Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Tipikal warna warni pasar tradisional di Korea Selatan

pada 10 Januari 2011

Salah satu kegemaran saya adalah “bludusan” keluar masuk  pasar tradisional. Di Korea Selatan (Korsel) dan utamanya di Seoul, pasar tradisional memiliki rupa yang hampir seragam. Mungkin yang membedakan pasar satu dengan yang lain hanyalah luasan area. Kebersihan dan warna warni aneka barang jualan langsung menyergap mata dan mengundang rasa ingin tahu kita. Berikut ini saya abadikan beberapa gambar suasana pasar tidak jauh dari lokasi rumah saya, Jangwi Sijang (pasar Jangwi).

Hampir kebanyakan pasar tradisional di Korsel merupakan pasar tanpa atap dan tanpa pengelompokan berdasarkan kategori barang (los), namun konsep pasar tradisional dalam bangunan selasar (aula) sebagaimana ditemukan di Indonesia tentu saja ada. Pasar kecil yang saya biasa kunjungi merupakan pasar setingkat kecamatan. Di sana, para pedagang cukup menggelar dan mempertontonkan dagangannya di tepi kiri dan kanan sebuah lorong.


Lorong pasar nan bersih

Walau tidak sehiruk pikuk pasar tradisional di Indonesia, pasar kecil seperti ini tetap menjanjikan tamasya sosial-budaya yang tidak menjemukan. Terlebih, pasar-pasar di Korea tetap gemerlap hingga malam hari karena di waktu itulah orang Korea justru memiliki kesempatan lapang untuk berbelanja.

Berbelanja di pasar tradisional bukan berarti kita bisa menawar barang, nah, inilah yang unik dari pasar di Korea, harga sudah pasti dan diterakan pada sehelai kertas bertuliskan spidol pada barang tersebut. Berbeda dengan pasar tradisional di Indonesia yang memberikan ruang sebesar-besarnya untuk menentukan banyaknya barang yang ingin dibeli atau untuk tawar menawar, misalnya kita bisa membeli  cabai 500 rupiah saja sesuai dengan kebutuhan kita hari itu atau kita bisa menawar 1 ikat kangkung. Di Korea, sayur-mayur, buah-buahan, bumbu dapur, dan banyak kebutuhan memasak lainnya sudah dihitung dan diikat atau dikemas dalam kantung  sehingga hampir tidak mungkin kita membeli barang secara eceran. Mau tidak mau kita terpaksa membeli 1 ikat besar sawi seharga 2000 won walaupun kita tidak akan memasaknya semua, demikian pula terpaksa kita harus membayar 2000 won untuk satu kantung bawang putih kupasan sebanyak 25 biji. Saran saya, jika kiranya kita hanya membutuhkan sedikit saja, maka pergilah berbelanja bersama kawan sehingga nantinya bisa saling berbagi. Tak perlu belajar bahasa Korea untuk bisa berbelanja di pasar tradisional karena sudah saya sebutkan bahwa semua harga terdeskripsi dengan gamblang, jadi tinggal tunjuk dan bayar.


Aneka hasil laut yang dikeringkan

Demikian pula yang terjadi saat kita berbelanja buah-buahan, 10 butir jeruk jenis A sudah diletakkan dalam keranjang dan dihargai 2000 won. Menawar harga 2000 tersebut sudah tentu tidak mungkin, namun kita masih bisa membeli 5 jeruk jenis yang sama dengan uang 1000 won.  Sebenarnya, barang-barang yang dijual itu sudah dikelompokkan menurut mutu baik-buruknya dan untuk jenis maupun jumlah yang sama namun memiliki mutu yang lebih buruk, maka harganya bakal lebih rendah.


kios daging

Timbangan nyaris tidak digunakan dalam proses jual beli, bahkan ketika kita membeli aneka kacang-kacangan atau biji-bijian. Pada jenis barang ini, pedagang telah menyediakan alat takar ala Korea berupa kotak persegi dari kayu (seperti jaman dahulu penjual di Indonesia menggunakan kaleng bekas untuk menakar). Penggunaan timbangan akan lebih mudah ditemui di kios penjual daging. Oh ya, harga daging sapi lokal di Korea bisa dua kali lipat harga daging babi. Korea Selatan juga mengimpor daging sapi potong dari Amerika Serikat dan mereka menjualnya dengan harga lebih murah ketimbang daging sapi lokal demi melindungi usaha peternak lokal. Cerita soal harga, seringkali harga barang di pasar tradisional malah lebih mahal ketimbang barang yang sama di supermarket. Kita bisa memaklumi hal ini karena pedagang kecil seperti mereka harus menarik untung lebih besar dan nyatanya dengan keadaan demikian, daya tarik pasar tradisional masih tetap kuat.


Aneka buah-buahan musim gugur


Ragam hasil laut segar

Ketersediaan dan harga sayur mayur maupun buah-buahan di Korea dan mungkin di banyak negara empat musim senantiasa tergantung musim. Sudah bisa diduga, sayuran pada musim panas jauh lebih beragam dan lebih murah ketimbang musim dingin. Tapi terus terang, selama ini saya tidak terlalu berbahagia dengan ragam sayur-mayur di Korea, terlalu sedikit dan seringkali tidak memungkinkan untuk dimasak dengan gaya Indonesia.

Jangan berharap menemukan kunyit, cengkih, daun salam, serai, atau daun jeruk dalam koleksi bumbu masak karena semua itu tidak ditanam dan digunakan oleh manusia Korea. Alih-alih menemukan mereka, kita bakal menemukan aneka ranting-rantingan, kayu, dan beberapa akar-akaran sebagai bumbu masak.


Tahu dan tauco


Aneka alas kaki


Bantal, selimut, guling, dan perlengkapan tidur warna warni


Angkringan ala Korsel

Yang paling menyenangkan ketika plesiran ke pasar tradisional di Korea adalah menikmati ragam jajanannya. Penampilannya cukup bersih dan rata-rata mengenyangkan. Korea juga memiliki angkringan loh! Tapi angkringan model begini tidak menyediakan nasi kucing atau kopi tubruk. Cemilan yang disediakan umumnya meliputi, gorengan, kue tepung beras yang dimasak dalam kuah bumbu merah pedas (togpokki), rebusan tepung rasa ikan (odeng), sate ayam (loh ada sate ayam), usus babi yang diisi mie dari tepung beras (sunde), dan jeroan babi. Wah, ini sudah barang tentu menu yang tidak layak untuk kaum muslim hehehehe.

Selain semua bahan pangan, seperti biasa, pasar tradisional juga menjadi tempat berjualan benda-benda sandang, tetek bengek kesehatan tubuh dan kulit, dan tentu saja perangkat kecantikan.

Oh ya, jangan kaget jika menyaksikan gaya penjual Korea yang galak atau “nggugu karepe dewe” (dalam bahasa saya mereka tipe penjual yang deterministik hahahahha). Tapi perilaku ini nyaris jamak di pasar tradisional manapun kita kunjungi. bagaimana sih gaya deterministik yang mereka peragakan? Misalnya seperti ini, kita sedang asyik memilih dan menimang barang, ketika kita bertanya harga, tiba-tiba si penjual (yang kebanyakan didominasi oleh ibu-ibu) sudah memegang kantung plastik dan mengambil alih barang tersebut untuk segera dikemas sambil sekali-kali meneriakkan harga barang tersebut. Tak ayal, kita terpaksa harus segera membayar barang tersebut sebelum si ibu penjual menggerundel. Entah bagaimana kejadian selanjutnya jika kita menolak membayar dan meninggalkan si ibu tersebut, belum pernah saya melakukannya hehehehehe. Hal unik lainnya adalah perilaku seolah penjual itu raja, sebagai contoh kita sudah memutuskan barang yang hendak dibeli, tapi penjual malah meyakinkan kita bahwa barang yang kita pilih jelek dan dia sudah menyodorkan barang pilihannya sendiri, ealah……

Sumber: http://matainginbicara.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: