Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

Sinopsis Chuno (Slave Hunter) Episode 10

pada 18 Maret 2011

Sebelum cerita Daegil bertemu sama Keun nom , kakak Un Nyun, kita ke Song Tae Ha dulu.

Song Tae Ha dan Un Nyun dikepung oleh satu regu pasukan kerajaan . Dengan sedikit trik , Tae Ha berhasil melumpuhkan mereka. Ternyata masih ada satu orang pemanah mengincar mereka dari jauh, dan melepaskan panahnya ke Un Nyun. Tae Ha refleks melindungi Un Nyun dengan tangannya.


Lengan Tae Ha tertembus panah, pemanah itu pun akhirnya dilumpuhkan. Tae Ha mencabut panah itu dari lengannya, Un Nyun merawat sebentar lukanya, setelah itu mereka bergegas ke utara mengikuti jejak HanSeom.

Lee Dae Gil marah mengetahui bahwa bangsawan itu ternyata mantan budaknya Keun nom. Dia menerjang masuk ke rumah, dan menodongkan belatinya di leher Keun Nom. Dae Gil ingat benar keun nom membakar rumahnya dan menyebabkan ibu, dan ayahnya tewas. Keun nom lah yang menghancurkan hidupnya juga membawa Un Nyun pergi darinya. Dae Gil lalu menggoreskan belatinya di muka keun nom ditempat yang sama dia menorehkan bekas luka di Dae Gil. Dae Gil mengejek Keun nom menyamar menjadi bangsawan dengan menghilangkan cap budaknya.
Keun nom ingat dae gillah yang awalnya membuat Un Nyun jadi celaka. Gara-gara Dae Gil mengaku ingin hidup bersama Un Nyun di depan ayahnya, Un Nyun disekap.


Di luar pengawal Keun nom menyergap dan menawan Seol Hwa. Mereka membawanya masuk  dan menodongkan pedang ke leher Seol Hwa. Dae gil terpaksa keluar, dia maju perlahan, seol hwa takut dirnya akan dibunuh. Namun Dae gil dengan mudah melumpuhkan pengawal itu
Keunnom kembali bercerita, bahwa setelah Un nyun disekap dan menderita, dia menghadap ayah Dae gil dan memohon tuannya membebaskan Un Nyun.
“Ini adalah permohonan pertama dan terakhir dari darah dagingmu sendiri”, kata keun nom memberanikan diri. Keun nom ternyata anak dari ayah Daegil dengan seorang budak. Un nyun adalah adalah anak dari ibunya keun nom dengan budak yang lain. Keun nom berkata bahwa dia tidak benar-benar tidak mempunyai darah bangsawan sama sekali. (masa itu jika salah seorang dari orang tua adalah budak, anaknya otomatis menjadi budak juga)
Ayahnya marah karena Keunnom berani menyebutkan hubungan darah mereka. Dia mengancam akan segera menjual Un Nyun.

Malam itu Keun nom begitu marah, dia membakar rumah ayahnya sendiri, dia juga menebas dae gil saudaranya sendiri. Dae Gil tidak terlalu peduli ceritanya, dia menanyakan keberadaan Un Nyun.
“Kamu mencintai Un Nyun khan?”, kata Keun nom “Lepaskanlah dia, karena dia telah menikah”
Daegil kaget.
“Pasangannya adalah Jendral Song Tae Ha”, lanjut Keun Nom. Dae Gil terhenyak dan lemas. Dia ingat saat melemparkan belati ke arah wanita yang bersama Tae Ha. Tiba-tiba keun nom menusukkan belati di tangan dae gil ke perutnya. “Aaadik……ku”, keun nom menyebutkan kata -kata terakhirnya. Dae Gil tak menyangka Keun nom mati begitu cepat, dia tak sempat bertanya-tanya lebih jauh tentang Un Nyun.

Dae Gil terduduk lemas, Seol hwa yang mendengarnya ikut sedih dan bersimpati, dia memegang tangan Dae gil. Malam itu dia menemani Dae Gil. Dae Gil patah hati, dia juga mengatai Un Nyun bodoh
“Dari sekian banyak laki-laki mengapa dia harus memilih Song Tae Ha? seorang budak yang kabur”, kata dae gil sambil tertawa juga menangis


Un Nyun dan Tae ha beristirahat di sebuah gua. Dia merawat lagi tangan Song Tae ha yang terluka karena panah. Un Nyun bertanya tentang misi Song Tae Ha. Song Tae Ha menjelaskan misinya
“Apa jika pangeran kecil menjadi raja, kehidupan akan lebih baik?”
“Itu harus, paling tidak tidak akan seburuk sekarang”, kata Tae Ha optimis.
Un Nyun terpikir untuk melepaskan Tae ha dan membiarkannya menjalankan misi besarnya. Tapi Tae ha mengulurkan tangannya kepada Un Nyun. Dia ingin Un Nyun tetap di sisinya.

Hanseom, pangeran kecil dan dayangnya juga beristirahat di sebuah gua. Hanseom lalu menjelaskan pada dayang pengasuh bahwa dia sebenarnya mau menyelamatkan pangeran kecil. Dia bukan orang yg suka mengambil keuntungan apalagi mengkhianati rekan dan atasannya sendiri.


Hanseom bercerita bahwa jendralnya memintanya pura-pura berkhianat agar dia bisa selamat keluar dari penjara dan menjaga pangeran.
Han seom sudah lama menyukai dayang itu. dia ingin memboyong dayang itu bersamanya. Mereka bertiga lalu kembali berjalan ke utara. Han seom dengan bahagia berbincang-bincang dengan dayang yang disukainya. Dia lalu bertanya nama dayang itu (udah lama naksir di P . Jeju tapi blom tau namanya hehe). Dayang iu malu-malu menjawabnya.


Tiba-tiba dari belakang melesat sebuah kayu tajam dan menembus dada dayang itu. Hwang chul wong sudah mengikuti mereka. Hanseom syok. Di akhir ajalnya ddayang itu ingin bicara
“Namaku jang…pil… soon”. Dayang iu pun meninggal, hanseom menangis tapi dia harus segera lari membawa pangeran kecil. (kasian banget liatnya)

Hanseom terus berusaha lari sambil menggendong pangeran kecil. Hwang chul woong tak lama berhasil menyusulnya juga. Mereka dulu di pasukan yang sama, pangkat hanseom masih di bawah chul woong. Mereka bertarung, Hanseom kewalahan karena dia sambil harus menggendong/melindungi pangeran kecil dari tebasan pedang chul woong. (pangeran kecil cakep banget ya).


Tangan hanseom terluka karena harus menahan edang dengan tangannya, kakinya juga terkena sabetan pedang. Dia tahu sulit menandingi chul woong, hanseom kembali lari menggendong pangeran.

Song Tae Ha sadar anak buahnya dalam bahaya, dia berjalan terburu-buru, naik turun bukit. Un Nyun kewalahan dan kehabisan nafas. Un Nyun membiarkan song tae ha pergi duluan untuk melindungi pangeran. Song Tae ha bergegas lari.

Hwang Chul Woong kembali berhasil mengejar Hanseom. Hanseom sekuat tenaga mengimbanginya, tapi chul woong masih terlalu tangguh. Saat genting, datang Song Tae Ha berteriak.

Tae Ha meminta Hanseom pergi dulu membawa pangeran. Tae Ha tidak membawa goloknya dia meminjam pedang Hanseom untuk melawan Chul woong.
Tae Ha masih menganggap chul woong rekannya, tapi chul woong hanya menganggap tae Ha hanya seka memerintahnya. Pertarungan berlangsung seru juga indah dipandang, mereka bertarung di tepi laut, di bawah batu karang yang terjal.


Sabetan pedang meraka berkali-kali membelah air di bawah mereka. Song Tae Ha masih unggul dari Chul woong, perut chul woong terkena pedangnya. Lalu Chul woong pun tidak bisa berkutik. Tapi tae ha
tidak melukainya, dia hanya meminta chul woong tak lagi mengejarnya. Song tae Ha kemudian lari menyusul Hanseom. Chul woong berteriak memanggil Tae Ha dengan kecewa, dia tidak rela Tae Ha tidak bertarung bersamanya sampai akhir. (chul woong juga dilema melawan bekas rekan2nya, dia terpaksa, mungkin bertarung sampai mati dia harap bisa menghilangkan bebannya)

Un Nyun berjalan sekuatnya ke arah pantai, di tengah jalan dia menemukan golok Tae Ha di sana. Dia mengambilnya. Tae Ha pernah berkata bahwa laki-laki yang meninggalkan senjatanya di sisi seseorang berarti dia akan datang lagi ke sana. Un Nyun lalu duduk menunggu Tae Ha di sana.

Song Tae Ha, hanseom, tiba di perahu mereka. Tapi song tae ha belum mau pergi.
“Aku harus membawa seseorang bersamaku. Jika aku tidak datang tepat pada waktunya, kau pergilah lebih dulu”


Tae Ha meminta maaf kepada hanseom dan pangeran, dia kembali mencari Un Nyun.

Dae Gil masih terluka dan patah hati, dia minum dan pandangannya kosong. Seol Hwa tidak bisa lagi menghibur atau memnyuruhnya berhenti minum.


Seol Hwa membiarkan Dae Gil minum banyak. Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan berjalan kaki. Pandangan Dae Gil masih kosong, dia juga berjalan terhuyung-huyung karena mabuk. SEol hwa berusaha menghiburnya, menyanyi dan menari tapi Dae Gil tak bereaksi apapun. Dalam keadaan mabuk Dae Gil berhalusinasi melihat bayangan Un Nyun, un nyun menoleh kepadanya, tapi dia berjalan menjauh. Dae Gil berjalan maju mengikuti Un Nyun.

Tae ha kembali mencari Un Nyun, dia melihat Un Nyun sedang duduk menantinya sambil memegang goloknya.
“Kamu menungguku?”, tanya Tae Ha. Un Nyun mengangguk membenarkan. Tae Ha terharu, dia memeluk Un Nyun dan kemudian menciumnya.



Dae Gil masih melihat bayangan Un Nyun. Wajahn Un Nyun terlihat prihatin melihat Dae Gil. Un Nyun lalu berjalan pergi, bayangan Un Nyun pun semakin lama semakin pudar. Dae Gil menangis…


Dia menggapai tangannya ke arah Un Nyun..tapi bayangan itu pun malah menghilang…

Cre:http://nana-catatanku.blogspot.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: