Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

[News] Warisan Budaya UNESCO di Korea

pada 25 Mei 2011

Warisan Dunia

UNESCO telah mengakui nilai khas dan karakter khusus budaya Korea dengan menempatkan
sejumlah warisan budaya Korea dalam Daftar Warisan Dunia. Pada tahun 1995, UNESCO 
menambahkan Kuil Bulguksa dan Gua Seokguram dalam daftar tersebut, keduanya terletak 
di Gyeongju, di Propinsi

Gyeongsangbuk-do; balok-balok kayu Tripitaka Koreana untuk menuliskan kitab-kitab 
suci agama Budha dan Jangggyeongpanjeon (ruang-ruang besar untuk menyimpan balok – 
balok kayu tersebut) di lantai dasar Kuil Haeinsa di Propinsi Gyeongsangnam-do; dan 
Jongmyo, Tempat Ibadah Kerajaan untuk menghormati para leluhur di Seoul.

Istana Changdeokgung di Seoul dan Benteng Hwaseong di Suwon dimasukkan dalam 
Daftar Warisan Dunia pada tahun 1997. Pada tahun 2000, dua warisan budaya Korea 
kembali ditambahkan dalam daftar tersebut: situs-situs dolmen di Gochang, 
Hwasun dan Ganghwado, serta Tempat Bersejarah Gyeongju, 
ibukota Kerajaan Silla kuno (57 SM – 935 M), di mana sejumlah besar warisan budaya 
dan tempat bersejarah dipelihara dengan sangat baik. Pada tahun 2007, 
UNESCO menyebut pulau vulkanik Jejudo dan pipa-pipa lavanya sebagai bagian alam 
semesta yang memiliki keindahan luar biasa yang menjadi saksi mengenai sejarah planet kita.

Kuil Bulguksa dan Gua Seokguram dibangun selama kurun waktu 23 tahun, yang dimulai 
pada tahun 751 pada masa Kerajaan Silla oleh Perdana Menteri Kim Dae-seong ( 701 – 774 ). 
Disebutkan bahwa Kim dilahirkan kembali sebagai anak seorang perdana menteri 
karena sebelumnya ia adalah anak saleh dari seorang janda miskin. 
Ia sendiri menjadi perdana menteri dan berhenti dari jabatannya pada tahun 750 untuk 
mengawasi pembangunan Bulguksa yang didirikan untuk menghormati orang-tua dari 
kehidupannya sekarang dan Seokguram untuk menghormati orang-tua dari kehidupannya sebelumnya.


Pintu masuk yang megah dari Kuil Bulguksa

Bulguksa digunakan sebagai tempat ibadah umum, sedangkan Seokguram digunakan 
untuk tempat ibadah pribadi raja.

Dibangun pada serangkaian teras dari batu, Bulguksa menyatu menjadi satu kesatuan 
organik dengan dataran berbatu-batu di kaki bukit Tohamsan yang berhutan lebat. 
Kuil ini menjadi tempat bagi Seokgatap (Pagoda dari patung Budha yang Bersejarah) dan 
Dabotap (Pagoda dari Warisan-warisan Berjumlah Banyak), 
serta Cheongungyo (Jembatan Awan Biru), Baegungyo (Jembatan Awan Putih) dan 
Chillbogyo (Jembatan Tujuh Harta Karun) – tiga tangga yang disebut jembatan karena secara 
simbolis menjadi penghubung antara dunia sekuler dengan dunia spiritual Budha.

Terdapat banyak warisan budaya di dalam maupun di luar lantai dasar kuil, termasuk patung – 
patung Budha dengan perunggu dengan lapisan berkilau. Yang mendominasi halaman 
Daeungjeon (Balairung Utama) adalah dua dari pagoda yang paling indah di Korea Seokgatap 
yang tingginya 8,3 meter dan Dabotap dengan tinggi 10,5 meter dibangun sekitar tahun 756. 
Ciri utama Seokgatap adalah bahwa pagoda ini memiliki kesederhanaan yang menandai sifat 
maskulin namun juga keagungan kaum bangsawan yang menjadi lambang proses kenaikan 
menuju tingkat spiritual yang lebih tinggi yang bisa dicapai melalui ajaran-ajaran Sakyamuni, 
sedangkan Dabotap yang sangat dekoratif lebih memiliki sifat feminin dan 
melambangkan kompleksitas dunia.


Ruangan bundar utama dari Gua Seokguram

Telah mengalami proses renovasi selama Gua Seokguram telah mengalami proses 
renovasi selama beberapa tahun terakhir. Gua ini adalah gua batu buatan yang menampilkan 
sebuah patung Budha besar dalam posisi duduk yang dikelilingi oleh 38 Bodhisattva. 
Seperti halnya bangunan-bangunan di sekitar Bulguksa, gua ini juga dibuat dari batu granit. 

Seokguram terdiri dari satu ruang luar berbentuk persegi panjang dan satu ruang dalam 
berbentuk bulat, dengan langit-langit berbentuk kubah, dan kedua ruang ini 
dihubungkan oleh sebuah lorong. Dipahat dari satu balok batu granit, patung Budha paling 
utama setinggi 3,5 meter duduk dengan kaki terlipat di atas sebuah tahta berbentuk bunga 
teratai dan menghadap ke timur, dengan mata tertutup karena meditasi yang sangat teduh, 
dengan wajah tenang yang menunjukkan pengertian akan segala sesuatu. 
Seokguram melambangkan gabungan dari pengetahuan yang dimiliki oleh Kerajaan Silla 
mengenai arsitektur, matematika, geometri, fisika, agama dan seni menjadi satu kesatuan 
organik dan merupakan salah satu mahakarya agama Budha di Korea.

Janggyeongpanjeon, dua ruang penyimpanan di Kuil Haeinsa, merupakan tempat 
penyimpanan Tripitaka Koreana, yang terdiri dari 81.258 balok kayu dengan huruf cetakan, 
yang merupakan kitab suci agama Budha versi Dinasti Goryeo (918 – 1392). 
Dengan lebih dari 52 juta huruf-huruf Cina yang dicetak secara akurat, kitab ini 
merupakan kitab suci agama Budha yang tertua dan terlengkap yang ada di dunia saat ini.

  
Balok-balok kayu Tripitaka Koreana


Tempat Ibadah Jongmyo

Jongmyo, Tempat Ibadah Kerajaan untuk menghormati para leluhur, didirikan pada tahun 
1395, tiga tahun sejak berdirinya Dinasti Joseon (1392 – 1910). Kuil ini menjadi tempat 
penyimpanan catatan-catatan kehidupan (the spirit tablets) para raja dan ratu dinasti ini. 
Tatacara upacara peringatan yang rumit, beserta musik yang menyertainya, 
disebut Jongmyojeryeak, diciptakan dengan tujuan untuk menjadi Mahakarya Warisan Budaya 
Manusia Berbentuk Lisan dan Non-Fisik (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage 
of Humanity). Upacara pertunjukan ritual peringatan tradisional Joseon dilaksanakan pada 
hari Minggu pertama bulan Mei di kuil Jongmyo.

Istana Changdeokgung dibangun untuk pertama kalinya pada tahun 1405 dan dibangun 
kembali setelah hancur terbakar pada tahun 1592 dalam masa penjajahan Jepang. 
Istana ini sendiri merupakan sebuah mahakarya, namun yang terutama menonjol adalah 
taman di bagian belakang (Huwon), yang disebut juga Taman Rahasia (Biwon), 
yang diakui secara luas karena taman-tamannya yang ditata dengan indah dan kreatif. 
Taman ini mencakup hampir tiga

perempat dari 405.636 meter persegi luas istana, dan dibuat dengan citarasa tinggi, 
dengan unsur-unsur utama taman tradisional Korea: paviliun dan ruang-ruang besar 
yang indah, kolam teratai, batu-batu berbentuk unik, jembatan-jembatan batu, 
tangga-tangga, serta kolam dan mata air yang tersebar di antara hutan-hutan yang lebat.

Benteng Hwaseong dibangun selama 34 bulan di Suwon, bagian selatan Seoul, 
pada tahun 1796. Benteng ini menggabungkan teknologi konstruksi paling mutakhir, 
teoriteori pertahanan militer, serta prinsip-prinsip estetika demi menciptakan benteng 
perhananan militer paling maju yang pernah dimiliki oleh Korea. 
Benteng ini terbentang pada dataran  bergunung-gunung, mengelilingi sebuah pusat perkotaan,  
melalui dataran tanah datar serta mencakup empat pintu gerbang utama dan 
beberapa pintu gerbang lain yang lebih kecil, pospos komando, menara-menara pengawas, 
temboktembok rendah di atas benteng yang digunakan untuk menyerang musuh (battlements), 
pos-pos penjagaan, serta bunker-bunker. 
Sebagian besar benteng terluar seluas 5.743 meter masih berdiri hingga kini.


Istana Changdeokgung 


Benteng Hwaseong di Suwon

Gyeongju dan situs-situs dolmen di daerah-daerah setingkat kabupaten Gochang, 
Jeollabuk-do; Hwasun, Jeollanam; dan Ganghwa, Gyeonggi-do, telah ditambahkan 
dalam Daftar Warisan Dunia pada tahun 2000.

Gyeongju merupakan ibukota Kerajaan Silla selama seribu tahun, 
dan wilayah ini dikenal sebagai “”Museum Tanpa Dinding”” karena tempat ini 
kaya dengan benda-benda bersejarah. Jeju dan Pipa-pipa Lava mencakup 
tiga tempat yang memiliki luas 18.846 hektar. 
Tempat pertama adalah Geomunoreum yang dikenal sebagai sistem gua 
dengan pipa lava yang paling indah di dunia, dengan langit-langit dan lantai 
karbonat yang beraneka warna, serta dinding lava berwarna gelap; 
Seongsan Ichulbong, yakni kawah menakjubkan berbentuk seperti benteng 
yang muncul ke atas permukaan laut; serta Hallasan, gunung tertinggi di 
Korea Selatan, dengan air terjun, formasi batuan berbagai bentuk, 
serta sebuah danau kawah kecil.


Makam-makam dari Dinasti Silla di Gyeongju


Dolmen


Hallasan dan pipa lava di Jeju-do

Situs-situs dengan keindahan estetika yang mengagumkan ini juga mejadi saksi dari 
sejarah planet kita, bagianbagian beserta proses-prosesnya yang membentuk dunia kita.

Cre:

http://idn.mofat.go.kr/languages/as/idn/about/budaya/unesco/index.jsp

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: