Avrilend's Blog

FOR FUN ONLY

[Fakta] Akses Internet Korea Selatan Tercepat Di Dunia Selama Ini

pada 5 Juni 2011

 

Korea Selatan patut dan pantas disebut surga duniawi saat ini bagi pengguna internet. Bagaimana tidak, kecepatan akses di sana jauh di atas kecepatan rata-rata di seluruh dunia selama ini.

Hasil analisis yang dilakukan Akamai mencatat, rata-rata kecepatan internet global 1,7 Megabits per detik (Mbps).

 

 

Sejumlah negara memang melampaui kecepatan itu. Namun, kota yang memiliki kecepatan akses paling cepat di dunia adalah Masan, Korea Selatan. Rata-rata 12 Mbps dan pengguna bisa mengunduh hingga 33 Mbps.
Tentu saja koneksi internet  Korea Selatan mengalahkan koneksi internet Amerika Serikat.

Bahkan, Diperkirakan akhir tahun 2012, semua rumah Korea Selatan mendapatkan akses 1Gb/detik.

Pernyataan yang dilaporkan New York Times, angka itu menjadi 10 kali lipat peningkatan standar nasional Korea Selatan serta 200 kali lebih cepat dari rata-rata koneksi rumah tangga di Amerika Serikat.

“100 Mbps tersedia di Korsel, namun secara harga tidak bisa dijangkau oleh publik. Ma’lum, ongkosnya mencapai ratusan dolar Amerika Serikat per bulan,” kata David Belson, Head of Market Intelligence Akamai.

Laporan Akamai ini sekaligus menunjukkan bagaimana jaringan mobile juga menuntut permintaan kecepatan data yang lebih besar.

Sekitar 83 dari 109 provider menawarkan kecepatan lebih besar dari 22 Mbps, 33 menawarkan 5 Mbps dan 6 provider 10 Mbps. Rata-rata kecepatan mobile global bervariasi, antara 105 Kbps hingga 7,2 Mbps. Uniknya variasi kecepatan ini juga bisa ditemui di Slovakia.

Negara-negara di Asia mendominasi kota-kota dengan akses internet tercepat di dunia. Dalam pemeringkatan dua puluh besar, didominasi oleh kota-kota di Korea Selatan dan Jepang.

Berikut daftar peringkat kecepatan akses internet:

1.   Korea Selatan 12 Mbps
2.   Hong Kong 9 Mbps
3.   Jepang 7.8 Mbps
4.   Romania 6.3 Mbps
5.   Latvia 6.3 Mbps
6.   Swedia 6.1 Mbps
7.   Belanda 5.9 Mbps
8.   Ceko 5.4 Mbps
9.   Denmark 5.3 Mbps
10. Swiss 5.2 Mbps. 

50 Miliar Perangkat Akan Terhubung Dengan Internet

Perusahaan penyedia infrasturktur telekomunikasi Ericsson, memprediksi pada tahun 2020 mendatang akan ada 50 miliar perangkat yang terhubung internet.

Tentu saja akan ada beberapa tahap dan landasan untuk menuju ke arah sana.

“Hingga 10 tahun mendatang akan ada 3 tahapan pemanfa’atan internet di dunia, yaitu, first wave network consumer electronics, lalu network industry, dan tahap ketiga adalah network society,” terang Vice President PT Ericsson Indonesia, Hardayana Syintawati, kepada sejumlah wartawan, di Jakarta, hari Rabu (23/2/2011).

Dijelaskan olehnya, yang dimaksud dengan network consumer electronics adalah dimana produk-produk konsumen seperti ponsel, laptop dan tablet mulai disisipi dengan sim card agar terhubung dengan internet.

Sedangkan tahapan kedua yaitu network industry, dimana semua perangkat di semua lini industri akan terhubung dengan internet, agar semakin mempermudah komunikasi antar industri.

Ana, panggilan akrabnya, mencontohkan rumah sakit di kawasan pinggiran akan terhubung dengan rumah sakit di pusat kota yang jauh lengkap dengan jaringan internet. Ini tentu saja akan memudahkan layanan kesehatan antar kawasan tersebut.

“Tahapan ketiga yaitu network society maksudnya adalah semua lini di kehidupan akan terhubung dengan internet. Mulai dari hal yang terkecil hingga yang terbesar,” tukasnya.

Sementara itu, untuk menuju 50 miliar perangkat terhubung dibutuhkan 3 landasan. Dikatakan Anna, ketiga landasan itu adalah, mobility, broadband dan cloud. Mobility maksudnya pengguna bisa mengakses dimana saja, broadband artinya semua orang bisa mengakses, dan cloud memungkin semua perangkat terhubung.

“Untuk mobility, di masa depan akan ada tren yang disebut dengan heterogenous network. Maksudnya, semua jaringan akan terhubung dengan banyak teknologi. Misalnya sekarang teknologinya adalah macro, bisa jadi kemudian micro digabungkan dengan pico,” tandasnya.

Untuk broadband, Ericsson mempunyai beberapa produk di antaranya untuk menyediakan layanan Voice over LTE. Sedangkan untuk cloud, perusahaan asal Swedia itu telah menjalin kerjasama dengan Akamai untuk menghadirkan cloud mobile.

Sejarah Singkat Perkembangan Rekayasa Perangkat Lunak

Masya Allah, dunia rekayasa perangkat lunak teknologi memang telah berkembang sejak pertama kali diciptakan pada tahun 1940-an hingga kini. Fokus utama pengembangannya adalah untuk mengembangkan praktek dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas para praktisi pengembang perangkat lunak dan kualitas aplikasi yang dapat digunakan oleh pemakai.

Tahun 1945 – 1965: Awal

Istilah software engineering digunakan pertama kali pada akhir tahun 1950-an dan awal 1960-an. Saat itu, masih terdapat debat tajam mengenai aspek engineering dari pengembangan perangkat lunak.

Pada tahun 1968 dan 1969, komite sains NATO mensponsori dua konferensi tentang rekayasa perangkat lunak, yang memberikan dampak kuat terhadap perkembangan rekayasa perangkat lunak. Banyak yang menganggap bahwa dua konferensi inilah yang menandai awal resmi profesi rekayasa perangkat lunak.

Tahun 1965 – 1985: Krisis perangkat lunak

Pada tahun 1960-an hingga 1980-an, banyak masalah yang ditemukan para praktisi pengembangan perangkat lunak. Banyak projek yang gagal, hingga masa ini disebut sebagai krisis perangkat lunak. Kasus kegagalan pengembangan perangkat lunak terjadi mulai dari projek yang melebihi anggaran, hingga kasus yang mengakibatkan kerusakan fisik dan kematian. Salah satu kasus yang terkenal antara lain meledaknya roket Ariane akibat kegagalan perangkat lunak.

Tahun 1985 – sampai sekarang: Tidak ada senjata pamungkas

Selama bertahun-tahun, para peneliti memfokuskan usahanya untuk menemukan teknik jitu untuk memecahkan masalah krisis perangkat lunak.

Berbagai teknik, metode, alat, proses diciptakan dan diklaim sebagai senjata pamungkas untuk memecahkan kasus ini. Mulai dari pemrograman terstruktur, pemrograman berorientasi object, perangkat pembantu pengembangan perangkat lunak (CASE tools), berbagai standar, UML hingga metode formal diagung-agungkan sebagai senjata pamungkas untuk menghasilkan software yang benar, sesuai anggaran dan tepat waktu.

Pada tahun 1987, Fred Brooks menulis artikel No Silver Bullet, yang berproposisi bahwa tidak ada satu teknologi atau praktek yang sanggup mencapai 10 kali lipat perbaikan dalam produktivitas pengembangan perangkat lunak dalam tempo 10 tahun.

Sebagian berpendapat, no silver bullet berarti profesi rekayasa perangkat lunak dianggap telah gagal. Namun sebagian yang lain justru beranggapan, hal ini menandakan bahwa bidang profesi rekayasa perangkat lunak telah cukup matang, karena dalam bidang profesi lainnya pun, tidak ada teknik pamungkas yang dapat digunakan dalam berbagai kondisi. — (ar/km/inl/m3©201102)


Sumber :ASMHNY-NyslaBlog

 

http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=4252&type=14

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: