggu Shin Mi datang kembali ke makam itu. Lee Jong Heon kembali terkejut saat melihat Suk Bong belum pergi. Ia memegangi dadanya yang sakit. Suk Bong mendekat.

“Presiden…” panggilnya. Lalu ia menyadari kehadiran Tae Hee disana. 


 

 

Thank’s to:

http://dewi-febriana.blogspot.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: